Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXIII/03 - 9 Januari 2005
   
Buku

Hannah Arendt di Mata Oneng

Di sela-sela syuting Bajaj Bajuri, Rieke Diah Pitaloka merampungkan tesis magister filsafat yang kemudian dibukukan.

Tahun 1961, Adolf Eichmann, mantan letnan kolonel SS Nazi, diajukan ke pengadilan Israel sebagai penjahat perang. Dialah petinggi yang bertanggung jawab secara operasional mendeportasi 6 juta Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi seluruh Eropa, termasuk Auschwitz. Setelah 15 tahun intelijen Israel Mossad memburunya, akhirnya ia tertangkap di Buenos Aries, Argentina.

Untuk pertama kalinya, atas perintah Perdana Menteri Israel waktu itu David Ben Gurion, sebuah pengadilan disiarkan langsung di televisi. Di ruang sidang, tempat duduk Eichmann dilindungi dengan boks berdinding kaca tahan peluru. Itu untuk mencegah adanya pembunuhan terhadapnya sebelum persidangan kelar.

Selama persidangan yang memakan waktu 16 minggu itu hadir seorang pemikir politik asal Jerman keturunan Yahudi, Hannah Arendt (meninggal 1975). Ia cermat mengikuti jalannya persidangan, lalu mengirim seri tulisan untuk majalah The New Yorker. Arendt termasuk ilmuwan Jerman yang lari ke Amerika saat Hitler berkuasa. Kumpulan artikel itu kemudian dibukukan dalam Eichmann in Jerusalem: A Report on The Banality of Evil. Buku yang cukup kontro-versial dalam dunia akademis politik dan filsafat, karena memberikan perspektif lain tentang kekerasan.

Agaknya itu yang menantang artis Rieke Diah Pitaloka saat menjadi mahasiswa pascasarjana Fakultas Filsafat Universitas Indonesia. Bila dalam beberapa bulan terakhir ini ia menenteng-nenteng buku Eichmann dan buku-buku Arendt penting lainnya seperti The Human Condition termasuk saat syuting Bajaj Bajuri, itu bukan karena dia ingin mencari-cari kutipan yang bikin Emak, Ucup, Mpok Hindun, Mpok Minah bingung. Tapi untuk bahan tesis studi magisternya.

Hasilnya, buku setebal 210 halaman yang diterbitkan oleh Galang Press, Kekerasan Negara, Menular ke Masyarakat. Cukup menarik. Dari buku ini yang segera tersaji ke kita bukan gambaran Oneng yang lugu, tel-mi (telat mikir), sulit memahami hal-hal rumit. Tapi Oneng yang memiliki minat terhadap refleksi politik. ”Saya sampai jerawatan,” kata Rieke sembari tertawa. Ia berkisah, selama lebih dari empat bulan di sela-sela jadwal syuting Bajaj Bajuri tiap hari, di bilangan Wisma Mampang, ia menyempatkan diri membaca dan menulis di laptopnya. ”Para kru sudah seperti keluarga, mereka memberi saya ruang,” tuturnya.

Rieke terutama mengangkat konsep Arendt, banality of evil, banalitas kejahatan. Setelah mencermati secara mendalam—jawaban-jawaban, ekspresi, tingkah laku Eichmann—Arendt menunjukkan bahwa sesungguhnya dia bukan monster. Ia seorang yang normal. Berbeda jauh dari gambaran seorang pembunuh yang haus darah.

Bahkan setelah mempelajari masa lalunya, Arendt melihat sebenarnya Eichmann memiliki simpati kepada Yahudi. Seorang pendeta yang tiap hari dikirim ke sel Eichmann selama persidangan, menurut Arendt, berkesimpulan Eichmann bukan seorang anti-semitik fanatik. Ia bukan manusia jahat yang timbul dari dirinya sendiri. Arendt melihat kondisi totaliter membuat Eichmann lumpuh logika. Kompromistis terhadap kenyataan, kehilangan kemampuan berpikir kritis, tidak berani mengambil keputusan menurut nurani. Ia patuh menjalankan hukum secara dangkal.

Inilah sumbangan penting Arrendt. Arrendt menunjukkan bahwa dalam sebuah rezim totaliter seseorang yang kompromistis bisa sangat berbahaya. Karena ia menganggap tak ada yang salah dengan keputusannya. Bahwa apa yang dilakukannya wajar, sama dengan yang dilakukan orang lain. Eichmann, misalnya—menurut Arrendt—menafsirkan perintah-kebijakan penyelesaian masalah Yahudi dalam bentuk yang paling sempit: emigrasi Yahudi besar-besaran.

Ia tak berpikir ulang bahwa dalam prakteknya itu berarti rentetan pengusiran massal Yahudi yang kemudian menjadi pemusnahan. Ia hanya memikirkan sukses melaksanakan perintah. Tapi justru di situlah letak perdebatan. Mereka yang tak sependapat dengan Arendt mengkritik: benarkah Eichmann seorang perwira yang dangkal atau sadar betul dengan rencananya? Betulkah Eichmann bukan seorang fanatis? Betulkah yang diperlihatkan Eichmann sebuah kepatuhan tanpa sadar, bukannya dukungan penuh kepada rezim?

Rieke mencoba mendeskripsikan riwayat hidup Eichmann dan sedikit persidangannya. Tapi tak mencoba memasuki debat itu secara lebih dalam. Seandainya ia melakukan, tentu bobot persoalan lebih muncul. Namun buku kecil ini tetap menarik. Buku ini bisa melengkapi beberapa buku Arendt yang telah diterjemahkan, misalnya Asal-Usul Totalitarianisme (The Origins of Tota-litarianism) yang diterbitkan Yayasan Obor, atau Teori Kekerasan (On Violence) terbitan Lembaga Pengembangan Ilmu Pengetahuan.

Juga melengkapi buku seputar holokaus lain seperti Mencari Makna Hidup (penerbit Nuansa, 2004:), sebuah terjemahan dari karya psikolog Viktor E. Frankl Man’s Search of Meaning, yang menjadi buku terlaris—terjual lebih dari 2 juta eksemplar di Eropa. Sebuah buku luar biasa yang menceritakan pengalaman pribadi Viktor E. Frankl, sosok yang bertahan dalam kamp konsentrasi Auschwitz dan membangun harapan hidup tiap harinya.

”Tesis saya ini juga dikritik sidang ujian karena terlalu jauh memperbandingkan Nazi dan Orde Baru,” tutur Rieke jujur. Di bagian akhir bukunya memang Rieke memparalelkan kekerasan negara ala Nazi dengan Orde Baru. ”Saya percaya bahwa kasus Eichmann bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja, dengan skala masing-masing,” katanya. Ia menunjukkan, saat pembasmian G30S PKI, banyak masyarakat sipil, warga biasa, ikut terlibat.

”Bahkan banyak keluarga yang melaporkan sanak saudaranya sendiri yang sebetulnya tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa September.” Itu menurut Rieke sama dengan bagaimana komunitas-komunitas Yahudi tertentu sesungguhnya membantu memberikan masukan Eichmann dalam menentukan mana Yahudi yang bisa dikorbankan, mana yang tidak. Dan itulah bagian dari banalitas kejahatan.

Sidang pembaca, jika Anda gemes menonton Oneng yang begitu blo’on, saat membahas urusan salon, creambath, atau pijit-pijit-pundak Mat Solar, jangan tertipu. Itu cuma akting. Sebab, sang Oneng bisa fasih, lho, berbicara tentang pikiran-pikiran Mpok Arendt….

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data