Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXIII/06 - 12 Desember 2004
   
Laporan Utama

Taruhan Mahal dari Kramat Raya

Hasyim Muzadi kembali terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Abdurrahman Wahid siap membentuk kepengurusan tandingan. Keutuhan NU dipertaruhkan.

Hawa kantuk masih menyerang Kiai Haji Abdurrahman Wahid, Kamis sore pekan lalu. Di kantornya yang nyaman di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, beberapa kali ia menguap. Dia baru bangun dari tidurnya yang lelap. Wajah bekas presiden itu tampak kelelahan. Maklumlah, ia baru tiba setelah mengikuti Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, sejak awal pekan lalu.

Namun, rasa penat tak menyurutkan langkah Abdurrahman untuk melakukan manuver baru. Setelah gagal meraih kursi rais am dan tak berhasil menghalangi K.H. Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PBNU lagi, ia bertekad menguasai kantor PBNU. ?Wong gedung ini saya yang bikin, bukan Hasyim Muzadi,? kata bekas Ketua Umum PBNU (1984-1999) itu dengan nada tinggi.

Abdurrahman tak sekadar ingin menduduki gedung yang dibangun semasa dirinya menjadi presiden itu. Dalam waktu dekat, ia akan membentuk kepengurusan PBNU tandingan. Dia mengklaim semua file surat PBNU ada padanya, walaupun atas nama rais am. ?Kalau Kiai Sahal (rais am terpilih) mengusir saya dari sini, ya, nanti dulu. Kita berebut,? ujarnya kepada Tempo.

Itulah buntut pertarungan dalam muktamar NU di Boyolali. Dalam pemungutan suara di sidang pleno maraton sejak Rabu malam hingga Kamis siang pekan lalu, Abdurrahman gagal menandingi senioritas K.H. Sahal Mahfudz dalam memperebutkan posisi Rais Am Syuriah NU. Jagonya untuk posisi ketua umum, Masdar F. Mas?udi, juga tidak mampu mengalahkan Hasyim Muzadi.

Pleno itu berlangsung panas sejak awal. Mendung dan rintik hujan yang turun sejak siang tak mampu mendinginkan suasana. Di saat muktamirin berdesak-desakan memasuki ruangan, malam itu Hasyim Muzadi malah bergegas keluar dan menyelinap ke dalam mobil sedan B 1999 DA yang diparkir di depan gedung. Dia seolah menghindari Abdurrahman. Sebab, 10 menit kemudian konvoi mobil Abdurrahman datang. Panitia segera mempersilakannya duduk di kursi paling depan. Namun, Abdurrahman memilih berdesak-desakan dengan para kiai bersama anaknya, Zannuba Arifah, dan istrinya, Sinta Nuriah.

Seharusnya sidang pleno dilaksanakan seusai makan malam. Tapi, alotnya pembahasan komisi organisasi membuat molor seluruh agenda. Pleno baru dimulai lewat tengah malam. Hasyim pun kembali ke ruang sidang. Tanpa menoleh atau bersalaman dengan para kiai sepuh yang dilewatinya, Hasyim langsung ke panggung. Tapi ia harus puas duduk di kursi lain karena kursinya telah diduduki kiai nyentrik asal Klaten, K.H. Muslim Rifai Imampura.

Tepat pukul 00.32, K.H. Hafidz Usman membuka persidangan yang diikuti 465 peserta dari 425 cabang dan 30 wilayah. Setelah Kiai Sahal berpidato, kepengurusan PBNU 1999-2004 dinyatakan demisioner. Para pengurus PBNU lalu turun panggung dan menyerahkan palu kepada ketua sidang, K.H. Muhammad Adnan, Ketua PWNU Jawa Tengah.

Belum juga pantat Hasyim diletakkan di kursi, Abdurrahman Wahid, yang semula duduk di kursi tengah, diantar ke depan bersama para kiai pendukungnya. Sebelum duduk, mereka sempat bersalaman. Tapi suasana begitu hambar meski diiringi tepuk tangan dan kilatan lampu blitz yang mengabadikan peristiwa langka ini. Sementara kiai sepuh menempati kursi di bagian paling depan, giliran Kiai Sahal keluar ruangan.

