Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004
   
Luar Negeri

Dua Sekawan, Tak Sudi Dibelah

TAK semua rakyat Amerika Serikat mendukung Presiden Bush—itu pasti. Tapi kalau sampai seorang Senator Republik berani menampik permintaan sang Godly Man—julukan yang diberikan pendukung fanatik Bush untuk Presiden (Tempo edisi 39, 28 November 2004, Demi Mandat dari Langit), barangkali cuma Frank James Sensenbrenner Jr., 61 tahun, asal Wisconsin dan Duncan Lee Hunter, 56 tahun, dari California yang berani melakukannya secara terbuka. "Kami sudah lama bekerja sama. Satu kesalahan bila ada pihak yang berpikir mereka bisa melemahkan dan menaklukkan salah seorang dari kami. Kami tak bisa dipecah belah," ujar Sensenbrenner seperti dikutip The Washington Times.

Sensenbrenner saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi Perundang-undangan Senat. Komisi yang berdiri pada 3 Juni 1813 ini bertanggung jawab atas berbagai proses yudisial di tingkat federal. Komisi ini juga memegang peranan penting dalam menyetujui proses impeachment terhadap tiga Presiden AS, yakni Andrew Johnson (1816), Richard Nixon (1974), dan Bill Clinton (1998).

Keberatan utama Sensenbrenner terhadap RUU itu adalah karena penekanannya yang terlalu terfokus pada pembentukan lembaga, dan bukannya merapikan sistem. "Kalau setiap orang dengan mudah mendapat izin mengemudi, maka terorisme akan berbiak dengan cepat di sini," katanya. Ia menuntut pengetatan standar izin mengemudi secara nasional, itu pun bila calon penerima SIM sudah secara legal bermukim di AS.

Sementara itu, Duncan Hunter yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi Layanan Bersenjata Senat, menyatakan tahu betul bahwa Bush dan Hastert menginginkan RUU itu lolos di Senat. Namun, "Dengan memiliki seorang anak yang baru kembali dari tugas keduanya di Fallujah, orang-orang seperti itulah (baca: prajurit) yang saya perhatikan," kata Hunter. Anak Hunter, Letnan Satu Duncan Duane Hunter, bertugas di Irak sejak 2003.

Sensenbrenner melunak ketika Bush meneleponnya, meminta agar syarat itu ditanggalkan. Namun, sarjana hukum dari Universitas Wisconsin, Madison, yang sudah berkiprah di Senat sejak 1979 itu juga tak mau rugi. Dia meminta reformasi undang-undang keimigrasian disertakan sebagai bagian terpenting dari RUU intelijen. "Sistem keimigrasian kita sudah lama dipermainkan banyak orang, termasuk teroris. Banyak lubang rapuh. Jika tak ditambal, negeri ini selalu dalam bahaya," katanya. Ia juga yakin, "Warga Amerika saat ini makin berbondong-bondong berdiri di pihak kami."

Akmal Nasery Basral


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data