|
Kencangkan Ikat Pinggang ala BI
Langkah mengencangkan ikat pinggang diambil Bank Indonesia (BI). Bank sentral memutuskan melanjutkan kebijakan moneter yang cenderung ketat. Sa-tu tujuannya, agar laju inflasi ke depan tetap selaras dengan upaya pencapaian sasaran jangka menengah. Dalam kerangka kebijakan tersebut, "Bank Indonesia akan berupaya menyerap kelebihan likuiditas secara optimal," kata Kepala Biro Komunikasi BI Rizal A. Djaafara.
Pertimbangannya, Rizal menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi, baik triwulan keempat maupun sepanjang tahun ini, masih sesuai dengan target. Lalu, pola ekspansi ekonomi masih didominasi peningkatan konsumsi domestik. Pola ini mempunyai potensi meningkatkan tekanan terhadap kestabilan ekonomi. "Permintaan domestik merupakan faktor yang berperan penting terhadap laju inflasi," ujar Rizal.
Ke depan, BI akan terus memonitor inflasi dengan saksama. Laju inflasi tahun ini sudah mencapai 4,38 persen. Pemerintah mematok 7 persen. Sedangkan, tahun depan 5,5 persen. Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi masih akan meningkat, didorong oleh perminta-an domestik khususnya konsumsi, investasi, dan impor. Ekspor akan tumbuh meningkat meskipun masih relatif terbatas. Kata Rizal, "ekonomi tahun ini diperkirakan tumbuh 5 persen."
Permata Tak Dijual Murah
Perusahaan Pengelola Aset akan kembali melepas saham PT Bank Permata yang dikuasainya. Penjualan 20 persen saham itu akan dilakukan melalui pasar (market placement). Dalam divestasi yang direncanakan pada Desember nanti, pemerintah berharap memperoleh harga penjualan tak kurang dari harga yang dibayar oleh konsorsium Standard Chartered-Astra.
Saat ditetapkan sebagai pembeli 51 persen saham Permata, Standard Chartered dan Astra menawar Rp 2,77 triliun atau 3,18 kali jika dihitung berdasar rasio harga terhadap nilai buku Permata pada akhir 2003. Harga itu merupakan rekor tertinggi yang diukir pemerintah selama melakukan divestasi saham perbankan.
"Kalau tidak bisa (lebih dari harga itu), ya minimal sama," kata Wakil Direktur Utama PPA Raden Pardede, pertengahan November silam. Sejauh ini, konsorsium Standard Chartered dan Astra telah menyatakan niat untuk memperbesar kepemilikan mereka di Permata. Tetapi, karena divestasi dilakukan melalui pasar, "Masih terbuka peluang bagi calon pembeli lain," ujar Direktur PPA Ananda Barata.
Setelah mendivestasi 20 saham Permata, PPA berencana melepas kepemilikan minoritas di beberapa bank, seperti Danamon. "Jika pemerintah meminta (divestasi) untuk keperluan anggaran, kita siap," ujar Raden. Namun, divestasi itu paling cepat baru akan berlangsung tahun depan.
Tiga Petinggi KBC Di-gijzeling
Kasus Karaha Bodas Company (KBC) memasuki babak baru. Direktorat Jenderal Pajak akan melakukan sandera badan atau gizjeling terhadap tiga petinggi KBC. Ketiganya bakal masuk bui, yaitu Direktur KBC berinisial RDMC dan LSP, serta Manajer Keuangan KBC berinisial MC. Mereka terkait kasus pidana dan menunggak pajak, yang nilainya mencapai US$ 126 juta (Rp 1,134 triliun).
Menurut Dirjen Pajak Hadi Poernomo, RDMC dan MC berkewarganegaraan Amerika Serikat. Sedangkan LSP berkebangsaan Indonesia. "Kami sudah resmi keluarkan surat paksa badan," kata Hadi. Ketiga orang ini belum diketahui di mana rimbanya. Namun, Ditjen Pajak dibantu pihak kepolisian akan segera melacak keberadaan mereka. Jika sudah tertangkap akan dimasukkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.
Tunggakan yang menggunung itu, kata Hadi, baru ketahuan saat gelar perkara kasus KBC di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena Ditjen Pajak tidak memiliki akses melakukan penyidikan. Nilai tunggakan ini merupakan akumulasi sejak Mei 1998 sampai tahun 2000. "Kami juga menemukan indikasi tindak pidana perpajakan," ujarnya. Pihaknya sudah menerbitkan Surat Pemberitahuan Dilakukan Penyidikan ke kepolisian dan kejaksaan.
Kredit Bank Meningkat
Pengucuran kredit perbankan terus meningkat. Fungsi intermediasi perbankan nasional secara bertahap menunjukkan perbaikan. Data Bank Indonesia menyebutkan, hingga September lalu, total kredit yang digelontorkan mencapai Rp 555,09 triliun. Bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, hanya Rp 477,19 triliun. Artinya, meningkat 16,32 persen atau Rp 77,9 triliun. Dana pihak ketiga juga naik 4,3 persen menjadi Rp 926,4 triliun dari posisi akhir 2003.
