|
BELUM genap 100 hari menjadi Menteri Agama, Muhammad Maftuh Basyuni sudah kebanjiran teror lewat telepon gelap maupun surat kaleng. Tapi pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 4 November 1939 ini sudah mulai kebal. Sekali saja Anda coba-coba meneror, dijamin bakal dicuekin atau masuk ke bak sampah. Ia tak lagi gentar atau pusing tujuh keliling. "Enggak usah dihiraukan, telepon gelap atau surat kaleng itu kan banci," katanya sembari tersenyum enteng kepada Tempo di DPR, Selasa pekan lalu.
Pada awal menjabat menteri, Basyuni bertekad membersihkan Departemen Agama dari korupsi, termasuk perbaikan penyelenggaraan ibadah haji. Ibarat bumerang, lulusan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, ini malah diterpa isu miring, dituding korupsi dalam penerimaan calon pegawai negeri sipil. "Saya senang dikritik, tapi bukan kritik hanya untuk njegal," kata mantan Duta Besar RI untuk Arab Saudi ini. Manusia itu tidak sempurna, katanya, tetapi akan sempurna jika dekat dengan kritik.
|