Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 43/XXXIII/20 - 26 Desember 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

48 Jam di Menara Global

Sebuah jembatan penyeberangan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu dua pekan lalu. Tiga anggota tim pemeriksa Bank Indonesia (BI) tak lengah memelototi gedung menjulang tinggi di sebelah utara jembatan. Di Menara Global itulah terletak kantor pusat Bank Global, bank yang beberapa hari terakhir itu sedang disorot publik dan lembaga pengawas keuangan seperti BI dan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).

Ketiga aparat BI tersebut mondar-mandir mengamati setiap pergerakan di Menara Global. Sesekali mereka bergantian turun dari jembatan, merokok, atau nongkrong di warung sate ketika rasa lapar melilit. "Pokoknya, gedung Menara Global harus dalam jangkauan pandangan mata," kata Yang Ahmad Rizal, Direktur Direktorat Pemeriksaan Bank I Bank Indonesia.

Awalnya adalah sandek misterius yang menginformasikan rencana busuk manajemen Global memusnahkan dokumen yang ada. Tak mau kecolongan, tim BI langsung meluncur ke lokasi pengintaian setelah sebelumnya menyusun strategi. Sandek "kaleng" itu ternyata benar adanya. Jika biasanya gedung Menara Global gelap-gulita tiap Sabtu, hari itu benar-benar terang benderang sampai dini hari.

Tak hanya itu. Beberapa mobil keluar-masuk kantor sejak Sabtu hingga Minggu keesokan harinya yang menandai kesibukan yang luar biasa di kantor tersebut. Puncaknya adalah ketika sebuah mobil pickup dan satu truk memasuki pelataran Menara Global pada hari Minggu. Melihat aktivitas mulai sulit dipantau, petugas BI akhirnya mengontak polisi.

Menjelang magrib, aktivitas meningkat. Beberapa orang terlihat memasukkan gepokan dokumen ke dua mobil tersebut. Menyaksikan gelagat tak baik ini, tim BI yang tadinya mengamati dari jauh akhirnya mulai mendekat. Sekitar pukul 23.00 WIB, mereka memasuki lobi. Tapi tiba-tiba, pet! listrik dipadamkan pihak pengelola. "Kita enggak bisa ngapa-ngapain," kata Rizal, yang terpaksa beranjak ke bagian depan gedung.

Mereka juga tak bisa memaksa masuk karena polisi yang mendampingi tim BI belum membawa surat penggeledahan. Lewat tengah malam, situasi mulai tenang. Aktivitas pemindahan dokumen tak lagi berlangsung. Namun, ketika subuh tiba, truk dan pikap tiba-tiba sudah siap meluncur keluar dari halaman gedung Menara Global.

Dengan mata yang terasa berat menahan kantuk dan stamina melorot, tim pemeriksa BI nekat pasang badan di depan kendaraan. Misinya jelas, jangan sampai truk dibawa kabur di depan mata mereka. Satpam pun terus meneror dan mencoba mengusir tim BI. Polisi sendiri masih berada di luar pagar. "Waktu itu betul-betul gawat," kata Rizal mengenang. Pilihannya, kalau bertahan terjadi kontak fisik, tapi kalau tim keluar, dokumen negara hilang.

Melihat situasi semakin memanas, salah seorang "komandan" tim BI maju ke depan. "Nama saya Nur Cahyo, jabatan saya Deputi Direktorat Pemeriksaan Perbankan di Bank Indonesia dan saya ingin memperkenalkan diri dengan Irawan Salim (Dirut Bank Global)." Taktik itu berhasil. Setelah satpam berhalo-halo dan kontak sana-sini, akhirnya tim BI dipersilakan masuk gedung. Kedua mobil itu pun urung pergi.

Senin pagi, para pemeriksa menelepon komisaris Bank Global untuk meminta dukungan. Setelah komisaris tiba, petugas kepolisian dan BI bisa melenggang ke lantai 3, 26, dan 28. Di lantai 3, mata para pemeriksa terbelalak. Beberapa kantong berisi serpihan dokumen yang sudah dihancurkan teronggok di salah satu pojok. Sayangnya, tak satu pun batang hidung pejabat Global kelihatan.

Tim BI lantas melaju ke lantai 26. Lantai ini cuma lantai transisi menuju lantai 28—lift di gedung tersebut hanya sampai ke lantai 26. Saat membuka pintu ruangan (mirip aula) di lantai 28, lagi-lagi Rizal dan timnya terhenyak. "Di situlah kami temukan delapan orang (pejabat Bank Global) itu," katanya. Tak hanya itu, di kloset kamar mandi ditemukan serpihan-serpihan disket yang habis tercabik-cabik. Malam harinya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom mengumumkan penutupan Bank Global.

Kini, drama dua hari dua malam di gedung Menara Global sudah berakhir. Tapi tugas Rizal dan pasukannya, yang ternyata sudah mendapat pelatihan keresersean secara khusus, masih berat. Bersama tim Mabes Polri, mereka harus berjibaku merangkai dan merekonstruksi jalinan dokumen-dokumen yang sudah dikunyah mesin penghancur dokumen agar bisa ditelusuri kembali.

Febrina Siahaan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data