Setelah diselingi sejumlah interupsi, pemilihan rais am diadakan pada sekitar pukul 01 WIB. Panitia menghitung ada 455 suara dari 465 peserta yang punya hak pilih. Nama-nama yang muncul adalah Kiai Sahal dengan 363 suara, Abdurrahman 75 suara, Hasyim Muzadi 5 suara, K.H. Said Agil Siradj 1 suara, Alwi Shihab 2 suara, K.H. Mustofa Bisri 3 suara, serta Rahman S. 1 suara. Satu suara abstain dan satu suara tidak sah. Sesuai dengan tata tertib, karena tak ada calon lain yang memiliki suara signifikan, pada pukul 04.00 secara aklamasi muktamirin menahbiskan Kiai Sahal menjadi rais am periode 2004-2009.

Tepuk tangan bergemuruh. Abdurrahman Wahid bergegas keluar ruangan, diikuti para pendukungnya. Ia mengaku tidak masalah dengan terpilihnya pengasuh pesantren Maslakhul Huda, Pati, itu.

Pemilihan ketua umum baru diadakan seusai subuh. Dalam pemilihan awal, Hasyim memperoleh 293 suara, Masdar mendapat 103 suara, Mustofa Bisri 35 suara, Abdul Azis 4 suara, Abdurrahman 2 suara, sementara K.H. Tholchah Hasan, Said Agil Siradj, dan Salahuddin Wahid masing-masing mendapat 1 suara dan satu suara abstain. Sesuai dengan tata tertib, karena Hasyim dan Masdar mendapat dukungan 99 suara lebih, berhak ikut dalam pemilihan tahap kedua.

Saat itu, mayoritas muktamirin langsung merogoh telepon genggam di kantong masing-masing. Mereka tampak mengirimkan SMS, entah apa isinya dan kepada siapa pesan itu dikirimkan. Ini memang saat bagi para peserta untuk saling melobi dan mempengaruhi.

Sebelum diadakan pemilihan, Hasyim dan Masdar mengucapkan kontrak jam?iyyah NU secara bergantian. Kontrak yang dirancang oleh K.H. Sahal Mahfudz ini berupa janji untuk tidak membawa NU ke politik praktis (lihat, Segepok Janji Bermeterai). Usai membaca janji, Hasyim lagi-lagi meninggalkan ruang sidang diiringi para pengikutnya. Sepanjang jalan, pendukungnya berebut mencium tangan.

Karena ditinggal pesaingnya, Masdar ikut meninggalkan ruangan. Ia bahkan meninggalkan kompleks asrama haji mengendarai sedan B 1809 WS menuju Lor Inn, bergabung dengan tim suksesnya yang bermarkas di hotel berbintang lima itu.

Pemungutan suara berlangsung cepat dan lancar. Ketika penghitungan suara hampir selesai, Hasyim telah masuk ke ruang si-dang lagi. Pengasuh Pesantren Al-Hikam, Malang, itu langsung disambut dengan Selawat Badar oleh pendukungnya. Dari penghitungan, suara Hasyim memang jauh mengungguli Masdar.

Tanpa melihat dan membacakan hasil perolehan suara, tiba-tiba Muhammad Adnan sang pemimpin sidang langsung mengetukkan palu dan mengesahkan hasil pemungutan suara. Tidak ada protes ataupun interupsi. Padahal hasil penghitungan suara tidak klop. Sebelum dihitung, jumlah surat suara yang dipakai 424 buah. Tapi, dari total suara yang dihitung, jumlahnya selisih 25 suara karena Hasyim mendulang 346, Masdar 99, abstain 1 suara dan rusak 3 suara. Pendukung Masdar tidak sempat protes karena sudah meninggalkan ruangan begitu suaranya tertinggal jauh dengan Hasyim.

Tanda-tanda kekalahan kubu Abdurrahman Wahid sebenarnya sudah tampak ketika K.H. Mustofa Bisri gagal dipaksa menjadi calon untuk menandingi Hasyim. Calon alternatif, seperti Tholchah Hasan dan Cecep Syarifudin, juga menolak. Kekuatan Abdurrahman makin lemah ketika ia berubah sikap dan mencalonkan diri sebagai rais am. Langkah ini dilakukan setelah ia mengetahui Kiai Sahal murka akibat pernyataannya di Metro TV yang menyebut Kiai Sahal pengecut.

