Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004
   
Wawancara

"Harus Tertangkap Dalangnya..."

Ia mendengar aneka pelecehan yang dialami para buruh wanita. Suciwati, nama perempuan itu, kemudian membuat keputusan besar. Ditinggalkannya kegiatan mengajar di sebuah SMA, dikerahkannya segenap energi ke satu titik yang kemudian digelutinya selama belasan tahun: dunia perburuhan.

Suciwati, kini 37 tahun, memang seorang aktivis yang selalu ditempa semangat. Terakhir, tatkala hatinya remuk ditinggal mati suaminya, Munir, cepat sekali ia menggambarkan sebuah ilustrasi. Munir memang suaminya, tapi bukan miliknya sepenuhnya. Ia bangga bersuamikan Munir dan menjadi ibu bagi dua anaknya. Sementara itu, diakuinya: Munir ikon perjuangan penegakan HAM dan prodemokrasi, dan ia milik siapa saja yang punya kesamaan visi perjuangan dengannya.

Kamis malam pekan lalu, di pelataran gedung Komnas Perempuan, Jakarta, Suciwati meminta para penegak HAM dan prodemokrasi melanjutkan perjuangan suaminya. Bagi Suciwati, kematian suaminya adalah momentum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan atas kematian itu. "Ini pembunuhan politis," katanya.

Suci bertemu Munir pertama kali sekitar 1991. Suci, yang saat itu mulai tertarik pada dunia buruh, ikut aktif dalam diskusi tentang perburuhan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya pos Malang yang dipimpin Munir. Dua aktivis mulai saling mengenal dan menolong. Puncaknya, ketika ia memimpin demo buruh, memprotes perusahaan yang melanggar undang-undang. Ia ditangkap dan dipenjarakan, kemudian Munir muncul, membelanya. Sejak itu, hubungan mereka semakin dekat, dan awal 1996 mereka menikah. Pernikahan yang membuahkan Soultan Alif Allende, 6 tahun, dan Diva Suukyi Larasati, 2 tahun.

Perempuan berambut ikal sepundak itu mengenang kehidupan perkawinannya. Berbagai bentuk teror menjadi bagian hidupnya bersama Munir. Tapi mereka berdua memiliki semacam konsensus tak tertulis: tak mempublikasikan serangkaian teror yang mereka terima. "Sebab, menyebarluaskan teror yang diterima berarti menyebarluaskan ketakutan," katanya.

Kepada Rommy Fibri dan Nurdin Kalim dari Tempo, yang menemuinya dalam berbagai kesempatan pekan lalu, Suci berkisah seputar kematian suami tercinta yang hingga kini masih misterius. Ia bercerita dari kesulitan mendapatkan dokumen hasil otopsi hingga perlunya dibentuk tim investigasi independen untuk mengungkap tabir gelap seputar kematian Munir. Berikut petikannya:

Kenapa Anda sulit sekali mendapatkan hasil otopsi dari aparat pemerintah?

Saya merasakan tingkat kesulitan yang tinggi. Mulai dari kedutaan, kantor Polkam, dan kepolisian tidak memberikan jawaban yang jelas. Saya tidak tahu ada apa di belakang ini semua. Kata polisi, karena ini kasus kriminal, maka hasil ini harus disimpan pihak kepolisian. Mereka mengatakan pihak keluarga tidak berhak mendapatkan dokumen itu.


Anda terkesan seperti dipingpong ketika minta hasil otopsi itu....

Saya tahu hasil otopsi sudah selesai justru dari media asing. Setelah itu saya kontak Departemen Luar Negeri. Setelah lewat beberapa meja, baru saya bisa bicara dengan salah satu pejabat Deplu. Saya minta kepada beliau agar memberi hasil otopsi. Secara birokratis mereka tidak bisa memberikan kepada saya. Bahkan ketika saya tanya isinya, dia pun berkilah tidak bisa menjelaskan karena masalah teknis.


Anda sudah mencoba menelepon Menteri Luar Negeri?

Saya sempat menelepon Menteri Luar Negeri, tapi gagal. Ada salah seorang pejabat Deplu yang katanya memegang dokumen, tapi sedang pergi ke Myanmar. Saya sempatkan menelepon ke Myanmar, tapi gagal pula. Akhirnya, saya telepon Menko Polkam Hukum Widodo A.S. Karena tidak tersambung, saya hubungi Kepala Kepolisian Da'i Bachtiar. Dijawab, dia tidak tahu apa-apa dan diminta menghubungi salah satu anak buahnya.


Anda sempat putus asa dong?

