Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004
   
Laporan Utama

Saat Terakhir Munir

Dalam sebuah perjalanan dengan pesawat, berbagai kejadian ini sebenarnya lumrah saja. Ada seorang bernama Munir yang bertemu dengan orang yang mengenalnya saat hendak masuk pesawat, lalu ngobrol akrab. Ada pula pramugari dan dokter yang menolong Munir saat sakit dalam pesawat, dan sebagainya. Namun, kisah sepanjang perjalanan Jakarta-Amsterdam itu kemudian menjadi penting setelah Munir, si pejuang hak asasi manusia, meninggal tiga jam sebelum pesawat mendarat di Belanda. Dari hasil otopsi ditemukan endapan racun arsenik dalam perutnya.

6 September 2004 Pukul 21.55 WIB
Munir, yang memegang tiket ekonomi kursi 40G, salah masuk ke pintu bisnis. Pollycarpus menawarkan tempat duduknya, kursi bisnis nomor 3K, kepada Munir. Polly memilih duduk di kelas premium.

Sepanjang penerbangan Munir memesan bakmi goreng dan orange juice. Pollycarpus mondar-mandir dari bar premium ke kokpit.

Pukul 23.40 WIB

Pesawat tiba di Bandara Changi, Singapura
Munir menanti di ruang tunggu. Polly bersama kru Garuda keluar dari Bandara Changi.

Ruang tunggu Bandara Changi
Munir tampak mengobrol serius dengan seseorang. Dr. Drupadi Dillon (istri H.S. Dillon, pengamat ekonomi) melihat wajah Munir pucat, tetapi tidak berani menyela pembicaraan.

7 September 00.50 WIB
Menjelang boarding, Dr. Tarmizi berkenalan dengan Munir. Setelah itu, Munir masuk pesawat dan duduk di kursinya sendiri, kursi ekonomi nomor 40G.

Pukul 04.00 WIB
Di atas Madras, India. Dr. Tarmizi, yang di kursi bisnis 1J, dibangunkan pramugari, diminta menolong Munir yang sudah enam kali muntah dan buang air besar. Munir lalu dibawa ke kursi bisnis 4E yang kosong. Ia diberi obat muntaber dan dua kali suntikan oleh Tarmizi.

Pukul 06.00 WIB
Munir meminta tidur di lantai dekat WC agar dekat dengan WC sehingga bisa cepat kalau mau muntah. Tapi, belakangan ia pindah lagi ke kursi 4E. Saat Dr. Tarmizi bangun dan sarapan pada sekitar pukul 10 WIB, Munir masih tampak tidur.

Pukul 11.05 WIB
Di langit Hungaria. Dr. Tarmizi diminta pramugari memeriksa Munir. Ternyata Munir sudah meninggal. Tiga jam kemudian pesawat mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Jenazah Munir dibawa ke ruang otopsi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data