Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXIII/06 - 12 Desember 2004
   
Olahraga

Saatnya Memikirkan Kawin

Tak susah mencari uang bila prestasi sudah melambung tinggi. Chris John, misalnya. Untuk penampilannya melawan Jose Rojas, dia mendapatkan bayaran US$ 125 ribu (sekitar Rp 1,125 miliar). Hanya duit ini tak semua jadi miliknya. "Dapat separuhnya saja sudah bagus," kata juara dunia kelas bulu versi WBA itu. Dia harus membagi bayarannya itu untuk pajak, membayar pelatih, dan lain-lain.

Katakanlah Chris mendapat separuh, angkanya mencapai Rp 562,5 juta. Padahal, dia tampil hanya sekitar 10 menit di atas ring. Artinya, setiap menit dia bisa mengeruk Rp 56,2 juta atau mendekati Rp 1 juta setiap detiknya.

Sebelum pertarungan, Chris mengaku belum menerima uang muka. "Biasalah di Indonesia, (bayarannya) nanti setelah pertandingan," katanya. Tapi, dia sudah punya rencana untuk dipakai apa uang itu. Untuk masa depan, dia akan menabungnya. Sebagian mungkin pula digunakan untuk menyekolahkan adiknya yang paling kecil. "Dia kuliah di Semarang, baru juga masuk. Biayanya sepenuhnya dari saya. Sisanya baru dibagi untuk yang lain," tuturnya.

Tidak untuk kawin? "Saya baru akan memikirkannya setelah pertarungan ini," katanya sebelum bertanding melawan Rojas. Seorang wanita cantik telah bersemayam di hati Chris. Anna Maria Megawati, namanya. Gadis seusianya itu baru lulus kuliah D3 Perpajakan di Universitas Diponegoro, Semarang. Tak seperti pacar-pacar juara dunia lainnya, Anna tak sering mengikuti perjalanan Chris hingga ke sisi ring. "Dia di rumah saja. Dia juga sudah tahu kalau ikut malah jadi beban," katanya.

Chris juga tak mengajak kedua orang tuanya ke Tenggarong, tempat ia bertarung. Selain rumahnya jauh di Banjarnegara, Jawa Tengah, mereka juga punya kesibukan sendiri. Chris sendiri bisa tampil lebih lepas bila mereka menonton di rumah saja. "Mereka hanya sesekali menonton (langsung) pertarungan saya bila di Jakarta. Itu pun hanya Bapak saja," ujarnya.

Deddy Sinaga (Tenggarong)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data