Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/XXXIII/06 - 12 Desember 2004
   
Kolom

Minimal NU

Mohamad Sobary

  • Budayawan

    Kalau mau bertanya perihal watak akomodatif dan murah perlindungan bagi golongan minoritas, atau soal watak pluralis yang makin menjadi kebutuhan dalam hidup, tanyalah pada NU.

    Kalau ingin tahu cara bersikap bijak, tanyalah pada NU.

    Kalau belum yakin Indonesia ini negeri Islam atau bukan, tanyalah pada NU.

    Dan jika masih ragu bagaimana status hukum suap, tanya saja pada NU. Muktamar NU di Boyolali minggu lalu mengeluarkan fatwa: suap itu halal?. Dan kita pun kaget. Tapi itulah NU. Kalau tak bikin kaget, namanya bukan NU lagi.

    Di NU, agaknya, begitu banyak perkara yang bisa diatur secara fleksibel. Dan enak. Tiap argumen, yang sangat muskil sekalipun, bisa ditemukan ayat pendukungnya.

    Kemarin siang saya mengobrol, saling bertukar lelucon segar yang ada dalam perbendaharaan hidup, dengan seorang wartawan politik, lama ngepos di NU, mengagumi Gus Dur dan sobat Gus Dur. Syahdan, dia pun tahu cerita ini: ada kiai bersyukur karena keluarganya terpelihara baik dalam iman Islam. Baginya, Islam itu Islam hanya bila ikut NU. Tapi, begitu mendapat menantu Muhammadiyah, sang kiai pun berkata: "Menantuku pun Islam. Minimal Muhammadiyah."

    Di dalam tradisi intelektual, dan pandangan dunia NU, tampaknya tak ada pihak yang benar-benar musuh. Tak ada yang mutlak terkutuk.

    Bingkai fikih, dan akomodasi politik NU, penuh warna-warni. Kemasannya anggun. Kalimat-kalimat pengiringnya pun filosofis, abstrak, dan universal. Argumennya agak jelas minimalis.

    Ini contoh lain: di tahun 1935-an, dalam muktamar NU di Banjarmasin, keluar fatwa bahwa Indonesia ini negara Islam.

    "Islam? Di zaman Belanda, ketika rakyat dibunuhi, dan berjuta-juta syuhada atau martir kita gugur dalam perlawanan, dan saat orang Islam diejek "orang Selam": ejekan yang menjengkelkan itu, disebut negara Islam?"

    "Ya. Bagi NU, saat itu Islam sudah mayoritas, dan Belanda tak melarang umat Islam beribadah dan melaksanakan syariat Islam. Itu saja."

    Di saat ketegangan politik memuncak antara kaum agamawan dan para pentolan komunis, karena kedua pihak tak mungkin menyatu, Bung Karno malah merumuskan ajaran politik bahwa Indonesia akan sentosa jaya bila sepak terjang kita dibangun di atas tiga landasan: nasional, agama, komunis, Nasakom: kombinasi muskil yang membuat sejarawan Jerman, Brnard Dahm, ikut heran. Konon, NU-lah unsur "A" di Nasakom itu.

    Dan di bawah bius Nasakom kita berdendang: "Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu?."

    "Kalau begitu, Presiden SBY itu NU apa Muhammadiyah?"

    "NU, karena bisa Selawat Badar, bisa ngaji, dan pernah nyantri."

    "Bolehlah. Tapi sebenarnya beliau Muhammadiyah?."

    "Ndak mungkin."

    "Betul. Beliau Muhammadiyah 'by tradition', lho."

    "Tradisi apaan?"

    "Bahwa semua presiden kita Muhammadiyah. Bung Karno Muhammadiyah. Pak Harto Muhammadiyah. Mbak Mega putri Bung Karno, otomatis Muhammadiyah. Pak Habibie menteri "kinasih" Pak Harto, jadi juga Muhammadiyah. Maka, SBY pun Muhammadiyah.

    "Jangan korup, sebut Gus Dur. Dia intelektual terkemuka NU, lama jadi Ketua NU. Darah biru NU. Mau di-Muhammadiyah-kan juga?"

    "Adapun yang satu ini, harap maklum, memang Muhammadiyah yang disusupkan ke NU. Kalau mau tahu mengapa, dan bagaimana mungkin hal ini terjadi, sebaiknya tanyalah pada Gus Dur sendiri yang tahu akan rahasia terpendam ini. Tapi kita bisa lihat bukti lain. Kiai NU membolehkan diciumi tangannya. Ini tradisi. Sedangkan Gus Dur, seperti Muhammadiyah, menolak tangannya dicium. Seperti Muhammadiyah berarti Muhammadiyah."

    "Kalau begitu, Mas Amien NU apa Muhammadiyah?"

    "Muhammadiyah."

    "Tapi Ketua PAN."

    "Dan pendukung utama PAN mayoritas warga Muhammadiyah."

    "Tapi PAN partai terbuka. Dan Mas Amien pun pluralis. NU boleh jadi anggota."

    "Betul. Tapi kenyataannya, sampai sekarang, belum satu pun warga NU masuk PAN. Jadi, Mas Amien itu Muhammadiyah. Minimal PAN."

    Kepada wartawan tadi saya sodorkan naskah ini, minta komentarnya. Dia tampak sewot. Ada yang tak berkenan di hati, rupanya.

    "Sampean seperti bukan sobat Gus Dur. Gitu aja sewot," kata saya.

    Dia tersenyum. "Bukan gitu, Kang" katanya. "Itu justru karena saya sobat Gus Dur. Dan justru karena saya pun Islam. Minimal NU.


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    30/XXXVII/15 - 21 September 2008

     

    Berita lainnya

    Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
    Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
    Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
    Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
    Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
    BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
    Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
    Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data