Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XXXIII/22 - 28 November 2004
   
Opini

Siapa Meracun Munir

KECURIGAAN muncul sejak awal. Sejak Munir dikabarkan wafat dalam pesawat terbang yang membawanya ke Belanda pada 7 September silam. Ia belum pantas meninggal?usianya belum genap 39 tahun. Aktivis pembela hak-hak asasi manusia itu sekali pernah dirawat karena levernya ngadat, walau setelah itu ia tak pernah sakit gawat. Menjelang berangkat ke Belanda untuk menempuh program master pada bidang hukum, ayah dua anak ini kelihatan happy. Ia berfoto dengan istri dan rekan-rekannya di bandara dalam suasana penuh canda tawa. Maka, hasil otopsi yang dilakukan Nederlands Forensich Instituut dan diumumkan dua pekan lalu, yang menyebutkan Munir meninggal tidak wajar akibat zat arsenik, seakan-akan mengkonfirmasi kecurigaan bahwa ada yang sengaja memaksa hidupnya berakhir.

Kecurigaan seperti ini ada dasarnya. Hasil otopsi menunjukkan bahwa kandungan zat arsenik di tubuh Munir mencapai 465 mg?padahal, 150 mg saja sudah cukup membuat hidup kita tamat. Cara masuknya zat mematikan itu ke dalam tubuh Munir juga bukan tergolong "kronis" atau perlahan-lahan; misalnya karena mengkonsumsi obat, makanan, minuman yang mengandung arsen dalam periode panjang. Tapi tergolong "akut" atau datang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ditemukannya arsen di lambung?selain di dalam darah dan urine?memperkuat dugaan bahwa zat arsen itu belum terlalu lama mengendap.

Dari mana arsen itu berasal? Bagaimana bisa "bersarang" di tubuh kurus sang aktivis? Dua pertanyaan ini belum akan mendapat jawaban memadai sebelum penyelidikan dilakukan. Dengan demikian, dugaan-dugaan mengenai siapa yang menginginkan Munir "pergi" juga belum segera berjawab.

Kita tahu Munir pernah membela dengan gigih keluarga para aktivis prodemokrasi yang secara politik "dilenyapkan" oleh sebuah satuan militer. Dia pernah menjadi koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada 1998. Setelah itu, ia bergiat memonitor pelanggaran hak asasi manusia. Sebagai Direktur Eksekutif Imparsial, The Indonesian Human Right Monitor, Munir memang secara terbuka menyatakan kritiknya terhadap operasi militer di Aceh yang dinilainya sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia. Semua aktivitasnya kerap bersentuhan dengan aparat keamanan, tapi aktivitas itu sudah lama dijalaninya, bahkan sejak sebelum era reformasi 1998 yang dianggap "masa-masa gawat" bagi para aktivis prodemokrasi.

Bukankah dengan begitu "momentum" untuk menghentikan Munir sudah lewat? Secara awam "hipotesis" begini bisa diterima, tapi tak ada yang bisa menjamin kebenarannya. Lagi pula, spektrum kegiatan Munir luas. Dalam hiruk-pikuk pemberantasan korupsi di negeri ini, dia juga bergiat menyelidiki kasus-kasus yang dianggapnya penting. Belum semua kasus bisa dilacak, diangkat ke permukaan, lalu diharapkan ada tindakan hukum atas pelakunya. Karena itu, perlu bukti lebih kuat untuk mengatakan bahwa racun itu adalah reaksi pihak yang merasa "terusik".

Sebelum duga-menduga di masyarakat merebak luas, dalam jangka pendek ini, bukti yang perlu dicari adalah asal-muasal arsen itu. Penyelidikan bisa dimulai sebelum ia terbang, sebab seorang ahli forensik mengatakan, bisa saja proses peracunan itu berlangsung sejak empat hari terakhir sebelum wafat. Ahli lain menekankan bahwa Bandara Soekarno-Hatta, perjalanan pesawat Jakarta-Singapura, dan Bandara Changi (pesawat Garuda yang ditumpanginya transit satu jam di sana), adalah tempat yang paling layak dicurigai sebagai sumber zat arsenik itu.

Tentu penting benar memeriksa passenger list, untuk memastikan siapa saja di pesawat itu. Di sini juga harus dipastikan, siapa yang "berbaik hati" memberikan tiket kelas bisnis kepadanya, padahal ia membeli tiket kelas ekonomi. Munir mengaku mereguk orange juice, tapi sebaiknya dicari tahu apakah tak ada makanan lain yang disantapnya, misalnya mi goreng atau muslim meal seperti yang dikabarkan sejumlah sumber.

Dalam penyelidikan ini, bisa dibayangkan bahwa Munir adalah sosok yang mengkalkulasi setiap langkahnya, mengingat risiko tinggi pekerjaan yang dijalaninya. Ia tidak mudah menerima ajakan orang "asing" untuk makan atau minum sembarangan, apalagi di tempat yang tidak dikenalnya. Kalau benar sumber arsen ini makanan atau minuman, dan itu datang sebelum ia terbang atau di tiga lokasi tadi, si pelaku jelas orang yang punya kedekatan hubungan dengannya. Setidak-tidaknya, orang yang tidak membuat Munir curiga walau berada dalam jarak yang dekat. Dia bisa saja orang yang sebelumnya sudah "beredar" dalam hidup Munir.

Biarlah penyelidikan nanti yang memastikan kebenaran jejak-jejak itu. Penyelidikan dituntut transparan dan melibatkan kalangan independen, agar hasilnya bisa diterima dan dipercaya masyarakat luas. Untuk itu, perlu sebuah tim yang memasukkan orang yang ahli, tepercaya, dan dikenal punya integritas baik. Hasil tim itu akan jadi tolok ukur keseriusan pemerintah SBY menangani kasus pelanggaran hak asasi berat ini, sekaligus menyingkap tanda tanya yang berkecamuk di masyarakat: mengapa aktivis yang bekerja membuat Indonesia lebih baik itu harus diracun.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data