Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXIII/22 - 28 November 2004
   
Teknologi Informasi

Berguru pada Sejuta Begawan

Makassar membangun proyek ambisius sekolah online senilai Rp 7,5 miliar. Murid pun belajar pada banyak guru.

Anak-anak berseragam biru-putih itu berebut melihat papan pengumuman. Berdesak-desakan. "Cihui..., aku diterima di SMA paling top di Makassar," ujar seorang anak berseragam SMP. "Selamat, ya, selamat," kata yang lain. Desak-desakan mirip antrean membeli tiket kereta api Lebaran itu berlangsung hingga matahari tepat di atas kepala. Ketika matahari makin tak ramah, kerumunan anak-anak SMP yang berebut melihat pengumuman penerimaan siswa baru itu akhirnya buyar.

Nun jauh di seberang lautan, ribuan kilometer dari Makassar, di sebuah hotel di Jakarta Selatan, senyum serupa mengembang di wajah Andi. Matanya tak berkedip menatap layar komputer. Sambil merampungkan pekerjaan kantornya, dia bisa mengintip hasil pengumuman penerimaan siswa baru di sekolah anaknya.

Lewat komputer, jarak Makassar-Jakarta memang cuma sekedipan mata. Berkat Internet, siaran langsung pengumuman penerimaan siswa baru itu bisa dilihat di mana saja di kolong langit ini.

Bukan cuma hasilnya yang mudah dilihat dari penjuru mana saja yang bisa dinikmati. Andi juga melihat peringkat anaknya dan peringkat semua siswa yang mendaftar di sekolah itu. Semua transparan. Tak ada lagi tempat bersembunyi para penyogok yang ingin mendapatkan jatah kursi di sekolah favorit. "Hmm..., lumayan juga, tak ada yang menyogok untuk membeli jatah bangku kelas," ujarnya bergumam.

Orang tua yang ingin mengawasi anaknya dari jauh cukup mengklik situs MakassarCyber.com. Di situs ini, laporan guru, pekerjaan rumah, kurikulum, bahan pelajaran, rapor anak, bahkan di bab mana sang anak harus ikut her alias mengulang ujian. "Tak ada satu nilai pun yang tercecer," kata Taufik Hidayat, sang pemilik gagasan MakassarCyber.com ini.

Teknologi itu kini diterapkan di sepuluh SMA di Makassar. Sekolah yang tergabung dengan proyek ini adalah SMA Negeri 1, 2, 3, 5, 9, 10, 14, 15, 17, dan Madrasah Aliyah Negeri Makassar. "Tanpa dukungan teknologi informasi, Indonesia akan jauh ketinggalan," ujar Direktur Utama Sistem Sekolah Cerdas Indonesia (SSCI) itu. Malaysia, kata dia, sudah memulai program sekolah online sejak 1998 dengan proyek Sekolah Bestari (smart school) di 79 sekolah.

Agar tak ketinggalan dengan negeri tetangga itulah, Taufik merangkul Pemerintah Daerah Makassar untuk menerapkan ide ini. Gayung pun bersambut. Pemerintah setempat sudi mengucurkan dana Rp 750 juta per sekolah atau sekitar Rp 7,5 miliar untuk sepuluh sekolah.

Ya, Rp 7,5 miliar, jumlah yang membuat proyek sekolah online ini tiada lawan dan tiada tandingnya di Indonesia. Proyek ini hanya terkalahkan dengan pembangunan jaringan Internet nirkabel di Universitas Pelita Harapan. Kampus milik bos Grup Lippo Mochtar Riady itu beberapa bulan lalu "membagi-bagikan" 3.000 PC Tablet _ sejenis laptop, satu set harganya minimal Rp 15 juta?kepada para dosen dan mahasiswanya untuk dicicil.

Sebenarnya, sistem sekolah online sudah dibikin oleh SekolahIndonesia.com. Hanya, sistem ini tak selengkap MakassarCyber.com. Pada sistem yang diadopsi beberapa sekolah swasta di Jakarta itu?di antaranya SMP Muhammadiyah 9 dan SD Bakti Mulya 400 yang berlokasi di Pondok Indah, Jakarta?tak ada sistem penerimaan siswa baru online. Selain itu, sistem tersebut juga tak berbasis Kurikulum 2004.

