Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXIII/27 Desember - 02 Januari 2005
   
Laporan Khusus

Terbius Dunia Astronomi

DI kalangan dekatnya, Dr Premana W. Permadi dikenal serius dan jarang guyon. Dosen di Departemen Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung (ITB) itu bahkan nyaris tak punya waktu untuk menghibur diri. ”Saya ini memang kuper (kurang pergaulan—Red.),” katanya sembari tertawa. Perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu menghabiskan sebagian besar harinya menggeluti astronomi, dunia yang telah membiusnya sejak dulu.

Lewat ilmu inilah ia menemukan banyak hal tentang bintang, planet, meteor, dan aneka benda langit. Dalam dunia astronomi, ”Makin kita masuk ke dalam, makin menarik,” kata Premana, 40 tahun. Senang membaca buku-buku tentang alam semesta sejak kecil, anak pasangan dokter ahli bedah, Permadi Soetrisno, dan perawat Soewarni Permadi ini merampungkan kuliah di Departemen Astronomi ITB pada 1988. Setelah lulus, ia menjadi dosen di almamaternya. Sehari-hari, jika tidak berada di kampus ITB, hampir bisa dipastikan Premana bertekun di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung.

Di observatorium yang diresmikan pada 1 Januari 1923 itu—dulu dikenal sebagai Bosscha Sterrenwacht—Premana terlibat banyak kegiatan. Bersama rekannya, ia sering menggelar kuliah umum dan memberikan penjelasan panjang-lebar kepada semua kalangan yang datang ke Bosscha. Jika ada fenomena alam tertentu, misalnya oposisi Mars, Agustus 2003, praktis tenaga wanita langsing ini makin terkuras. Dalam tiga hari saja, 27-29 Agustus, sekitar 7.000 orang datang ke Bosscha.

Untuk persiapan, sejak seminggu sebelum hari-H, doktor lulusan The University of Texas, Austin, Amerika Serikat, 1996, itu nyaris tak beristirahat. ”Dia memang pekerja keras!” ujar Mahasena Putra, koleganya di Bosscha. Semangat yang sama pula mendorongnya memberikan pemahaman tentang pentingnya Bosscha bagi ilmu pengetahuan kepada warga sekitar. Maklum, sudah lama para pengembang mengincar tanah di sana untuk dijadikan kompleks perumahan.

Bersama rekan-rekannya, Premana juga berhasil memoles Tim Olimpiade Astronomi Indonesia sehingga berjaya dalam ”The IX International Astronomy Olympiad 2004” di Ukraina, awal Oktober 2004. Tim beranggotakan enam orang itu mengantongi satu medali emas, satu perak, dan empat perunggu. Ketika membutuhkan rehat di sela aktivitas sepadat itu, penggemar musik klasik ini memilih membaca buku-buku ringan. ”Atau mengurus tanaman di halaman rumah,” kata Yudi Soeharyadi, 40 tahun, suaminya yang dosen Departemen Matematika ITB.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data