Ya. Akhirnya saya coba hubungi lagi Pak Widodo, tapi masih belum tersam-bung. Karena gagal terus, akhirnya saya pulang ke rumah. Tapi di tengah jalan, Pak Widodo mengontak saya. Beliau mengatakan itu wewenang polisi, sehingga seluruh berkas diserahkan kepada polisi.


Dengan gusar saya bertanya kenapa tidak diserahkan kepada istrinya. Pak Widodo malah mengatakan itu urusan pemerintah Belanda, kenapa menyerahkan kepada pemerintah Indonesia. Karena diserahkan ke Deplu, makanya menjadi tanggung jawab pemerintah.


Akhirnya saya telepon ke Pak Da'i (Kepala Polri Da'i Bachtiar_Red). Dari beliau, saya disarankan menghubungi salah seorang stafnya. Tapi sama saja, anak buah Kapolri pun mengatakan itu wewenang polisi dan tidak bisa diberikan kepada keluarga. Saya hanya dijanjikan bakal diundang ke Mabes Polri keesokan harinya.


Karena saya mendesak terus, akhirnya saya hanya diberi kesempatan melihat. Mereka sempat ragu-ragu, tapi akhirnya berbaik hati pula. Setelah membaca hasilnya, baru saya yakin penyebab kematian yang sebenarnya.


Apa sih yang tertera di hasil otopsi itu?

Kandungan obat-obatan yang diberikan dokter yang sempat merawat Munir di pesawat. Selain itu, ditemukan racun arsenikum yang melebihi dosis.


Anda melihat sendiri berapa kandungan racun itu?

Saya terikat janji kepada polisi untuk tidak membeberkan hal ini. Tolong pahami posisi saya (informasi yang beredar di media massa Belanda dan juga di sini, kadarnya mencapai 465 miligram_Red).


Apakah terpikir untuk mengadukan kasus ini ke pengadilan sehingga ada penetapan agar Anda diberi akses terhadap hasil otopsi?

Saya akan coba. Yang jelas, kita tunggu dulu upaya dari Usman Hamid (Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan_Red) yang sedang berada di Belanda. Dia juga sudah bekerja keras di sana.


Bukankah hasil otopsi itu termasuk hak Anda sebagai istri?

Saya sudah sampaikan hal itu, tapi tetap saja sulit mendapatkan akses. Bahkan kepada Presiden Yudhoyono pun sudah saya katakan hal ini. Saya berharap permohonan ini bisa dikabulkan.


Apa yang Anda harapkan dari Presiden Yudhoyono?

Paling penting, hak-hak saya sebagai istri dan keluarga Munir untuk memperoleh informasi harus dipenuhi. Yang kedua, saya berharap pemerintah segera membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kasus ini.


Apakah Anda menilai aparat pemerintah sangat lamban menangani kasus ini?

Sangat lamban. Saya justru sudah bergerak ke sana-kemari, tapi aparat pemerintah masih belum terlihat gregetnya.


Bagaimana tanggapan Anda atas respons Presiden Yudhoyono yang dinilai terlalu lamban?

Kita tunggu saja dulu. Katanya Presiden prihatin dengan kasus ini dan akan membentuk tim investigasi secepatnya. Presiden juga berjanji akan memantau perkembangan kasus ini setiap hari.


Lantas, apakah Anda cukup puas dengan kinerja kepolisian?

Entahlah. Yang jelas, setiap informasi justru datang dari saya. Kalau bisa mereka (polisi) yang proaktif melakukan penyelidikan dan memberikan informasi kepada saya, bukan sebaliknya. Lagi pula, Munir kan bukan hanya milik Indonesia, melainkan milik dunia internasional. Mestinya kita malu.


Pihak Departemen Luar Negeri menyatakan kooperatif dengan pihak Anda. Benarkah demikian?

Hingga kini, mereka sama sekali menutup akses. Mereka tidak pernah memberikan informasi apa pun. Justru ironis sekali, karena saya mendapatkan info dari kawan media (cetak) di Belanda. Katanya, mereka mendapatkan bahan wawancara dari pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia. Padahal, ketika saya telepon pihak Deplu, mereka mengatakan tidak berhak memberikan dokumen itu kepada saya.


Akibat lambannya penanganan, apakah Anda tidak takut kasus ini tak bakal terungkap?

Sebaiknya kita tidak berpikiran negatif. Mari kita uji pemerintahan baru, apakah benar-benar ingin mewujudkan semboyannya untuk menjalankan pemerintah yang bersih atau tidak.


Sebetulnya, seberapa penting sih hasil otopsi itu?

Itu persoalan hak. Munir kan suami saya, masak saya tidak boleh mendapatkan hasil otopsi yang diambil dari mayat suami saya? Ini juga sejarah. Nanti saya akan menjelaskan kepada anak-anak bagaimana sebenarnya kisah tentang bapaknya. Kenapa bapaknya meninggal. Itu penting sekali buat saya.


