Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXIII/27 Desember - 02 Januari 2005
   
Laporan Khusus

Jalan Lain ke Estetika

Handiwirman sosok yang irit bicara. Usianya belum genap 30 tahun, tapi lukisan-lukisannya dan obyek trimatranya adalah karya-karya yang melampaui mainstream seni rupa kita. Ia melukis, tapi obyek-obyek lukisannya seolah-olah benda yang teronggok: ada ketebalan, kedalaman, relief sendiri. Ya, Handiwirman bukan orang yang suka ramai, tapi ia mungkin sosok yang telah menaklukkan "keterbatasan" yang bisa ditawarkan sebuah kanvas.

Kepada Tempo, Handi memang mengaku terobsesi mengerjakan obyek-obyek tiga dimensi ke dalam (medium) dua dimensi. Tapi kita tahu, pencapaian seperti itu pencapaian orang yang sudah khatam dengan urusan teknik, skill. "Pada dasarnya saya sudah malas sekolah dan punya hobi nukang," kata Handi, bercerita tentang perjalanan seni rupanya. Perjalanan dari pemahamannya yang nol tentang seni, juga tentang keputusannya kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia), Yogyakarta.

Ia menggambarkan dirinya waktu itu: mahasiswa kriya kayu yang sudah menyerah dalam mata kuliah mengukir, sebuah pelajaran wajib. "Saya tak memiliki skill untuk itu, dan tak tertarik mempelajari," tuturnya. Handi tertekan, tapi juga banyak belajar dari lingkungan jurusan-jurusan lain di ISI. Tiga tahun kuliah di ISI, ia menetapkan hatinya: pergi dari kampus itu, menceburkan diri ke dunia dua dimensi, lukisan dan trimatra. Ia kini bergabung dalam Kelompok Jendela, berkreasi bersama lima mahasiswa ISI asal Sumatera Barat.

Dan Handi, putra seorang guru agama yang dilahirkan di Bukittinggi pada 1975 itu, tak tertahan. Kritikus seni rupa Hendro Wiyanto memuji. Karya-karyanya, "Bisa membuat kemungkinan yang menjadikan karyanya tidak bisa dengan mudah dikategorikan sebagai craft atau lukisan," kata Hendro.

Handi bergerak terus, menyentuh hal-hal yang jauh, yang dalam, bahkan agak metafisikal. Ia bertanya, dan karya-karyanya sibuk mendekati, mengeksplorasi obyek-obyek: adakah rambut tetap menjadi rambut jika tak lagi di atas kepala? Handiwirman terus berkreasi, sekarang ia mencetuskan wacana.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data