Kredit baru yang digelontorkan sepanjang September 2004 Rp 12,9 triliun. Sehing-ga total kredit baru sejak Januari sampai September lalu sudah mencapai Rp 70 triliun. Sedangkan kredit usaha kecil menengah hingga Agustus lalu tumbuh 3,1 persen menjadi Rp 256,4 triliun. Bank sentral akan terus mendorong fungsi intermediasi perbankan, sekaligus mengimbau perbankan untuk terus memfungsikan pengawasan internal secara intensif.
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk. Sigit Pramono mengatakan, pihaknya akan menambah kucuran kredit. Tahun depan, BNI mematok pertumbuhan kredit 25 persen menjadi Rp 58 triliun. Angka yang hampir sama juga dipatok bank-bank lain. Pascakrisis, banyak bank yang melakukan perbaikan internal dan eksternal. Selain itu, pertumbuhan ekonomi diprediksi bakal lebih tinggi.
Tak Perlu Impor Beras
Ini kabar yang menyenangkan bagi para petani. Tahun depan, Indonesia diperkirakan tak perlu mengimpor beras. Direktorat Jenderal Bina Produksi Pangan Departemen Pertanian Ja'far Hafsah memperkirakan iklim sepanjang tahun depan tak akan berbeda dengan tahun ini. Karena itu, produksi beras diperkirakan akan kembali mengalami surplus. Tahun ini, Indonesia mencatat surplus produksi sebanyak 2 juta ton. Angka itu merupakan catatan persediaan beras yang ada di Badan Urusan Logistik (Bulog).
Departemen Pertanian menargetkan produksi padi 2005 sebanyak 54,25 juta ton. Un-tuk itu, sejumlah langkah telah disiapkan, seperti memperluas areal tanam dan kantong penyangga produksi. Perluasan areal tanaman saat ini telah mencapai 420 ribu hektare, sementara kantong penyangga yang dipersiapkan mencapai 200 ribu hektare.
Sejak awal tahun, impor beras telah dilarang. Larangan yang semula berakhir Juni kemarin, malah diperpanjang hingga akhir tahun ini. Kendati demikian, larangan impor disinyalir tak efektif. Data International Rice Trade, yang dikutip oleh Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menunjukkan bahwa selama Januari hingga Mei 2004 ada 1,2 juta ton beras yang masuk ke Indonesia.
Penumpang Bertambah, Biaya Melambung
Pendapatan Merpati Nusantara Airlines naik 10 persen dalam Lebaran tahun ini. Setiap bulan, perusahaan penerbangan itu meraih pendapatan sekitar Rp 130 miliar. Sekretaris Perusahaan Merpati, Jaka Pujiono, mengatakan, kenaikan itu tak sebesar hitungan Departemen Perhubungan, yang memproyeksikan kenaikan sekitar 35 persen untuk transportasi udara. Angka itu berdasarkan harga patokan maskapai yang selama ini memotong tarif pesawat. Pada Lebaran kali ini, tarif penerbangan kembali ke harga normal.
Menurut Jaka, tarif normal terpaksa diterapkan karena Merpati menambah jumlah penerbangan yang membuat biaya produksi juga naik. "Ketika pesawat balik, tidak terisi penuh," katanya. Merpati menambah sekitar 19 ribu tempat duduk dari yang normal sebesar 50 ribu tempat duduk.
Penerbangan Garuda Indonesia juga naik 10-12 persen pada Lebaran tahun ini. Direktur Niaga Garuda Indonesia, Bachrul Hakim, mengatakan, jumlah penumpang mudik naik menjadi 57 ribu. Namun, kenaikan itu tidak otomatis membuat pendapatan melejit. "Biaya produksi juga meningkat, tapi, bisa membantu memperlancar arus kas," katanya. Apalagi, pemerintah tidak menerapkan tuslah, hanya memasang rentang harga atas dan ba-wah. Nilainya ditetapkan sebesar 20 persen dari tarif normal.
Cukong Ilegal Masih Bernapas
Empat puluh nama cukong kayu ilegal batal diumumkan Departemen Kehutanan, pekan lalu. Kepala Pusat Informasi Kehutanan, Departemen Kehutanan, Transtoto Handadhari, akan melansirnya akhir tahun ini. Penundaan itu dikarenakan masih banyak data yang harus diverifikasi. "Me-reka bisa bernapas lega sementara. Setelah itu tidak lagi," katanya.
Menurut Transtoto, Menteri Kehutanan M.S. Ka'ban sudah mengantongi 40 nama cukong kayu tak resmi yang sebagian besar dari luar Pulau Jawa. Sebelumnya, Menteri Kehutanan menyerahkan 19 nama pelaku penebangan ilegal kepada polisi dan jaksa. Beberapa cukong dari Jawa seperti Tegal, Surabaya, dan Brebes saat ini sudah diincar Departemen Kehutanan untuk diberikan sanksi hukum. "Ini akan menjadi semacam shock therapy bagi cukong lainnya," katanya.
Para cukong itu ada yang pengusaha kayu sendiri, pengusaha yang memiliki izin hak pengusahaan hutan, pejabat dan aparat, dan masyarakat lokal. "Kontributor terbesar masyarakat lokal. Mereka cukong mandiri dengan modal sendiri," katanya. Transtoto mensinyalir ada Kepala Dinas Kehutanan di daerah yang ikut berperan sebagai cukong kayu ilegal. Menteri Kehutanan M.S. Ka'ban mengatakan, aktivitas penebangan liar mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 30 triliun per tahun.
|