Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXIII/27 Desember - 02 Januari 2005
   
Laporan Khusus

Langkah Awal Menuju Nobel

Dari Jayapura, George Saa membawa Indonesia ke peta dunia. Tak gampang membuat para dedengkot ilmu fisika kelas dunia itu kagum. Namun, Septinus George Saa mampu melakukannya. Pemuda 17 tahun ini membuat majelis juri lomba ”First Step to Nobel Prize in Physics”, di Warsawa, Polandia, terbelalak. Sesungguhnya baru lima pemuda yang mampu membuat kagum majelis juri sejak lomba bergengsi ini pertama kali diadakan, sepuluh tahun silam.

George Saa, yang akrab dipanggil Oge, berhasil menyisihkan ratusan riset dari 73 negara dalam lomba yang digelar Polish Academy of Science di Polandia, April lalu. Majelis juri, profesor fisika dari 30 negara, hanya perlu tiga hari untuk menentukan George sebagai juara peraih medali emas. Padahal, biasanya mereka butuh tiga minggu perdebatan siang-malam untuk penentuan sang jawara.

Acungan empat jempol—dua tangan dan dua kaki—rasanya belum cukup untuk mengagumi prestasi pemuda asal Jayapura, Papua, ini. Sebagai catatan, lima tahun lalu I Made Agus Wirawan, pemuda Bali, juga meraih emas pada kompetisi yang dirintis ahli fisika Profesor Waldemar Gorzkowski ini.

Karyanya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor, yang menghantarkan George membuka langkah pertama menuju Nobel. Majelis juri menilai karya ini sebagai yang paling kreatif, jelas, dan orisinal. Makalah yang dikirim George melalui surat elektronik ini memaparkan rumus menghitung hambatan dari dua titik sembarang pada suatu jejaring resistor yang membentuk segi tiga dengan jumlah tak terhingga. Rumus ini kemudian dijuluki sebagai ”George Saa Formula”.

Apa kegunaan rumus itu di dunia nyata? George belum tahu pasti. Tapi, ”Saya percaya akan ada ilmuwan lain yang mengembangkan apa yang sudah saya temukan,” kata putra Silas Saa, Kepala Dinas Kehutanan Teminabuha, Sorong, ini.

Sebagai hadiah atas formulanya, George berhak mempelajari seluk-beluk riset di Polish Academy of Science. Program ini sebetulnya dijadwalkan selama sebulan penuh, November 2004, langsung dengan bimbingan para fisikawan jempolan kelas dunia.

Sayang, George tak pernah sampai ke Polandia. ”Tak ada sponsor,” katanya. Lho? Panitia hanya menanggung biaya hidup dan pendidikan selama di Polandia, sementara tiket pergi-pulang ditanggung peserta sendiri.

Yohannes Surya, pembimbing George, gagal mengupayakan bantuan dana. Proposal permintaan biaya juga telah dikirim kepada Pemerintah Provinsi Papua. Entah kenapa, proposal ini tak pernah dijawab. Jerry Haurissa, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, menyatakan pihaknya tak pernah menerima proposal itu. ”Kalau ada, tak mungkin kami tolak,” katanya.

Sesal kemudian tak berguna. George sendiri adalah pemuda berhati luas. ”Saya yakin suatu saat pasti bisa ke Polandia,” katanya tanpa rasa kecewa. Keluasan hati George tak berhenti di sini. Hadiah puluhan juta rupiah yang didapatnya, antara lain Rp 5 juta dari Megawati Soekarnoputri, ia serahkan kepada sang ayah untuk dibelanjakan demi keperluan orang-orang di kampung halamannya di Sorong. Sebagian untuk membeli diesel pembangkit listrik, sebagian untuk membeli pengeras suara. ”Siapa pun yang membutuhkan, petani, orang kantoran, boleh pinjam,” ujarnya.

Hari-hari ini George, yang tinggal bersama kakaknya di Jakarta, lebih sering memikirkan masa depannya. Dia tak terlalu risau meski nilai ujian akhir SMA Buper, Jayapura, yang ditempuhnya pertengahan tahun ini, tidak terlalu memuaskan. Maklum, hampir setahun penuh George belajar habis-habisan fisika kuantum yang mestinya jatah mahasiswa dan ilmuwan yang sudah jago. Akibatnya, saat ujian SMA, George sedikit kelabakan.

Syukurlah, hasil ujian yang sedikit berantakan tak membuat George kacau. Dia tetap bertekad teguh ingin mewujudkan mimpi menjadi ilmuwan mumpuni, terutama di bidang teknologi penerbangan. ”Saya berharap, dengan menjadi ilmuwan, saya dapat membuat hidup manusia menjadi lebih nyaman.” George memang bukan hanya mutiara dari Papua. Dia mutiara Indonesia yang telah membuka Indonesia di peta dunia.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data