|
BANYAK sudah cerita tentang ekses yang menimpa tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang dikirim ke Arab Saudi—atau ke negara lainnya. Beragam versi, mulai dari penganiayaan, tidak digaji oleh majikan, hingga mereka yang terpaksa melacurkan diri. Namun, ada pula yang memang datang ke negara minyak itu bertujuan sebagai pelacur dengan berkedok TKW.
Tentu saja cerita TKW bukan semata-mata cerita kesedihan, ada pula cerita sukses. Mere-ka yang sudah telanjur di sana dan tidak mau gagal, seorang tenaga kerja lebih memilih tidak pulang ke kampung halaman sebelum berhasil. Maka, upaya keras dan banting tulang pun dilakukannya. Hasilnya tak kalah hebatnya dengan pengusaha dari negeri sendiri.
Laporan Tempo, ketika itu, mengangkat pernak-pernik persoalan tenaga kerja wanita yang dikirim ke Arab Saudi. Cerita diawali dengan upaya seorang TKW yang hendak kabur karena tak tahan berada di tempat penampungan sebelum berangkat. Juga karena tak jelas kepastian jadwal mereka dikirim ke sana. Walhasil, tempat penampungan itu digerebek polisi, dan mulai terungkaplah izin penampungan ilegal, hingga akhirnya persoalan lain yang merembet jauh.
Persoalan TKI ataupun TKW memang klasik. Pemerintah sejak beberapa tahun lalu berusaha menertibkan masalah TKW—termasuk soal pengiriman—dengan berbagai peraturan dan persyaratan. Tapi agaknya tidak semua peraturan itu bisa terlaksana. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki, dan dipersiapkan benar.
|