Banyak yang mengatakan, secara yuridis hasil otopsi merupakan otoritas polisi?

Saya tidak tahu soal yuridis, yang penting saya merasa itu hak saya. Toh dalam banyak kasus, pihak keluarga mudah sekali mendapatkan informasi (otopsi) ini. Kenapa dalam kasus Munir sulit sekali.


Apakah Anda sudah meminta akses kepada pemerintah Belanda?

Saya akan minta kepada mereka dengan mengirim surat permohonan. Sebagai keluarga, mestinya saya bisa mendapatkan hasil otopsi. Saya berharap mereka secepatnya memberikan hasil otopsi kepada saya. Selain itu, semoga mereka bersedia bergabung dalam tim investigasi Indonesia agar kasusnya segera terungkap.


Kalau nanti dibentuk tim investigasi, Anda akan menyerahkan keanggotaan sepenuhnya kepada pemerintah atau punya permintaan tertentu?

Sebaiknya anggota tim berisi para ahli ditambah tokoh-tokoh penting. Staf yang ahli dibutuhkan untuk pekerjaan teknis, sementara para tokoh sangat berguna untuk mengontrol kinerja tim. Dengan komposisi tersebut, saya berharap tim bisa bekerja secara optimal.


Banyak pihak menilai pembunuhan Munir sebagai simbol ancaman terhadap aktivis HAM di Indonesia....

Menyerang Munir sama saja menyerang simbol aktivis pergerakan hak asasi manusia. Kalau Munir yang sudah menjadi simbol pergerakan bisa diperlakukan sedemikian kejam, bagaimana dengan aktivis-aktivis muda lain? Kalau kita diamkan kasus ini, maka akan semakin banyak korban yang bakal berjatuhan. Korban itu bukan hanya aktivis dan pejuang hak asasi manusia, melainkan juga wartawan, dokter, dan kelompok-kelompok aktivis lain. Sebaiknya kita semua bersatu agar kezaliman tidak merajalela.


Apakah ini berarti catatan buruk bagi proses demokrasi di Indonesia?

Jelas. Ini merupakan lampu merah bagi seluruh aktivis di Indonesia. Kalau orang seperti Munir saja bisa dicederai, apalagi masyarakat lain. Ibaratnya, ikon perjuangannya saja bisa dibunuh, bagaimana pula dengan aktivis yang lebih muda.


Soal kawan sesama aktivis, apakah Anda merasa solidaritas mereka sudah cukup?

Saya merasa solidaritas teman-teman sangat tinggi. Mereka juga menyadari kasus ini merupakan kepentingan bersama. Kalau Munir bisa dibunuh, mereka juga ngeri ini menjadi ancaman bagi semua.


Selain solidaritas, apa lagi yang Anda harapkan?

Tugas-tugas besar yang tertinggal dan belum sempat dilakukan Munir harus dilanjutkan. Kematian Munir bukannya ancaman, melainkan justru menjadi tonggak perjuangan bersama melawan tirani dan kejahatan kriminal.


Apa sih kasus terakhir yang ditangani Munir?

Jangan membicarakan hal itu, karena ini pasti berkaitan dengan teror-teror yang saya terima. Dan saya punya sikap tidak membeberkan teror-teror ini, karena dengan sikap demikian berarti saya ikut menyebarluaskan teror itu sendiri.


Anda terlihat begitu gigih menuntut keadilan atas kematian Munir. Apa sih yang menjadi target tuntutan Anda?

Ibarat wayang, kalau bisa tertangkap dalangnya, bukan hanya menangkap wayang. Di Indonesia, banyak kasus yang tertangkap hanya wayangnya, sementara dalangnya lolos semua. Apalagi ini pembunuhan politik, harusnya bisa diusut tuntas.


Sebelum kasus ini terungkap, Anda akan terus berjuang?

Pasti. Sebelum jelas hasilnya, saya tidak akan tinggal diam. Kalau ini kita biarkan berlalu begitu saja, bakal menjadi preseden buruk bagi semua aktivis di Indonesia.


Ini soal lain. Tanggal 8 Desember mendatang seharusnya merupakan hari ulang tahun ke-39 Munir. Apakah sebelumnya Anda dan almarhum punya rencana mengadakan perayaan atau pesta kecil-kecilan?

Kami tidak biasa memperingati ulang tahun kelahiran. Paling-paling hari perkawinan yang kita rayakan. Kami tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu.


Lantas pada 12 Oktober lalu, putra pertama Anda merayakan ulang tahun. Apakah juga tidak ada pesta?

Tidak. Kami hanya merayakannya dengan nyanyi-nyanyi kecil. Tidak ada budaya pemborosan model begitu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data