Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXIII/06 - 12 Desember 2004
   
Laporan Utama

Menangkap Sinyal Istana

BAGAI kenduri besar, muktamar NU di Boyolali, yang digelar hingga Kamis pekan lalu, dihadiri banyak tokoh dari berbagai kalangan. Tak hanya wartawan dan sejumlah pengamat yang menekuni masalah NU, tapi juga sejumlah menteri. Ada Saifullah Yusuf, yang kini menjadi Menteri Percepatan Pembangunan Kawasan Tertinggal. Hadir juga Maftuh Basyuni, yang menjabat Menteri Agama.

Kebetulan Saifullah dan Basyuni memang dikenal sebagai orang NU. Saifullah merupakan keponakan Abdurrahman Wahid, sementara Basyuni adalah ipar Kiai Mustofa Bisri dari Rembang. Kehadiran kedua figur ini menjadi penting karena mereka berada di kabinet Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka bisa menjembatani kepentingan SBY dan kalangan NU.

Staf khusus Presiden, Munawar Fuad Noeh, pun mengungkapkan selama ini Yudhoyono memandang NU punya peran yang penting. Organisasi ini bisa sebagai pijakan kuat dalam pemberantasan korupsi, penanggulangan kemiskinan, dan reformasi pendidikan. NU juga diperhitungkan sebagai kekuatan pluralisme dan Islam moderat untuk membantu pemberantasan terorisme. ? NU adalah kekuatan penyeimbang dalam mengatasi konflik lokal dan religius,? ujarnya.

Tak hanya itu. Bagi Yudhoyono, dukungan dari NU bisa memperkuat posisinya sebagai presiden. Itu sebabnya, muncul spekulasi bahwa Yudhoyono juga berusaha mendorong agar muktamar NU menghasilkan pemimpin yang bisa diajak bekerja sama dengan pemerintah.

Paling tidak, begitulah kabar yang beredar di tengah muktamar. Bahkan Saifullah Yusuf sempat mewanti-wanti agar para kiai tidak salah pilih. Menurut dia, Yudhoyono cenderung menyukai figur selain Hasyim Muzadi untuk tampil sebagai Ketua Umum PBNU. Saifullah lalu mengajukan tokoh alternatif seperti Mustofa Bisri dan Masdar Farid Mas?udi. ? Pak Hasyim bisa dipasang sebagai wakil rais am,? katanya saat itu.

Hanya, belakangan, ada perubahan angin. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), As?ad Said, yang juga datang di muktamar. Dia menggambarkan sikap Yudhoyono mulai melunak ketika tahu bahwa Hasyim datang dan menyalaminya saat pelantikan presiden. Hasyim pun mau beraudiensi dengan Istana. ? Jadi, Hasyim dianggap bukan ancaman,? ujarnya.

Sinyal ini juga ditangkap oleh panitia muktamar saat bertemu Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Saat itu Sudi menambah bantuan muktamar menjadi Rp 1 miliar. Para gubernur juga diimbau agar memberikan ongkos tiket pesawat bagi para muktamirin. ? Ketika kami semakin mantap, pemerintah mendukung Pak Hasyim,? ujar seorang pendukung Hasyim Muzadi.

Tapi, Munawar Fuad Noeh membantah semua kabar itu. Ditegaskannya, tidak ada upaya pemerintah mengintervensi muktamar NU. ? Presiden tak mendukung calon mana pun,? ujar Fuad, yang juga hadir di tengah muktamar. Menurut staf khusus Presiden ini, pemerintah menghormati siapa pun yang terpilih, baik dari kubu Abdurrahman maupun kubu Hasyim.

Hanibal W.Y. Wijayanta, Wahyu Muryadi, dan Thonthowi Jauhari (Boyolali)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data