Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Opini

Palestina Tanpa Arafat

Jika Arafat mangkat, buku-buku sejarah kelak akan membubuhkan serangkaian nama untuknya. Kelompok garis keras Israel yang saat ini diikat oleh kepemimpinan Ariel Sharon akan bersikukuh menambahkan kata "teroris" setelah nama Yasser Arafat. Para pendukung fanatik Arafat, juga para simpatisan, akan menyebutnya "pahlawan". Apa pun yang akan ditulis, tak ada yang bisa menyangkal bahwa Yasser Arafat, hingga diterbangkan ke Prancis beberapa pekan silam, adalah ikon bagi bangsa Palestina. Dialah yang meletakkan dan mendefinisikan perjuangan Palestina di panggung internasional. Suka atau tak suka, dialah lambang "persatuan" bangsa Palestina; sebuah bangsa yang pimpinannya terpecah-pecah dan sebuah bangsa yang berserakan di berbagai sudut dunia.

Peran Arafat sebagai simbol persatuan inilah yang akan menjadi salah satu problem utama setelah dia mangkat. Pertama, selama puluhan tahun perjuangan Palestina untuk merebut tanah airnya kembali dari pendudukan Israel?atau katakanlah upaya untuk hidup berdampingan secara damai ?kendala besar kerap muncul bukan hanya karena Israel sering melanggar kesepakatan, tetapi juga karena Palestina terdiri dari 13 faksi besar yang kontradiktif. Di satu pihak, adalah kelompok garis keras Hamas dan Islamic Jihad yang memilih jalan keras melawan Israel. Di pihak lain, faksi Fatah yang sejak dulu dipimpin Arafat adalah kelompok yang moderat, yang untuk puluhan tahun lamanya memberikan kesan terbuka pada negosiasi dan kompromi.

Peran Arafat di sini ternyata tak sesederhana "Bapak Moderasi Palestina", karena setiap kali bom bunuh diri meledak?yang menjadi trend baru beberapa tahun silam setelah era aksi lempar batu intifadah selesai?Arafat dituduh sebagai pemimpin yang membiarkan anarki itu terselenggara. Jika Arafat mangkat, belum lagi terpikirkan siapa yang bisa mengatasi atau memoderasi perbedaan pendekatan faksi-faksi ini.

Problem kedua adalah absennya regenerasi kepemimpinan. Karena pengalaman kepemimpinan Arafat sejak tahun 1968, ada kesan seolah-olah Arafat tak tergantikan. Sengketanya dengan beberapa pimpinan Palestina yang semakin mengukuhkan dia sebagai pemimpin Palestina, dan kekuatan karisma Arafat, tak kunjung menumbuhkan seorang "putra mahkota" yang dianggap layak. Sebetulnya absennya regenerasi bukan hanya buruk bagi kondisi politik internal Palestina, tetapi juga buruk bagi perdamaian di Timur Tengah.

Pemimpin Israel Ariel Sharon, yang sudah lama menjadi musuh pribadi Arafat, membaca kelemahan regenerasi ini. Tiga tahun silam Arafat dijebloskan ke dalam tahanan rumah, yang implikasinya memotong seluruh otoritas dan ruang gerak Arafat. Akibatnya, periode "pasca-Arafat" sudah dimulai. Pada saat Arafat mulai dikenai tahanan rumah, dan yang tampaknya akan berlangsung untuk waktu yang lama setelah Arafat mangkat, adalah sebuah pemerintahan transisi yang agak panjang. Kini, secara kolektif Palestina dipimpin oleh empat "putra mahkota" yang tak berdiri bebas dari bayang-bayang Arafat. Perdana Menteri Ahmed Qoreia mengurus administrasi pemerintahan sehari-hari, termasuk soal finansial dan keamanan. Adapun Mahmoud Abbas, yang selama ini dikenal sebagai tangan kanan Arafat di PLO, sudah mulai berdiplomasi ke dunia internasional. Otoritas politik di parlemen ada di tangan Ketua Parlemen Rauhi Fattouh. Ketua keamanan Jalur Gaza adalah Mohammad Dahlan.

Selama hayat masih dikandung badan Arafat (meski tubuh itu disangga oleh serangkaian mesin), Palestina tampaknya belum siap mencantumkan nama baru yang bisa menyingkirkan Arafat, hingga ia betul-betul mengembuskan napasnya yang terakhir.

Sesungguhnya, generasi baru Palestina memiliki kesempatan menata masa depan baru yang menantang. Arafat telah menyediakan sebuah sejarah, maka generasi baru Arafat (termasuk "koalisi" kepemimpinan Mahmoud Abbas, Qoreia Fattauh, dan Dahlan) seyogianya bisa menata masa depan. Mereka seharusnya dipercaya merancang rencana dan kesepakatan damai baru dengan Israel. Pemilu untuk kepemimpinan baru?sesuatu yang selalu disambut dengan enggan oleh Arafat?bisa berlangsung dengan bebas dan terbuka. Pemimpin yang terpilih akan mengukuhkan legitimasi seorang pengganti Arafat, hingga faksi-faksi yang berseteru dengan sendirinya akan tunduk pada legitimasi itu. Dunia internasional, baik para simpatisan Palestina atau pihak lawan seperti Israel dan AS, tak punya alasan menolak seorang pemimpin yang terpilih secara demokratis oleh semua pihak yang bertikai. Dengan demikian, pemimpin baru inilah yang diharapkan meneruskan dialog dengan Israel dan memastikan penarikan Israel dari tanah Palestina tidak melahirkan kerusuhan baru.

Pemimpin baru itu kelak bukan seorang Arafat yang pernah bergerilya di dalam gua; bukan seseorang dengan suara parau bergelegar meneriakkan kemerdekaan bagi bangsa Palestina. Yang pasti, siapa pun yang lahir dari pemilu itu harus seseorang yang meneruskan prinsip utama perjuangan Arafat dan Palestina: bahwa ini adalah perjuangan politik, perjuangan kemerdekaan hak, bukan perang agama.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data