Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXIII/06 - 12 Desember 2004
   
Televisi

Mutiara di Pinggir Selokan

Sebuah acara yang bisa mengetes kadar solidaritas sosial masyarakat kita. Sederhana tapi cukup menyentuh.

Di kios sempit berukuran 3 x 4 meter, ia tinggal sendiri: mencari nafkah dan menghabiskan sisa hidupnya. Perempuan itu, seorang nenek dalam usia 70-an tahun, tentu saja bukan seorang kaya. Dagangannya cuma 10 jeriken bensin masing-masing berisi tiga liter. Ya, di tepi sebuah jalan, di pinggir selokan, Semarang, ia berjualan bensin eceran.

Tapi suatu kali, rutinitasnya terganggu. Seorang pemuda bermotor menghampirinya. Ia mengaku kehabisan bensin tapi tak punya uang buat membayarnya. Memang, tak begitu jelas apa yang selanjutnya diutarakan si pemuda kepada nenek itu. Yang terang, perempuan tua itu bangkit dan mengisi tangki motor dengan seliter bensin, gratis. Si pemuda lalu mengucap terima kasih, pamit, tapi lantas kembali lagi.

Si pemuda ternyata mengulang permintaan yang sama: bensin?kendati kali ini cukup setengah liter. Dan perempuan tua itu kembali mengangguk, tangannya bergerak cekatan, menuangkan bensin. Tidak ada yang istimewa. Ia hanya menjelaskan dengan nada datar, dengan logat Jawa yang kental: "Kamu kan ndak punya uang. Jadi, ya ndak apa-apa."

Hari itu, mereka menemukan sebutir mutiara. Mereka, para kru acara Tolong dari stasiun SCTV, menjumpai seseorang yang punya karakter "pemurah" dan "tulus", tanpa pamrih. Memang tiada kepastian bahwa sang nenek memenuhi dua karakter tersebut. Tapi jelas, dalam acara yang ditayangkan pertengahan November lalu, mereka dapat menangkap spontanitas dan kewajaran dalam tindakan si penjual bensin.

Sang nenek adalah sasaran yang tepat. Sebelumnya, para kru mendapati seorang lelaki separuh baya yang keheranan, kemudian menolak permintaan yang sama. Pada akhir acara, nenek tua itu menangis terharu, dan kisah berujung happy end: ia menerima hadiah Rp 1 juta, suatu imbalan yang tidak pernah diharapkannya.

Sang nenek tentu saja bukan "mutiara" pertama yang mereka temukan. Setiap Ahad, pukul 18.30, reality show bertajuk Tolong muncul dengan tokoh istimewanya: bukan orang kaya, tapi siap menolong orang yang tak dikenal tanpa pikir panjang. Ada seorang tukang tambal ban tua bertubuh cacat, tapi bersedia menolong salah satu anggota kru. Mengetahui kliennya tidak berduit, Pak Tua itu tetap menambal ban yang kempis, memperbaiki rantai sepeda yang terlepas. Lalu?ini pada episode lain?ada seorang penjual minyak keliling, juga kakinya cacat sejak lahir. Ia ikhlas memberikan seliter minyak kepada seorang ibu tua yang tidak punya uang. Bukan cuma itu, penjual minyak juga menolong memperbaiki kompor rusak milik kru Tolong yang menyamar jadi sang ibu.

Tolong bukan sejenis reality show yang banyak memetik, bahkan menjiplak aneka reality show sukses di luar negeri. Menurut penggagasnya, Eko Nugroho, ide acara yang mulai ditayangkan sejak 19 September itu berangkat dari film Pay It Forward. Satu film yang dibintangi Kevin Spacey dan Helen Hunt dan diputar di sini dua tahun lalu. Ya, film yang mengambil tema budaya tolong-menolong.

Dari rumah produksi miliknya, Dreamlight, di Semarang, lelaki kelahiran Yogya, 2 Februari 1968, ini melangkah. Di kantongnya, demo acara memancing emosi dan mengusik ego. Tapi stasiun-stasiun televisi tidak menyambut. Kini Eko berpaling pada Helmy Yahya, presenter kondang, sekaligus bos rumah produksi Triwarsana, Jakarta. Ia pun mengakui: "Mas Helmylah yang kemudian memberikan sentuhan dan ledakan-ledakan acara tersebut, sehingga lebih memikat dan menghibur." Sekarang ia berkonsultasi dengan Triwarsana jika menemui kesulitan.

Inilah Tolong, acara yang dulu dikontrak SCTV 6 episode, kini diperpanjang jadi 18 episode. Menurut Budi Darmawan, Humas SCTV rating acara itu cukup baik. Pada enam episode pertama, rating-nya hanya 3,9. Memasuki episode ke 14, angkanya menyundul 6,3. Terakhir, pertengahan November lalu, Tolong ditayangkan ulang tiga kali dalam sepekan. "Kontraknya mungkin akan diperpanjang," kata Budi.

Tolong mungkin membuat kita optimistis. Pengamat media, Veven Sp. Wardhana, mengatakan, acara Tolong bisa menjadi ajang tes untuk mendeteksi sejauh mana solidaritas sosial masih bersemayam dalam diri kita. Sayang, kata Veven menambahkan, lokasi syutingnya hanya di sekitar Semarang, yang budaya tolong-menolongnya relatif belum luntur. Mestinya dilakukan juga di kota-kota lainnya. Dengan begitu, "Kita bisa mendeteksi bahwa jiwa penolong masih ada dalam masyarakat kita," katanya.

Nurdin Kalim, Dian Yuliastuti (Semarang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data