Hal itu berbeda dengan MakassarCyber.com. Proyek ambisius ini menjanjikan segudang fasilitas. Ada sistem penerimaan siswa baru yang antisuap. Juga ada pengaturan kelas otomatis, pembuatan buku induk. Selain itu juga ada sistem pembuatan bahan pelajaran, hingga pemantauan semua nilai siswa, mulai dari PR, kuis lisan, hingga ujian tertulis. "Inilah sistem pertama yang dibuat dengan kurikulum terbaru, Kurikulum 2004," tutur Taufik Hidayat.

Dia menjelaskan, tanpa sistem sekolah online ini, guru pasti kerepotan setengah mati untuk menyiapkan bahan pelajaran dan menilai setiap aspek kemajuan murid. Pada pelajaran matematika kelas X (dulu dikenal dengan kelas 1 SMU), misalnya, sedikitnya ada 10 kompetensi dasar (semacam bab dari sebuah pelajaran) yang harus dinilai. Bila tiap kelas ada 40 siswa, setiap guru harus mengawasi 400 kompetensi dasar. Dan jika guru itu memegang 10 kelas, dia harus memelototi 4.000 kompetensi dasar.

Impian pemerintah Makassar, kelak sistem ini juga akan berkembang menjadi program e-learning. Bila program itu terwujud, guru tak akan lagi menjadi sumber ilmu tunggal seperti sekarang. Berkat teknologi ini, siswa bisa berguru pada jutaan begawan berbagai ilmu yang ada di jagat Internet. Guru pun akhirnya cuma menjadi fasilitator. "Kami berharap sistem ini bisa mengubah cara belajar-mengajar," kata Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajudin dalam keterangan persnya. Proyek ini juga diharapkan memercikkan kemajuan di wilayah Indonesia timur.

Agar tak menggantang asap, kini di 10 sekolah itu sedang dibangun infrastruktur koneksi Internet berkecepatan tinggi. Tiap sekolah terhubung secara nirkabel dengan jaringan SSCI. Mereka menggunakan antena Canopy keluaran Motorola. Pemancar gelombang dengan frekuensi 5,7 gigahertz yang baru diluncurkan di Indonesia bulan lalu ini bisa mengalirkan data 10 megabyte per detik sejauh 50 kilometer.

Ini memang salah satu antena multifungsi. Dia bisa mengirim data dari titik satu ke titik lain (point to point), bisa juga dari satu titik ke banyak titik penerima (point to multipoint), persis seperti cara kerja antena BTS (base transceiver system) pada sinyal telepon seluler.

Taufik kesengsem dengan produk ini saat dia berburu ke pameran komputer di Singapura pada 2003. Produk ini, katanya, cocok untuk mengatasi tumpang tindih Internet nirkabel yang sudah terjadi di kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Tempo pernah menjajal keluwesan antena yang bentuknya seperti sebilah papan ukuran 40x10 centimeter persegi ini. Bila dicolokkan ke telepon, antena ini bisa langsung digunakan sebagai infrastruktur untuk ngobrol dengan suara yang cling jernihnya. Begitu juga bila dicolokkan ke kamera pemantau. Gambar pun lansung nongol. "Kita perlu alat yang mendukung aliran data dan multimedia," ujar Taufik memberikan alasan.

Untuk mendukung proyek mercusuar ini, saat ini SSCI telah melatih sekitar 300 guru dari target 1.000 orang guru. Menurut Fajar Sasongko, Manajer SSCI, guru-guru inilah ujung tombak MakassarCyber.com. Sejak semester baru dimulai, guru kelas X dilatih untuk menyiapkan bahan pelajaran dan mengisi penilaian online. "Banyak guru yang dulu pegang mouse pun takut, kini sudah pintar berinternet," kata Fajar senang.

Salah satu guru yang mulai kecanduan Internet adalah Gusnadi. Guru olahraga SMA Negeri 17 Makassar itu kini mungkin bisa dibilang lebih bergairah memegang tetikus (mouse) komputer ketimbang bola basket. "Dia rajin sekali belajar Internet," ujar Muh. Jafar, Kepala SMA Negeri 17 Makassar.

Jika ada seribu guru seperti Gusnadi, impian berguru pada sejuta begawan pun segera menjadi nyata.

Burhan Sholihin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data