Teka-teki dari Kabin Garuda Sebanyak 21 saksi telah diperiksa polisi untuk mengusut kematian Munir. Diduga ia diracun lewat makanan atau minuman. |
KECEMASAN kini menyergap orang-orang Garuda Indonesia. Terutama para pilot dan awak yang ikut dalam pesawat dengan nomor penerbangan GA 974 yang terbang dari Jakarta menuju Amsterdam, 6 September lalu. Dalam penerbangan inilah Munir meninggal dan diduga karena diracun dengan arsenik. Mau tidak mau mereka harus diperiksa polisi demi mengungkap misteri kematian si pejuang hak asasi manusia.
Tak hanya gelisah karena mesti berurusan dengan aparat, para awak Garuda juga takut kemungkinan adanya teror. Mereka pun enggan memberikan informasi kepada pers. "Ini kan menyangkut soal besar di luar Garuda. Kami takut malah ikut jadi target," kata salah seorang kru.
Sejauh ini 21 saksi telah diperiksa Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri untuk mengungkap kasus kematian Munir. Mereka di antaranya sejumlah awak Garuda yang dimintai keterangan pada Sabtu pekan lalu. Saksi lain yang sudah dipanggil adalah istri Munir, Suciwati, dan Dokter Tarmizi Hakim dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, yang memberikan pertolongan ketika Munir mulai sakit di pesawat.
Bisa saja jumlah saksi yang dipanggil akan bertambah. Selain awak pesawat, para penumpang juga bisa dijadikan saksi. Menurut data general declaration yang dimiliki Tempo, jumlah seluruh awak penerbangan GA-974 itu mencapai 41 orang. Ditambah dengan penumpang, pesawat Boeing 747 itu mengangkut 352 orang.
Menurut Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Suyitno Landung, awak Garuda yang dipastikan menjadi saksi antara lain Pantun Matondang (kapten pilot), dan dua penyelia awak kabin, yakni Madjib Radjab Nasution dan Brahmanie Hastawati.
Dalam penerbangan itu Garuda sebenarnya membawa tiga grup awak kokpit. Kelompok pertama, dipimpin oleh Kapten Sabur Muhamad Taufik, menerbangkan pesawat dari Jakarta ke Singapura. Dia dibantu oleh Brahmanie sebagai salah satu penyelia awak kabin. Kelompok kedua dipimpin Matondang, yang membawa pesawat dari Singapura. Di pertengahan perjalanan mereka digantikan oleh kelompok Kapten Widyo Kirono Kusumowidjojo, yang menerbangkan pesawat sampai Amsterdam.
Munir sendiri mulai merasakan kesakitan setelah pesawat terbang selama tiga jam dari Bandara Changi, Singapura. Penerbangan saat itu dipimpin oleh Matondang. Ia didampingi oleh Madjib Radjab, yang menjadi penyelia awak kabin. Madjib pula yang meminta Dokter Tarmizi membantu memberikan pertolongan kepada Munir dengan obat-obatan dan perangkat medis terbatas yang tersedia di pesawat.
Saat itu Tarmizi mendapati lelaki 39 tahun tersebut sudah kepayahan karena muntah dan berak sebanyak enam kali dalam rentang waktu setengah jam. Ahli jantung yang sempat berkenalan dengan Munir di Singapura ini menduga ia terserang muntaber. Karena itu, Tarmizi memberikan larutan gula garam untuk menggantikan infus. "Muntah beraknya hebat sekali," katanya.
Dua jam kemudian Tarmizi memberikan suntikan untuk mengurangi muntah dan mencret. Lalu, setengah jam berselang, suntikan obat penenang disusulkan agar Munir bisa tidur. Semua bisa tenang istirahat untuk sementara. Hanya lima jam kemudian, ketika Madjib dan Tarmizi menengok Munir, tubuh bekas Direktur Imparsial ini sudah dingin dan kaku. Munir dipastikan sudah meninggal.
Dari otoposi Netherlands Forensic Institute (NFI) di Amsterdam, ternyata ditemukan racun arsenik di tubuh Munir dalam jumlah tiga kali lipat dari batas normal. Racun yang di Jawa sering dipakai mencuci keris ini diduga masuk ke tubuh Munir melalui saluran pencernaan. Soalnya, sebagian besar endapan masih berada di bagian perut.
Hanya, polisi belum bisa memastikan kapan persisnya racun itu masuk ke tubuh Munir. "Kami akan menelusuri perjalanan Munir dari Indonesia ke Belanda, dan sempat turun transit sejam di Singapura itu," kata Suyitno Landung. "Biasanya orang kan belanja di sana."
