Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXIII/27 Desember - 02 Januari 2005
   
Laporan Khusus

Membayar Utang pada Alam

Dalam membangun, kita biasanya memusuhi alam. Pada sempitnya lahan, misalnya, kita mendirikan bangunan tanpa menyisakan pekarangan. Namun Adi Purnomo adalah arsitek yang berjabat tangan dengan lingkungan. Baginya, bahasa arsitektur tropis yang paling mendasar adalah bagaimana memanfaatkan cahaya matahari atau lembab udara. Lahan sempit metropolitan justru menantangnya untuk menciptakan ruang-ruang baru.

Di Rumah Cipete, orang yang lahir di Yogyakarta pada 1968 ini membuat angin dan cahaya matahari menghambur masuk ke ruang-ruang yang dibangun mengelilingi halaman. Ia masih juga membuat pekarangan rumput di atas atap. "Sementara pohon yang tumbuh di halaman dalam bisa menyejukkan ruang," ujar Mamo, begitu panggilannya.

Halaman di atas atap juga dibuatnya di Gereja Santa yang baru. Dari kisi atap, akan mengalir cahaya matahari dan udara sepanjang hari ke ruang misa utama. Adapun dinding mimbar—dengan celah udara di atasnya—dibangun rigid menahan bising jalan raya Senopati. Gereja baru ini "berhubungan" dengan gereja lama melalui sebuah tirai kaca. Di dalam gereja Mamo menyisakan lahan untuk sepetak kolam tanpa atap.

Di Rumah Ciganjur, lulusan arsitektur UGM ini menciptakan banyak bukaan, sehingga rumah itu bebas menyambut ruang luar. Seperti juga dalam rancangannya yang lain, Mamo juga membuat sumur resapan di situ. Demikianlah bangunan jadi mandiri mengolah limbahnya, sesuatu yang jarang dipikirkan arsitek lain.

Lelaki pendiam yang cenderung pemalu ini memperoleh penghargaan Arsitek Muda dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada 2002. Rancangannya pernah pula ikut serta dalam pameran arsitektur internasional, antara lain di Van Allen Institute di New York. Tak segan ia mengatakan "tidak" kepada tawaran proyek yang tak sesuai dengan gagasannya.

Kesederhanaan begitu menyatu dengan fungsi dan keindahan dalam rancangan Mamo. Inilah kesederhanaan yang tampak begitu menonjol di tengah arus umum arsitektur yang dipenuhi kemewahan dan ketertiban yang dibuat-buat. Berjabat tangan dengan alam juga berarti menyediakan wadah sekaligus panduan bagi perilaku lingkungan setempat. Inilah cara untuk menghayati modernitas dengan mendalam sekaligus membayar utang pada alam.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data