Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXIII/13 - 19 Desember 2004
   
Kesehatan

Pantangan di Balik Sedot Lemak

Penyebab kematian Herry "Aseng" Sugiarto masih misterius. Diduga gara-gara operasi sedot lemak yang dijalaninya.

Promotor bertangan dingin itu telah pergi. Pada usianya yang ke-58, dia meninggal di Jakarta, Ahad pagi, 5 Desember lalu. Hari itu juga jenazahnya langsung diterbangkan ke Surabaya untuk disemayamkan di rumah jenazah Adi Jasa. Banyak orang, terutama dari dunia tinju, berduka. Ratusan bunga beraneka warna dan ucapan duka cita masih menggunung di sana sampai akhir pekan lalu.

Dialah Herry Sugiarto alias Aseng. Kematiannya amat menyesakkan dada karena jasanya cukup besar dalam mendongkrak prestasi petinju Indonesia. Terakhir, Aseng berhasil mengantarkan petinju M. Rachman menjadi juara dunia kelas terbang mini.

Yang lebih menyedihkan, diduga ia meninggal setelah menjalani operasi sedot lemak di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang rekannya, Tommy Halauwet. Menurut dia, Aseng baru saja menjalani operasi sedot lemak (liposuction) di bagian perutnya. Jumlah lemak yang diambil pun cukup banyak, sekitar 12 liter. "Istri dan anaknya sendiri yang menceritakan kepada saya, ketika menjenguk jenazah Aseng di rumah sakit, di hari kematiannya," kata Tommy, yang biasa bertugas sebagai dokter dalam berbagai pertandingan tinju.

Tommy mengaku kaget ketika mengetahui sahabatnya telah menjalani operasi sedot lemak. Jika diberi tahu sebelumnya, ia tentu akan mencegahnya. "Soalnya, Aseng menderita kelainan jantung. Ia sering mengeluhkan penyakitnya ini kepada saya," ujarnya. Putri sulung Aseng, Irene Christy Sugiarto, juga mengakui ayahnya menderita penyakit jantung. Menurut Irene, beberapa bulan sebelum meninggal, Aseng mengalami penyumbatan dua pembuluh darah di jantungnya. Tahun lalu, ia juga pernah menjalani operasi jantung di Malaysia.

Kepastian bahwa Aseng baru saja menjalani operasi sedot lemak juga datang dari Tourino Tidar, sahabatnya yang juga seorang promotor tinju. Dia mengaku pernah mengajak Aseng menonton pertandingan tinju Chrisjon lawan Jose Choe Rojas di Tenggarong, Kutai, 3 Desember lalu. Namun Aseng menolak karena ia sudah berjanji menjalani operasi sedot lemak di Rumah Sakit Abdi Waluyo. Katanya, operasi ini ditangani oleh seorang dokter dari Amerika Serikat.

Nah, ketika Tourino menjenguknya sehari kemudian, Aseng tampak berbaring lemah di kamar 205 rumah sakit tersebut. Ia tak memakai baju dan mengeluh badannya terasa panas. Perutnya pun masih mengeluarkan darah. "Dia bilang, badannya terasa sakit dan mengeluh lelah sekali," kata Tourino.

Diakui oleh Ketua Umum Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia, Imam Susanto, seseorang yang akan dioperasi sedot lemak haruslah berbadan sehat. "Dia tidak boleh menderita kelainan jantung, gagal ginjal, kelainan paru, atau kelainan liver," katanya. Jika pantangan ini dilanggar, akibatnya akan fatal.

Jumlah lemak yang diambil dari tubuh Aseng juga menjadi pertanyaan. Sebab, "Paling banyak lemak yang bisa disedot adalah 8 persen dari berat badan," kata Imam. Menurut Tommy, berat badan Aseng sekitar 100 kilogram. Berarti, dari tubuh Aseng, jumlah lemak yang bisa disedot paling banyak cuma 8 liter. Nah, kalau benar lemak di tubuh Aseng diambil hingga 12 liter, tentu itu terlalu banyak.

Banyaknya darah yang keluar dari tubuh Aseng diduga karena si dokter salah melakukan operasi atau terlalu kasar memasukkan selang ke perut. Akibatnya, selang itu masuk ke rongga perut dan melukai jeroan yang ada di dalam perut.

Sayangnya, pihak rumah sakit enggan buka mulut untuk menjelaskan masalah ini. Ketika dikonfirmasi sejumlah wartawan, Senin pekan silam, Dokter Migot dari Bagian Hubungan Masyarakat RS Abdi Waluyo mengatakan, dia belum bisa memberikan keterangan apa pun. Alas-annya, belum mendapat izin dari keluarga Aseng untuk membeberkan masalah ini ke publik. "Kami akan memberikan keterangan setelah memperoleh izin dari pihak keluarganya," ujar Migot.

Kendati begitu, Migot mengakui bahwa Aseng memang menjadi pasien di rumah sakit tersebut. Selama dalam perawatan ia ditangani oleh tim dokter yang dipimpin oleh dr. Sutrisno T.S., spesialis jantung, dengan anggota tim antara lain Dr. Oei Kim Ie dan dr. Husni Hasbulah, yang keduanya dokter spesialis bedah.

Keluarga Aseng sendiri terkesan pasrah. Istri Aseng, Bilyvia Sugiarto, 56 tahun, enggan mempersoalkannya. Dia menganggap kematian suaminya karena kelainan jantung yang dideritanya selama ini. Anaknya, Irene, pun tak mau menelusuri lebih jauh. "Sudahlah, kasus ini ditutup saja. Toh, orangnya juga tak bisa kembali," katanya.

Rian Suryalibrata, Ramidi, Jojo Raharjo (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data