Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004
   
Olahraga

Memburu Budge dan Laver

LELAKI gaek itu seketika terkesima. Rodney George Laver, 65 tahun, terpesona dengan penampilan Roger Federer saat berlaga di Houston, Texas, baru-baru ini. "Dia berpotensi jadi pemain terbesar," kata bekas petenis kondang tersebut.

Federer memang tengah melam-bung. Dia menjadi penguasa tenis dunia tahun ini. Tiga gelar grand slam direbutnya. Dia pun menang dalam 13 partai final yang diikutinya secara beruntun. Jangan heran, petenis berusia 23 tahun ini pun menduduki peringkat nomor satu dunia.

Berat tugas yang dipikul Federer untuk mewujudkan perhitungan Laver. Sejak 1974, seorang petenis pria terbaik hanya bisa mendominasi maksimal selama tiga tahun. Artinya, untuk itu, Federer sedikitnya harus bertakhta di posisi teratas itu selama empat tahun.

Jimmy Connors, misalnya. Petenis angkuh ini merajai gelanggang tenis pada 1974-75 dengan merebut 22 gelar. Setelah itu, dia menyerahkan posisi tersebut kepada Guillermo Vilas, yang meraih 16 gelar pada 1977. Vilas pun tak lama. Bjorn Borg, si Gunung Es asal Swedia, merebutnya pada 1977-79 dengan merengkuh 32 gelar.

John McEnroe, si pemberang dari Amerika, memang merebut 54 dari 77 gelar tunggalnya sepanjang 1979-1984. Tapi dominasi sesungguhnya di arena hanyalah pada 1984, ketika dia merebut 13 gelar dan mencatat rekor menang-kalah 82-3. Ivan Lendl lalu menggusurnya dengan jadi petenis terbaik dunia pada 1986-87. Mats Wilander, meski merebut tiga gelar grand slam pada 1988, hanya bertahan setahun. Juga Pete Sampras. Meski merebut gelar petenis nomor satu pada 1995-97, posisinya berkali-kali diganggu Andre Agassi.

Berapa lama Federer bisa mempertahankan dominasinya masih jadi tanda tanya. Yang jelas, dia menghadapi dua tantangan sekaligus. Segerombolan petenis, mulai dari Lleyton Hewitt, Andy Roddick, hingga Marat Safin, terus mengincarnya. Belum lagi kemungkinan munculnya bintang baru. Tantangan lain bagi Federer adalah mempertahankan kondisi fisiknya agar tetap fit, terutama jarinya yang rentan cedera. Dia hampir tak bisa tampil sempurna di ATP Master karena cedera yang dideritanya di Swiss.

Tapi, dalam perhitungan banyak orang, Federer kini dianggap sebagai petenis paling potensial mengulang prestasi Don Budge dan Rodney George Laver, merebut semua gelar grand slam dalam setahun. Budge melakukannya pada 1938, setahun sebelum Laver lahir. Laver sendiri melampauinya dengan merebut empat gelar bergengsi itu pada 1962 dan 1969.

Tahun ini Federer sebenarnya hampir bisa mewujudkannya. Tapi di Roland Garros, tempat Prancis Terbuka digelar, langkahnya dihentikan jagoan lapangan tanah liat asal Brasil, Gustavo Kuerten. Kendati begitu, dia tidak putus asa. "Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Persaingan di bagian putra memang lebih terbuka. Begitu banyak pemain bagus di semua jenis lapangan," ujarnya.

Zulfirman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data