Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004
   
Teknologi Informasi

Lomba Cepat di Jalur Premium

Dengan jaringan kabel telepon biasa, kecepatan Internet bisa didongkrak. Sayang, masih mahal dan tak stabil.

Keuntungan Rp 120 juta hampir melayang hanya dalam bilangan menit. Sudah setengah jam Martin membuka Hotmail. Tapi situs e-mail gratisan itu tak kunjung terbuka. Padahal 30 menit lagi adalah batas akhir pengiriman desain 20 buku ke produsen susu bayi terkenal asal Amerika Serikat. Martin sangat tegang. Bulir-bulir keringat membasahi keningnya.

Dia sudah mencoba layanan tiga penyedia jasa Internet: CBN, Radnet, dan Telkomnet Instan. Semuanya lelet. Di siang bolong, pengunjung Internet memang mencapai puncaknya. "Mati aku, bisa kalah tender. Laba proyek Rp 120 juta bisa melayang, nih," kata MBA (master of business administration) lulusan Filipina yang belum punya pekerjaan tetap itu.

Hari itu Martin harus mengirim 20 file contoh desain lewat e-mail. Tiap berkas berukuran 500-800 kilobyte. Dia sudah menghitung, bila satu berkas paling cepat terkirim dalam 10 menit, mengirim 20 berkas berukuran superjumbo itu perlu 200 menit alias hampir tiga setengah jam. Jelas, ini kelewat lama. Akhirnya Martin memilih cara kuno: dia pindahkan semua berkas ke cakram digital (CD), lalu memanggil ojek, menenteng berkas tadi langsung ke penerimanya. "Cuma 30 menit sampai," ujarnya. "Proyek pun mulus."

Martin tak akan bisa melupakan tragedi ojek yang mengalahkan teknologi e-mail itu. Gara-gara lambatnya Internet, dia hampir saja kehilangan uang Rp 120 juta. Maka, ketika dia melihat iklan Telkomnet yang menjanjikan akses Internet 10 kali lebih cepat melalui telepon biasa, dia mencibir, "Mimpi kali ye, bisa secepat itu. Jaringan teleponnya saja masih sama buruknya." Toh, karena penasaran, pengusaha penerbitan buku untuk balita ini iseng mencoba layanan yang disebut i-VAS Premium itu. "Eh, ternyata lumayan, sedikit lebih cepat," kata dia.

Menurut Budi Rachmat, General Manager E-Business Telkom Divisi Multimedia, i-VAS Premium memang dirancang untuk mendongkrak kecepatan Internet lewat telepon (dial-up) tanpa harus memperbaiki kualitas kabel. Untuk keperluan ini, Telkom menggandeng sebuah perusahaan asal Singapura. Mereka menerapkan teknologi khusus yang bisa memampatkan berkas sehingga ukurannya lebih kecil. Makin kecil ukuran file, makin cepat data itu sampai ke pelanggan. Setidaknya, begitulah teorinya.

Untuk keperluan itu, Telkom bekerja sama dengan mitranya menyediakan dua server yang bertugas memampatkan berkas. Berkas mampat ini, via Internet dial-up biasa, masuk ke komputer. Sesampainya di komputer, berkas tadi dikembalikan ke bentuk asal (decompression) dengan peranti lunak khusus. Agar tidak merepotkan pemakai, peranti ini bisa bekerja dengan browser apa saja—Internet Explorer, Netscape, dan Opera. "Kecepatannya bisa meningkat 4-17 kali lipat. Tapi rata-rata 10 kali lipat," kata Budi.

Hasil uji Tempo menunjukkan akses Internet via i-VAS Premium memang sedikit lebih cepat. Membuka situs CNN, misalnya, dengan akses Telkomnet biasa, butuh waktu 1 menit 12 detik. Dengan i-VAS Premium, waktu yang dibutuhkan berkurang jadi 1 menit 1 detik. Halaman situs koran New York Times juga bisa dibuka lebih cepat 20 detik. Akses sedikit lebih cepat juga terasa saat uji pengambilan gambar. Satu gambar format JPG berukuran 344 kilobyte (sekitar sepertiga dari kapasitas disket) bisa dibuka dalam waktu 8,29 detik.

Untuk menggunakan layanan ini, pengguna Telkomnet harus membeli kartu i-VAS (Internet Value Added Services). Ini semacam kartu prabayar yang untuk sementara baru tersedia dalam pecahan Rp 25 ribu dan Rp 50 ribu. Di kartu prabayar ada nama dan kata sandi yang harus dimasukkan ke peranti lunak Premium Stix. Setiap kali pemakaian, otomatis nilai voucer akan berkurang Rp 135 per menit. Pelanggan juga masih harus membayar lagi jasa Telkomnet Instan yang tarifnya Rp 160 per menit. Ini berarti, memakai Internet via i-VAS per menit total menghabiskan Rp 295, alias Rp 17.700 per jam. Bandingkan ongkos ini dengan tarif Telkomnet Instan biasa yang hanya Rp 9.900 per jam.

