|
SENIN malam, puncak Galunggung membara. Di pekat malam, pijar lahar menghiasi langit. Sesekali kilatan api menyambar. Itulah letusan Gunung Galunggung pada 5 April 1982. Letusan yang tak pernah berhenti hingga empat bulan kemudian. Debu pun meruap ke langit. Ribuan hektare lahan pertanian musnah, awan gelap, udara sesak. Kerugian akibat peristiwa itu ditaksir mencapai Rp 29,6 miliar.
Tapi bencana sesungguhnya belum lagi mulai. Ancaman terbesar setelah rangkaian letusan dan berton-ton lahar dan debu tersembur adalah datangnya musim hujan. Sekali saja hujan lebat turun, bencana banjir lahar dingin bakal menerjang. Dengan tumpukan debu sebanyak 16 juta meter kubik di sepanjang kepundan dan lereng Galunggung, kekuatan apa yang bisa menahan bila tumpukan ini terseret air dan menerjang apa pun yang dilaluinya? Jika itu terjadi, kota Tasikmalaya dan sekitarnya bakal terkubur.
Awal pekan lalu, bencana dalam skala jauh lebih dahsyat terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatra Utara. Gelombang tsunami yang muncul setelah gempa berkekuatan 9 pada skala Magnitudo meluluhlantakkan kota-kota di NAD, Sumatra Utara, dan Pulau Nias. Lebih dari 70 ribu orang tewas, ribuan lagi tercatat hilang.
Di tengah aliran deras bantuan dari berbagai pihak untuk para korban, sumbangan yang terkumpul bertumpuk dan belum dapat tersalur karena lemahnya jaringan distribusi logistik.
|