Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Teknologi Informasi

Merambah Dunia Si Gigi Biru

Teknologi bluetooth menyingkirkan kabel-kabel dari perangkat teknologi. Dunia tak lagi punya batas.

Roy Suryo punya kebiasaan baru. Ia kini lebih suka melangkah ke sana-kemari saat mengajar di depan mahasiswanya. Sambil berdiri, ia lalu memencet-mencet ponsel Nokia 7650-nya. Di layar dekat papan tulis, gambar dari proyektor pun berubah.

Ya, berbekal ponsel kesayangannya, pengajar multimedia di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu merasa lebih leluasa saat mengajar. Berkat teknologi bluetooth, Roy bisa menggunakan ponselnya ibarat remote control. Ia cukup memasang software Nokia Wireless Presenter untuk sistem operasi Symbian 6 di ponselnya. Lalu, "Tinggal letakkan laptop di dekat LCD proyektor, saya bisa mengoperasikan laptop dari jauh," kata Roy.

Bluetooth di ponsel sebetulnya bukan teknologi baru. Hampir semua ponsel kelas menengah sudah dilengkapi teknologi nirkabel ini. Tapi mungkin karena ogah mengutak-atik ponselnya selain untuk urusan menelepon dan SMS, orang tak terlalu peduli pada bluetooth di ponselnya.

Pada dasarnya, si Gigi Biru ini adalah sistem koneksi nirkabel. Lewat bluetooth, ponsel bisa terhubung ke ponsel lain, komputer, laptop, proyektor, kamera digital, stereo set, atau printer. Syaratnya, perlengkapan tadi juga dilengkapi bluetooth. Semua koneksi itu dilakukan dengan bersih, tanpa kabel berseliweran. "Teknologi bluetooth sangat membantu dan praktis, misalnya dalam presentasi makalah atau mengajar," kata Roy.

Peranti bluetooth secara sederhana adalah teknologi antarmuka radio yang bekerja pada band frekuensi standar global 2,45 GHz. Cara kerjanya lebih rumit, namun efektif, ketimbang teknologi sebelumnya, yaitu inframerah, yang kemampuan transfer datanya masih rendah.

Pusat kekuatan bluetooth adalah sebuah chip tunggal penerima atau pemancar yang sangat pipih. Karena chip yang kecil, energi untuk mengoperasikan bluetooth juga sangat minim.

Teknologi ini menyesuaikan daya pancar radio menurut kebutuhan. Jarak pancarnya biasanya terentang antara radius 10 meter hingga maksimal 100 meter. Ketika radio pemancar mentransmisikan informasi, radio penerima akan memodifikasi sinyal-sinyal sesuai dengan jarak. Data yang ditransmisikan oleh chipset pemancar akan diacak, diproteksi melalui enskripsi serta otentifikasi, dan diterima oleh chipset di peralatan bluetooth yang dituju.

Melesatnya penggunaan bluetooth membuat vendor ponsel berlomba-lomba memasang peranti ini. Menurut Alino Soegianto, Country Manager Sony-Ericsson Indonesia, para pengguna ponsel kelas atas rata-rata sudah memiliki bluetooth chip dalam ponsel mereka. Sony Ericsson, misalnya, sejak mengeluarkan model T-610 sekitar dua tahun lalu sudah memfokuskan penggunaan teknologi ini. Berlanjut ke T-630, Z-600, K-500, K-7001, P910i, hingga produk terbaru S-700i. "Calon pembeli ponsel terbaru selalu menanyakan apakah sebuah ponsel memiliki koneksi bluetooth, selain fasilitas kamera lain seperti kamera digital dan video," tuturnya.

Nama bluetooth berasal dari Harold Bluetooth (dalam bahasa Inggris) atau Harald Blatand (bahasa Denmark), Raja Viking Denmark pada tahun 940-985, yang berhasil melanjutkan perjuangan sang ayah Raja Gorm Dek Gammel, mempersatukan Denmark dengan Norwegia. Bluetooth dianggap sebagai pemersatu keterhubungan antarproduk teknologi digital yang beragam saat ini, seperti yang dilakukan Harald Blatand.

Proses kelahiran teknologi ini tidak gampang. Selama enam tahun pengembangan, bluetooth masih menghadapi masalah seperti interoperability (penerimaan antar-operator), daya tahan, interferensi (khususnya dari gelombang mikro), sampai pada masalah keamanan. Toh, dalam setahun terakhir, bluetooth mulai dipercaya dan menjadi standar bagi industri komputer, ponsel, dan peranti lainnya.

Dengan semua kelebihannya, bluetooth juga memiliki kelemahan. Menurut Roy Suryo, lantaran tak banyak menghabiskan listrik, orang sering lupa mematikan fungsi bluetooth di ponselnya. Alhasil, ponsel bisa terdeteksi dan disusupi pemakai bluetooth yang lain. Nah, pada saat seperti inilah potensial terjadi "pembajakan" melalui jalur bluetooth, atau dikenal dengan istilah bluejacking dan toothing.

Bluejacking adalah tindakan mengirimkan pesan ke ponsel atau peranti lain tanpa menyertakan nomor identitas pengirim. Kadang kala SMS yang dikirim ini berbau seksual, yang kemudian diberi istilah toothing. Lantaran bluetooth merupakan teknologi wireless device, si pengirim bisa saja mengirimkan SMS tanpa perlu mengetahui nomor tujuan. Semua pesan yang dikirim dalam aktivitas bluejacking dan toothing ini merupakan unsolicited message (pesan yang tidak diinginkan). Gangguannya sama seperti spam di e-mail. "Kadang dikirimi file yang mengganggu, bahkan virus yang bisa merusak ponsel," kata Roy Suryo. Agar terhindar dari aksi ini, matikanlah bluetooth jika tidak diperlukan.

Raju Febrian


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data