Kubu Abdurrahman juga sudah berupaya melobi Kiai Sahal, yang menginap di sebuah rumah di Jalan Adisucipto 21, Solo. Ini dilakukan oleh Kiai Muhaiminan Gunardho dari Temanggung, Kiai Mas Subadar dari Pasuruan, dan Gus Ubeid yang mewakili ayahnya, Kiai Abdullah Faqih (Langitan). Mereka memohon kiai Sahal supaya menasihati Hasyim agar tidak mencalonkan diri lagi. Sebelumnya, Abdurrahman juga telah bertemu Kiai Sahal untuk membicarakan hal serupa.

Tapi Kiai Sahal tetap pada pendiriannya: tak bisa memaksa Hasyim karena dianggapnya sudah dewasa. Semua keputusan pun terserah muktamirin. ?Kalau saya menghalangi langkah dia mencalonkan diri lagi, berarti saya mengharamkan sesuatu yang hukumnya halal,? katanya.

Belakangan, giliran kelompok pro-Hasyim yang melobi Kiai Sahal. Langkah ini ditempuh oleh Kiai Idris Marzuki dari Lirboyo, Kediri, Kiai Mutawakkil Alallah Genggong, Kiai Zainuddin Jazuli dari Ploso, Kediri, serta K.H. Noer Iskandar, Jakarta. Mereka mendesak Kiai Sahal agar tetap pada pendiriannya. Dan saran inilah yang didengar.

Kekalahan kubu Abdurrahman Wahid tersebut memperlihatkan merosotnya pengaruh kiai-kiai sepuh yang mendukung mereka (lihat, Ketika Kiai Sepuh Tak Didengar Lagi). Selama ini Abdurrahman membangun kekuatan dengan dukungan mereka, sehingga ia bisa bertahan lama sebagai Ketua Umum PB dan bahkan kemudian jadi presiden.

Hanya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur belum menyerah. Usai muktamar, ia menemui mantan presiden Megawati di rumah Mega di Kebagusan. Kabarnya, pertemuan itu untuk memperluas dukungan terhadap dirinya. Apalagi diduga kubu Hasyim Muzadi sekarang cenderung bisa bekerja sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (lihat, Menangkap Sinyal Istana). Tapi, salah satu orang dekat Abdurrahman membantah kepentingan di balik pertemuan Gus Dur-Mega. ?Kalau Gus Dur mau bentuk NU tandingan, mengapa minta dukungan Mega?? kata Arifin Junaidi, Sekretaris Dewan Syuro PKB.

Rupanya, rencana Abdurrahman untuk membentuk PBNU tandingan cukup serius. Menurut dia, nanti akan ada dua PBNU di alamat yang sama. Dua kelompok itu akan menggunakan gedung, barang, dan nama sama. Hanya nomor suratnya yang berbeda.

Hasyim Muzadi mencoba mengingatkan bahwa organisasi tandingan tak pernah awet. Ia mencontohkan pengalamannya bersama Kiai Sahal dan Kiai Ilyas Ruchiyat membela Abdurrahman melawan kubu Abu Hasan, yang membentuk NU tandingan seusai muktamar di Cipasung pada tahun 1994. Karena membela Abdurrahman yang tidak direstui Presiden Soeharto, mereka bolak balik dipanggil polisi. ?Toh, yang namanya tandingan itu akhirnya tak menghasilkan apa-apa,? ujar Hasyim.

Tapi Abdurrahman bergeming. Dia beralasan NU tandingan yang akan dibentuknya adalah permintaan para kiai sepuh. ?Saya sebenarnya tidak pingin. Tapi perintah dari kiai sepuh, ya, perintah,? ujarnya.

Kini nasib NU dipertaruhkan. Bahkan Masdar F. Mas?udi, yang selama ini berada di kubu Abdurrahman, ikut mencemaskan. Ia akan berusaha membujuk Abdurrahman agar mengurungkan niatnya. Keutuhan NU lebih penting daripada perbedaan kepentingan yang muncul selama muktamar. ?Jika NU pecah, cita-cita mulia NU tidak ada artinya,? katanya.

Hanibal W.Y. Wijayanta, Wahyu Muryadi, Imron Rosyid, dan Adi Mawardi (Boyolali)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data