Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXIII/27 Desember - 02 Januari 2005
   
Laporan Khusus

Erin Brockovich dari Buyat

Dialah ensiklopedi hidup soal pencemaran Teluk Buyat. Di seluruh sudut hatinya terekam kisah nestapa di balik pencemaran paling menggegerkan pada 2004 ini. Tanyakan padanya siapa saja yang sekujur tubuhnya benjol-benjol, siapa yang kena kanker atau berak darah. Dia akan menjawab lancar dengan nada getir. Tanyakan pula adakah lapisan termoklin di Buyat atau aturan apa yang dilanggar Newmont. Jawabannya akan tetap lancar, tapi kali ini dengan amarah tertahan. Dialah Surtini Paputungan, satu dari trio motor penggerak perlawanan warga Buyat terhadap PT Newmont Minahasa Raya.

Di media massa, namanya nyaris tak terdengar. Namun, kisah kegigihannya selama delapan tahun membuat orang teringat pada Erin Brockovich, janda pengangguran yang bisa memaksa Pacific Gas & Electric membayar ganti rugi US$ 333 juta bagi warga Hinkley, California, karena mencemari air sumur dengan logam berat.

Otak Surtini memang tak seencer Erin—yang kisahnya difilmkan menjadi Erin Brockovich itu. Erin pernah kuliah, sementara Surtini cuma lulusan SMP yang menggantungkan hidup dengan mencari nener bandeng dan menjual ikan. Kendati begitu, Surtini adalah sumber inspirasi warga Buyat.

”Tanpa dia, gerakan warga Buyat mati muda sejak lama,” kata Radja P. Siregar, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Ibu empat anak ini ikut berdemo pada 1996 ketika banyak ikan mati di Buyat dan nener menghilang. Berkat Surtini, banyak warga berani bersaksi. Dia juga membantu pembikinan film soal Buyat untuk ditayangkan di forum Bank Dunia.

Dengan penampilan seadanya—baju kumal, rambut tak tersisir, kulit legam dan bersisik gara-gara mandi di muara Sungai Buyat yang kerap keruh airnya—dia berbicara di berbagai seminar internasional. Dia pernah jadi pembicara di lokakarya ”Women and Globalization”, yang digelar Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bali pada 2002.

Karena getolnya Surtini melawan Newmont, Samsu, suaminya, pernah diiming-imingi mesin perahu oleh perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu. Imbalannya, dia tak boleh lagi ikut demo. Tapi Samsu menolak. ”Jangan sampai hanya gara-gara katinting (perahu mesin), torang (kami) menderita selamanya,” ujarnya di depan rumah kayunya yang hampir roboh.

Di tengah perjuangan, hidupnya makin susah. Tak ada ikan yang bisa ditangkap. Tak ada pekerjaan. Apalagi, saat ia berdemo ke Jakarta, suaminya yang jadi kuli bangunan dikeluarkan dari proyek karang buatan milik Newmont. ”Hidup mereka kerap bergantung pada utang,” ujar Elen Pitoy, sahabat Surtini.

Namun, seperti Erin Brockovich, Surtini tak pernah menyerah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data