Kemungkinan racun itu masuk melalui makanan atau minuman sebelum di pesawat ketika Munir masih di Jakarta diragukan kerabat dan orang-orang dekat almarhum yang mengantar sampai bandar udara di Cengkareng. Kepada polisi Suciwati mengaku selalu mendampingi suaminya selama seminggu sebelum berangkat. "Almarhum tidak suka jajan atau makan di restoran," kata sang istri.
Dari Suci pula diketahui bahwa Munir sempat mengirim pesan pendek melalui telepon seluler ketika tengah transit di Changi, lewat tengah malam. Isinya menceritakan bahwa perut Munir terasa tidak enak. Jadi, ada kemungkinan ia diracun dalam penerbangan dari Jakarta ke Singapura. Tapi berbagai kemungkinan lain masih terbuka.
Sejauh ini polisi juga tak membatasi pemeriksaan hanya atas awak Garuda yang tengah bertugas selama penerbangan. Menurut Suyitno Landung, pihaknya, yang bekerja sama dengan Garuda melalui Direktur Operasi Kapten Rudy A. Hardono, sudah mengantongi nama-nama orang Garuda yang akan diperiksa. "Pemeriksaan juga akan dilakukan terhadap mereka yang tidak sedang bekerja," ia menjelaskan.
Kebetulan dalam penerbangan itu ada pula pilot Garuda yang tidak tengah bertugas menerbangkan pesawat dan ikut naik dari Jakarta sampai Singapura. Sesuai dengan surat penugasan yang ditandatangani Direktur Utama Garuda Indra Setiawan, ada nama Pollycarpus Budihari Priyanto, yang saat itu ditugasi sebagai tenaga pengawas yang akan mengevaluasi penerbangan. Laporan Polly nantinya diperlukan sebagai bahan pelatihan bagi awak Garuda lainnya.
Pollycarpus bisa menjadi saksi penting karena saat itu sempat ngobrol dengan Munir ketika boarding di Bandara Soekarno-Hatta. Menurut Polly, saat itu Munir salah masuk ke kelas bisnis. Padahal ia memegang tiket ekonomi dengan nomor kursi 40G. Akhirnya Polly menawarkan tempat duduknya, kursi bisnis nomor 3K, kepadanya. Polly sendiri memilih duduk di kelas premium. Dalam daftar penumpang, kursi yang diberikan kepada Munir itu ditandai keterangan "for official use only".
Sesuai dengan surat tugasnya, Polly hanya mengikuti penerbangan itu sampai Singapura. Paginya ia sudah harus berada di Jakarta untuk ikut serta dalam acara sarasehan karyawan Garuda di Hotel Ambhara.
Kawan-kawan Munir di Jakarta ternyata juga mengenal Polly. Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Indonesia (PBHI) Hendardi, misalnya, mengaku ditemui oleh Polly. Menurut Hendardi, saat itu ia sempat datang ke kantornya masih dengan seragam lengkap. Polly mengantar dua temannya yang asal Timor Timur. Setelah itu ia masih sering mengontak Hendardi, tapi kemudian tak banyak ditanggapi. "Mungkin dia juga pernah berhubungan dengan Munir," ujarnya.
Ketika ditemui Tempo Kamis petang pekan lalu di rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang, Polly mengaku sudah mendengar dan membaca berita-berita menyangkut dirinya itu. "Saya hanya prihatin. Tapi saya lebih kasihan pada keluarga Pak Munir," katanya. Dia juga mengaku pernah bertatap muka dengan Suciwati dan kerabat Munir di kantor Garuda pada awal November lalu (lihat juga Teman Ngobrol Munir Itu).
Sampai akhir pekan lalu, polisi belum menentukan tersangka. Hanya, ada kabar mereka telah mengantongi empat nama yang mungkin akan menjadi tersangka, terdiri dari tiga orang dari militer dan seorang warga sipil. Namun isu ini telah dibantah oleh juru bicara Presiden, Andi Alfian Mallarangeng. Dia menyatakan, hal itu tidak ada dalam laporan Kapolri kepada Presiden Yudhoyono.
Belum adanya tersangka membuat kematian Munir masih penuh teka-teki. Apalagi belakangan banyak teror berseliweran. Dua paket teror berisi bangkai ayam yang disertai ancaman pernah dikirim ke alamat Suciwati di Bekasi dan kantor Imparsial di Jalan Diponegoro 9, Jakarta. Istri Munir dan lembaga Imparsial memang paling gencar meminta pemerintah agar mengusut dengan serius kasus kematian Munir.
Situasi semacam itu mungkin yang membuat awak Garuda menjadi cemas, dan enggan bicara.
Y. Tomi Aryanto, Agung Rulianto, Eduardus K. Dewanto, Yophiandi, Indra Darmawan
|