Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004
   
Olahraga

Karena Pernah Jadi Lelaki

Seorang pegolf yang pernah ganti kelamin akhirnya boleh berlaga di turnamen bergengsi di Eropa. Pro dan kontra masih ada.

KENDATI telah menggandrungi golf sejak masih bocah, sampai sepuluh tahun lalu ia bukan pemain yang kondang. Michael Bagger hanyalah pegolf amatir. Prestasinya paling banter memenangi sejumlah kejuaraan lokal di Melbourne, Australia. Keajaiban baru datang belakangan ini, setelah ia berusia 37 tahun. Dia menjadi pegolf profesional sekaligus memiliki kesempatan berlaga di kejuaraan bergengsi di Eropa tahun ini.

Lonjakan prestasi tidak hanya diraih dengan latihan keras. Keputusan penting yang dilakukan pada 1995 sangat menentukan. Saat itulah ia membelokkan garis nasibnya: mengubah kelamin dari laki-laki menjadi perempuan lewat operasi.

Ini fenomena yang terbilang langka. Apalagi kehadiran Michael Bagger, yang telah mengubah nama jadi Mianne Bagger, akhirnya diterima oleh kalangan pegolf profesional. Dia menjadi pegolf pertama yang pernah menjalani operasi ganti kelamin (transeksual) yang bisa tampil di Ladies European Tour 2005.

Tiket itu diraih setelah Bagger menempati urutan kesembilan dalam turnamen kualifikasi di Riva dei Tessali, Italia. Dia mampu melakukan 77 pukulan atau 5 di atas par. "Ini betul-betul luar biasa. Saya sangat gembira akhirnya mampu menjadi pemain golf profesional," tuturnya.

Dia amat diuntungkan oleh panitia tur yang mengubah aturan pada pertengahan tahun lalu. Semula semua peserta disyaratkan harus terlahir sebagai wanita, tapi akhirnya atlet yang ganti kelamin diperbolehkan ikut. Ini mengadopsi aturan baru Komite Olimpiade Internasional (IOC). Sejak Mei lalu, lembaga ini memang mengizinkan atlet yang pernah berganti kelamin berlaga di Olimpiade.

Lahir di Denmark pada 25 Desember 1966, Bagger menekuni golf sejak usia delapan tahun. Olahraga ini makin didalaminya setelah orang tuanya pindah ke Melbourne, Australia, pada 1992. Dia sudah mencapai handicap empat saat berusia 23 tahun. Sejumlah gelar juara diraihnya, kendati cuma dari turnamen lokal. Tapi impian untuk menjadi pegolf profesional belum bisa digapai sampai ia memutuskan mengubah kelamin sembilan tahun silam.

Bagger baru turun ke gelanggang golf amatir wanita setelah tiga tahun ganti kelamin. Kehadirannya mengundang pro dan kontra. Banyak pihak menilai Bagger akan mendapat sejumlah keuntungan fisik karena ia terlahir sebagai lelaki. Australia tidak memiliki aturan yang melarang atlet yang berganti kelamin berkompetisi di kejuaraan untuk wanita. Tapi asosiasi golf wanita negara itu (WGA) butuh dua tahun untuk menyimpulkan bahwa kemampuan Bagger memang tak beda dengan wanita lainnya.

Setelah menjalani operasi, Bagger sendiri merasakan kehilangan banyak kekuatan pukulannya. "Dibandingkan dengan para pemain putri, saat ini saya termasuk pemain yang memiliki pukulan pendek," katanya.

Di tengah sorotan, dia terus mengukir prestasi. Bagger menjuarai ajang South Australian State Championship pada 1999, yang diulanginya dua tahun berikutnya. Dia lalu direkrut untuk masuk tim yang mewakili Negara Bagian Australia Selatan, meski tetap ada keberatan dari pihak lawan. Pada 2003, Bagger mencetuskan niat untuk terjun ke golf profesional dengan bergabung ke Ladies Professional Golf Association (LPGA). Tapi penolakan langsung datang. "Saat ini aturan kami, semua peserta harus terlahir sebagai wanita," kata Ty Votaw, Ketua LPGA.

Keadaan kemudian membaik. Berkat dukungan sahabat-sahabatnya di WGA, pada Maret 2004 ia mendapat wild card untuk berlaga di Australian Women's Open. Inilah turnamen profesional pertama yang diikutinya. Prestasinya lumayan, ia berhasil masuk posisi 15 besar dari 156 peserta.

Seiring dengan prestasinya yang kian mencorong, ia pun mendapat kesempatan tampil pada kejuaraan profesional di Swedia, Tellia Tour, tahun ini. Sebelumnya, Bagger mesti menjalani pemeriksaan medis oleh pakar yang dikirim panitia untuk memastikan kewanitaannya. Untuk biaya berlaga dalam kejuaraan ini, ia rela menjual semua kekayaannya di Australia untuk biaya berlaga di Eropa. Hasilnya, dalam ajang yang berlangsung empat bulan ini, dia menjadi juara kedua.

Mianne Bagger semakin lega setelah panitia Ladies European Tour membuka pintu lebar-lebar. Dia lolos kualifikasi untuk berlaga sepanjang tahun depan. Bagger merasa semua ini sepadan dengan pengorbanannya. "Saya kini tak memiliki apa-apa, hanya teman dan keluarga, tapi saya merasa sangat kaya," katanya.

Suara miring yang menolak kehadirannya memang masih sering terdengar, tapi Bagger tak peduli. "Bila bertemu dengan yang tak setuju dengan kehadiran saya, saya akan menyapanya 'halo', dan kami pun berlalu menempuh arah sendiri-sendiri," ujarnya.

Nurdin Saleh


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data