Kejarlah Deddy untuk Black Comedy Ketika sebuah negeri taat menerapkan hukum, korban pertama adalah keluarga para konglomerat. Tribute tak resmi untuk film nasional. |
KETIKA
Sutradara: Deddy Mizwar
Skenario: Musfar Yasin
Pemain: Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Senandung Nacita, Lucky Hakim
Produksi: Demi Gisela Citra Sinema
DEDDY Mizwar tak lelah-lelahnya membuat kita ikhlas menertawai borok sendiri. Entah lewat perannya sebagai Nagabonar, Mat Angin, atau Haji Husin di sinetron Lorong Waktu. Kali ini ia menjadi Tajir Saldono, seorang konglomerat (Arab, tajir = kaya) dengan kas yang cekak (saldonya "nol" alias bangkrut). Tapi lagaknya itu, alamak, bak pengusaha sukses dari negeri jiran yang selalu invest sana, invest sini tiada henti.
Tajir berambisi mengembangkan usaha ke wilayah-wilayah yang tak dikuasainya dengan baik: ekspor pasir laut, bisnis properti, dan sebagainya, dan sebagainya. Tak satu pun yang berhasil. Bingung karena tak ada jalan keluar dari belitan utang, ia memutuskan bunuh diri dengan meloncat dari pucuk gedung jangkungsebuah tren yang dilakukan para konglomerat lainnya. Sebuah potret dalam kebobrokan ekonomi Indonesia, bukan?
Nanti dulu, Saudara. Negeri tempat Tajir tinggal itu bukan Indonesia yang kita kenal, meski semua penduduknya berkulit sawo matang. Negeri itu bukan Nusantara yang kita tahu, meski macet, riuh, dan debu bersatu siang-malam terus bersipongang. Negara tempat Tajir tinggal lebih pantas disebut utopia, wilayah ketika hukum tegak dan aparat tak mempan disuap. Tempat di mana para perokok lebih suka memasukkan puntung ke saku baju ketimbang membuangnya di sembarang tempat.
Hanya sejengkal sebelum melompat, Tajir berbalik niat. Ia ingat istri dan putri semata wayangnya, Mutiara. Tajir memilih pulang, dan Deddy memilih mengendurkan cerita. Deddy, sebagai sutradara, memindahkan fokus pada sub-plot yang memotret hubungan cinta-tapi-benci Mutiara (Senandung Nacita) dengan Ical (Lucky Hakim), teman sekampus Mutiara yang disuruh ibunya, seorang janda miskin, untuk memacari sang gadis agar kecipratan kaya. Potret lain lagi dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Persis di titik inilah cerita semakin menteror penonton untuk terus tertawa, dengan rasa pedih yang melecut-lecut. Tajir yang tak berhasil mendapat talangan danatentu saja karena di negeri itu tak ada lembaga budiman semacam BPPNharus keluar dari rumahnya yang disita negara. Tajir menyambung hidup dengan sangat dramatis, menjadi sopir bajaj. Sedangkan istrinya (Lydia Kandou) mengganti stick golf di tangannya dengan ulekan gado-gado di sebuah warung makan.
Ibu Ical, yang belakangan tahu Tajir jatuh melarat, kini tak rela anaknya pacaran dengan Mutiara. Ia lebih suka anaknya mengurusi sapi perah yang mereka miliki. Gayung bersambut. Mutiara pun memutuskan Ical untuk menjadi pacar Boy, yang selalu mentraktirnya di restoran mahal. Tapi Ical tak pernah putus harapan. Ia selalu percaya pada keajaiban cinta. "Si Boy itu cuma anak orang kaya. Yang kaya itu aku. Sapiku empat ekor, tahun depan kalau beranak jadi delapan." Nah!
Bila sutradara itu adalah seorang auteur, Deddy tak disangsikan lagi adalah juga seorang local genius. Aktingnya mumpuni. Dari sisi ini, Ketika menyuguhkan ensambel akting yang sulit ditandingi oleh film Indonesia kontemporer selain Rindu Kami PadaMu (Garin Nugroho). Selain adu akting Deddy-Lydia yang masih saja memikat (masih ingat saat mereka "belum menikah" dalam Kejarlah Daku Kau Kutangkap?), penampilan Dorman Borisman-Dewi Yull (sebagai keluarga pembantu di rumah Tajir), Didi Petet, Miing Bagito, dan Rano Karno sebagai sopir taksi, ikut memperkuat roh film ini.
Dengan "jail" dan begitu terampil, Deddy membawa kenangan penggemar film Indonesia ke masa dua dekade lampau ketika Rano adalah Giyon, sarjana filsafat yang lebih suka menjalani profesi sebagai sopir taksi (Taksi, 1989). Kekenesan kreatif Deddy yang lain adalah dengan menampilkan ulang adegan fenomenal Nagabonar saat menggendong ibunya dalam bentuk Tajir menggendong anaknya yang tertidur pulas. Ketika menjadi semacam tribute tak resmi untuk film nasional.
Satu-satunya problem film ini adalah soal konsistensi. Tampaknya Deddy terlalu ingin menjadikan Ketika sebagai film keluarga. Seandainya ia tetap konsisten untuk membuat sebuah black comedyterhadap kehidupan seorang pengusaha dan morat-maritnya tatanan sosial sebuah negeri yang justru mengklaim diri baru saja menjalani reformasifilm ini akan menjadi oase paling sempurna untuk istirah sejenak; untuk melihat bayangan diri bangsa yang penuh luka, dengan senyum tetap tersungging di bibir.
Akmal Nasery Basral
|