Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXIII/27 Desember - 02 Januari 2005
   
Laporan Khusus

Muslihat Sang Pencerita

Buku kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, telah mengembalikan kekuatan seni bercerita. Kepiawaian ini didapatnya dari sejumlah penulis favoritnya seperti Milan Kundera, John Steinbeck, Gabriel Garcia Marquez, dan Jaroslav Hasek. "Cerita mereka enak dibaca, lucu, segar, tanpa menjadi konyol. Lantas saya ingin membuat seperti itu," ujar A.S. Laksana.

Pada 12 cerita pendek Laksana, kita menikmati bahasanya yang tersusun ketat dan tak berniat menjelas-jelaskan, tapi begitu kaya dengan perincian situasi dan peristiwa. Ia berhasil mengambil alih humor dan kelisanan ke dalam tulisan. Ceritanya selalu mengandung sikap kritis terhadap bentuk cerita itu sendiri. Pembaca akan terbawa oleh aliran cerita, namun pada akhirnya ia akan tersadar akan muslihat sang narator.

Cerita pendek memang bentuk yang lama ditekuninya sejak kecil. Lelaki kelahiran Semarang, 25 Desember 1968, ini sudah mengirim karyanya ke media massa sejak Sekolah Dasar. "Namun tak pernah dimuat," ujar Laksana tumbuh dengan buku-buku petualangan Karl May, S.H. Mintardja, dan Ernest Hemingway ini.

Cerita pendek pertamanya yang dimuat berjudul Suara-suara di harian Kartika, ketika Laksana masih kelas 2 SMA Negeri 3 Semarang. Kantor redaksi harian itu bersebelahan dengan sekolahnya. "Honornya enam ribu rupiah. Habis buat mentraktir teman-teman," ujarnya sambil tertawa.

Kegemarannya menulis sempat mendorongnya mendaftar di IKIP Semarang. "Saya ingin menjadi guru bahasa Indonesia," kata ayah dua anak ini. Namun, ia hanya betah satu semester. Ia lantas masuk ke Fakultas Ilmu Komunikasi di Fisipol Universitas Gadjah Mada pada 1988 dan keluar (tanpa lulus) pada 1993. Hijrah ke Jakarta, ia turut mendirikan DeTIK hingga tabloid itu dibredel pada 1994. Di tabloid itu, ia menulis esai-esai pendek di rubrik "Podium", yang kemudian terbit sebagai Podium DeTIK pada 1995.

Laksana pernah terlibat penulisan skenario untuk film dokumenter, Sakura di Bumi Nusantara, juga Suro Buldog dan Telegram yang disutradarai Slamet Rahardjo Djarot. Dunia sastra kembali ditekuninya lewat Yayasan Akubaca, sebuah usaha penerbitan buku terjemahan sastra dunia yang didirikannya pada 2000 hingga tutup pada 2003.

Kini Laksana tengah merintis Jakarta School, sebuah usaha eksperimen yang menawarkan kursus penulisan kreatif. Bekerja sama dengan penerbit AgroMedia Group, program ini akan memberikan beasiswa kepada peserta dari kalangan siswa sekolah. Kelak calon penulis dari kalangan umum akan juga dijaring dalam paket kursus tiga bulanan. Setidaknya, dengan "sekolah" yang akan dimulai awal tahun depan ini, niat Laksana menjadi guru tetap terlaksana.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data