Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004
   
Laporan Utama

Teman Ngobrol Munir itu

Sudah 17 tahun Pollycarpus menjadi pilot di Garuda. Pernah bertugas di Papua dan Timor Timur.

DIA bisa jadi hanya seorang yang kenal Munir dan kebetulan ada dalam pesawat yang juga ditumpangi almarhum saat meninggal. Dalam misteri kematian aktivis pembela hak asasi manusia itu, barangkali dia hanya "figuran" atau mungkin hanya "korban". Tak seorang pun tahu apa persisnya sebutan yang pantas dilekatkan pada tokoh ini?sampai kelak penyelidikan kasus Munir tuntas.

Tokoh ini, Pollycarpus, yang jelas memang ada dalam GA 974 yang menerbangkan Munir dari Jakarta ke Singapura. Dia memang kenal Munir. Sebuah sumber mengatakan ia datang ke acara mengenang meninggalnya pendiri Imparsial itu. Maka, Polly tahu jelas jika namanya mulai dikait-kaitkan dengan kematian Munir. Ia tak terlalu terkejut. "Istri saya yang mumet," katanya kepada Tempo, yang menemuinya di rumahnya di Tangerang, Banten, Kamis petang pekan lalu. Pilot Garuda ini punya rumah yang lumayan luas, sekitar 350 meter persegi, berada di pojok dalam kompleks. Dia punya tiga jip Willy's. Kesibukan membuatnya kurang punya waktu berakrab-ria dengan para tetangganya.

Dan menyebut namanya, orang tak menduga ia orang Jawa. "Pollycarpus itu nama pemberian orang Belanda," katanya. Nama pemberian ayahnya adalah Budihari Priyanto. Sang ayah, Budi Santoso, seorang paranormal dan ahli pengobatan alternatif yang tinggal di Ungaran, Jawa Tengah?yang terkenal dengan pertunjukan harakiri pada setiap Muharam. Berusia 43 tahun, menurut saudara-saudaranya di Ungaran, Polly besar di Papua. Nama babtis itu ia peroleh di sana. "Saya sempat dua-tiga tahun menjadi pilot untuk misi (gereja). Terbang sendiri bawa orang sakit atau sayuran," Polly berkisah. Sampai sekarang kadang-kadang ia masih berkunjung ke sana. Akhir-akhir ini, bila terbang ke Papua, ia berburu buah merah yang terkenal manjur sebagai obat melawan kanker.

Bersama Hera, istrinya, Polly memang sedang menekuni aneka ramuan obat herbal tradisional di sela-sela pekerjaannya di Garuda. "Kami sedang mengajukan paten dan izin Departemen Kesehatan," katanya sambil menunjukkan puluhan toples besar dengan macam-macam dedaunan kering dan botol berisi aneka cairan di samping ruang makannya. "Itulah sedikit ilmu yang saya pelajari dari Bapak," kata Polly menjelaskan "karier sampingan"-nya.

Karier utamanya tetap pilot. Setelah menjadi penerbang misi di Papua, 17 tahun yang lalu Polly memutuskan bergabung di Garuda. Dari menerbangkan Fokker 28, ia kini naik kelas dengan menerbangkan Boeing 737, dan beberapa tahun terakhir ia menjadi kapten pilot untuk Airbus 330. Ia tertawa ketika ditanya soal kabar dari beberapa koleganya bahwa dia masuk Garuda atas dukungan sebuah institusi intelijen. "Binatang apa saya ini, kok sampai hebat begitu? Ngarang itu."

Menurut bapak dua putri dan satu putra ini, kepedulian dia pada sesama selalu membawanya mengarungi perjalanan menarik dan menantang. Ia menjadi penerbang misi di Papua pada 1985-1987, ketika wilayah itu belum sepenuhnya stabil. Polly juga hadir di Timor Timur ketika provinsi itu bergolak pada 1999. "Saya ikut menerbangkan pesawat dalam evakuasi warga Indonesia di sana," ia bercerita. Ceritanya dibenarkan Eurico Guterrez, bekas wakil komandan milisi pro-Indonesia. "Saya pernah dengar Polly dari Garuda ikut membantu. Dia mengontak saya beberapa kali satu-dua tahun lalu," kata Eurico Guterrez kepada Tempo pekan lalu.

Pengalaman di Timor Timurlah yang membawanya mengenal banyak aktivis. "Saya juga kenal Pak Hendardi," katanya menyebut nama Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia. Maret lalu ia mengaku membawa dua teman asal Timor Timur ke kantor PBHI. "Sebelum itu saya antar juga mereka ke Pak Munir, tapi saya hanya di depan kantor dan tidak ikut ketemu," ujarnya. Itu pertemuan kedua dengan Munir, kata dia. Yang pertama terjadi dalam sebuah aksi memperingati Hari Perempuan Sedunia beberapa tahun silam di Bundaran Hotel Indonesia. "Pak Munir membagikan bunga dan kebetulan saya lewat. Kami sempat ngobrol," katanya.

Teman ngobrol itu sudah pergi, untuk selamanya. Hera, istri Polly, menyesalkan mengapa suaminya memberikan kursi 03K miliknya di kelas bisnis kepada Munir?tindakan yang sekarang bisa "berekor panjang". "Dia itu terlalu baik sama orang, sih," kata Hera. Dan sebelum penyelidikan kelar, kita tak tahu pasti: adakah Polly ini "si baik yang lagi sial", "figuran", "korban", atau....

Y. Tomi Aryanto, Agung Rulianto, Sohirin (Ungaran)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Mozaik Kisah Perjalanan Gaghana - 07 Sep 2008 | 14:46 WIB
Jazz, Enak dan Nyaman buat Ngebut - 07 Sep 2008 | 14:37 WIB
'Selamatkan Dunia, Kurangi Makan Daging'   - 07 Sep 2008 | 14:33 WIB
Berlabuh di Kahyangan, Mencicipi Wisata Sumbawa - 07 Sep 2008 | 14:18 WIB
Wayne Rooney Kecanduan PlayStation - 07 Sep 2008 | 14:05 WIB
Setio Rahardjo Meninggal Dunia - 07 Sep 2008 | 14:01 WIB
Menu Istimewa Eros Djarot - 07 Sep 2008 | 13:45 WIB
Jangan Gula Sembarang Gula - 07 Sep 2008 | 13:34 WIB
Tiga Pekerja Indonesia Disiksa di Irak - 07 Sep 2008 | 13:18 WIB
Si Centil Amanda Seyfried - 07 Sep 2008 | 13:16 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data