Selain Telkomnet, Indosatnet, salah satu divisi di Indosat Mega Media (IM2), juga mengeluarkan terobosan sejenis: Power Surf. "Dengan teknologi ini, kecepatan transfer data meningkat lima kali lipat," tutur Brata T. Hardjosubroto, Direktur Utama Indosat Mega Media, saat peluncuran produk ini pada Agustus silam. Tentu, kecepatan itu juga tergantung kualitas kabel telepon. Ia mencontohkan, di daerah Jakarta Barat yang jaringan teleponnya masih menggunakan kabel lama, kecepatan rata-rata hanya 20-50 kilobyte per detik (kbps). "Tapi, dengan Power Surf, kecepatannya bisa 2,5 kali sampai 20 kali," katanya.

Cara kerja Power Surf juga mirip i-VAS Premium. Untuk menggunakannya, pelanggan cukup mengunduh (download) peranti lunak khusus. Namanya Premium Stix versi 1,1 untuk Telkomnet Premium dan Power Surf untuk Indosatnet. Bila sudah terpasang di komputer, saat terhubung ke Internet peranti ini akan memberikan pilihan, apakah akan menggunakan layanan yang wuz..., wuz..., atau Internet biasa.

Benarkah kecepatan teknologi pemampatan ini bisa mencapai 5-10 kali lipat dari Internet biasa? Roy Suryo, pakar telematika dari Universitas Gadjah Mada, meminta klaim kecepatan itu diterima dengan hati-hati. Ia mengingatkan, alat pengukur kecepatan download sering tidak akurat. "Kadang di pengukur kecepatan modem tertera angka 52 kbps, padahal kenyataan mungkin cuma separuhnya," katanya.

Tempo sendiri mengalami hal itu. Saat terhubung dengan Indosat maupun Telkomnet, kadang muncul saat modem bisa terhubung dengan Internet, tapi tak secuil halaman pun bisa dibuka.

Menurut Roy, teknik pemampatan memang memungkinkan perbaikan kecepatan. Namun, secara teori, file yang dimampatkan ukurannya cuma bisa mengkeret dan berkurang maksimal seperenam dari ukuran asli. "Teknologi ini bisa mempercepat, tapi tak sampai 10 kali lipat," tutur Roy. Soalnya, sepuluh kali lipat kecepatan Internet lewat telepon, yang besarnya 56 kbps, berarti sudah melebihi kecepatan akses ADSL (Asyncronous Digital Subscriber Line) seperti TelkomSpeedy. "Jelas, tak sedahsyat itu."

Dahsyat atau tidak, bagi beberapa orang kecepatan itu toh dianggap lebih bagus daripada Telkomnet biasa. Masalahnya, apakah orang mau membayar hampir dua kali lipat tarif normal untuk kecepatan yang hanya bertambah sedikit.

Burhan Sholihin, Badriah



Memburu Recehan

Pada mulanya adalah duit receh. Saat operator telepon seluler mendulang kekayaan dari duit receh dari bisnis pesan pendek (SMS), PT Telekomunikasi Indonesia, penyedia telepon pertama di Indonesia, pun mulai kepincut. Apalagi setelah pengguna Internet di Indonesia mulai menggelembung jumlahnya, mencapai 8 juta orang.

"Kalau kita bisa merengkuh sejuta pelanggan saja, betapa banyak uang yang bisa diraih," kata Budi Rachmat, General Manager E-Business PT Telkom Divisi Multimedia. Lagi pula, di Amerika Serikat, pembayaran recehan (micropayment) ini juga menggelegak. Di Amerika, micropayment adalah istilah untuk pembayaran sebesar US$ 1-5. Meski receh, jangan remehkan besarnya uang yang berputar di sini. Pada 2003 saja angka putaran itu mencapai US$ 1,9 miliar. Angka ini akan melejit dua kali lipat tahun depan.

Angka menggiurkan itulah yang mendorong Telkom merancang i-VAS (Internet Value Added Service). Saat ini layanan yang tersedia baru i-VAS Premium. Kelak, akan tersedia fasilitas game online, penjualan nada dering, logo handphone, bahkan penjualan buku dan rokok via Internet. "Kami membidik segmen yang tak bisa dilayani oleh kartu kredit," kata Budi.

BS


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
Pindad Rancang Panser Canon - 29 Ags 2008 | 20:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data