Absurditas di Tepi Jalan Lamno Mengaku dari Demak, perempuan itu dituding sebagai Panglima Inong Balee. Dia dihukum 18 tahun oleh pengadilan yang digelar hanya dua kali. |
DRAMA itu bermula di tepi jalan di Lamno, Aceh Jaya, awal Maret silam. Satu pasukan TNI dan Brimob mencegat bus penumpang umum. Di bawah kondisi darurat militer yang berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, razia memang kerap hadir mendadak. Terkadang seregu aparat muncul dari balik gerumbul semak. Atau, suatu waktu, barikade militer menghadang kendaraan di tikungan jalan sempit. Hari itu, razia terlalu menyakitkan bagi Elit Baleno.
Seperti biasa, semua penumpang harus keluar dari perut bus. Elit Baleno, perempuan muda itu, juga turun. Tangan semua penumpang menggenggam KTP Merah Putih, tanda pengenal khusus sipil dari penguasa darurat militer di sana. Di tangan Elit, kartu itu juga dipegangnya lekat-lekat. Mata aparat keamanan pun melirik satu per satu wajah penumpang.
Tibalah giliran Elit. Seorang prajurit militer menatapnya tajam. Perempuan itu sungguh masih muda. Di KTP, umurnya 18 tahun. Kulitnya kuning. Rambutnya pendek hitam berombak, menonjolkan rahangnya yang bersegi. Badannya bongsor dan tegap. Sepintas, posturnya mirip lelaki. Entah karena fisiknya itu, satu tuduhan gawat pun menombak dia. "Saya dibilang Panglima Laskar Inong Balee," ujar Elit, yang membentang kisahnya itu kepada Tempo di Penjara Wanita Lhok Nga, Aceh Besar, Kamis pekan lalu.
Laskar Inong Balee adalah sayap gerakan perempuan bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka umumnya adalah para janda, kerabat, atau istri gerilyawan GAM. Meski pasukan ini terlatih bertempur, jarang terlibat kontak senjata. Mereka, seperti pernah dikatakan juru bicara GAM Aceh Timur, Teuku Cut Kafrawi, adalah unit andalan bagi front belakang. "Termasuk urusan intelijen dan logistik," ujar Kafrawi.
Elit, yang mengaku berasal dari Demak, Jawa Tengah, menolak tudingan gawat itu. Bahkan tutur bahasa Aceh saja dia tak lancar. "Aku ini orang Jawa asli, kok dituduh Inong Balee," ujarnya. Logat Jawanya masih kental. Dia mengaku anak transmigran. Bersama orang tuanya, Elit hidup di Aceh sejak di bangku sekolah dasar.
Dari Demak, mereka merantau ke Tanah Rencong sekitar sepuluh tahun silam. Ayahnya bernama Bahari, dan ibunya Kasum. Awalnya, keluarga itu menetap di kompleks transmigrasi SP Tiga, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya. Dari sana, masih di kecamatan itu, mereka pindah ke Desa Lueng Gayo. Beruntung, keluarga itu tak terusir oleh GAM saat konflik bersenjata menghebat di sana. Soalnya, "Kami duluan pindah," ujar Elit.
Tapi razia di tepi jalan Lamno itu membuat Elit tak berkutik. Aparat yakin Elit tak lain adalah Salbiah alias Cut Nyak Sah, Wakil Panglima Inong Balee Wilayah Empat Teunom. Padahal di KTP jelas tercantum nama Elit Baleno, beralamat di Banda Aceh. "Mereka bilang, namaku palsu," ujarnya.
Tiga tahun terakhir, Elit memang tinggal di Banda Aceh. Di kota itu dia bahkan bekerja di kantin kompleks asrama TNI Keraton. Pada hari nahas itu, ia mau menengok ibunya yang sakit di Teunom, sekitar 140 kilometer barat Banda Aceh. Benarkah Elit bernama Salbiah, perempuan gerilyawan yang diburu aparat di Teunom itu?
Ilyas Syam, pemilik kantin di Banda Aceh itu, mengakui Elit bekerja di kedainya. Sejak datang ke Banda Aceh, kata Ilyas, Elit belum punya KTP. Umurnya waktu itu baru 15 tahun. Ketika darurat militer diberlakukan, Ilyas pun mengurus KTP Merah Putih bagi Elit. " Hampir tiga tahun bersama kami, dia jarang keluar rumah," ujar Ilyas kepada Tempo. Soal Inong Balee, Ilyas cuma angkat bahu. Sepengetahuan dia, anak dara itu tak terlibat gerakan politik. Pulang kampung pun cuma sekali, saat neneknya sakit keras, tiga tahun silam. "Dia tak banyak tingkah," ujar Ilyas.
Tapi, razia di jalan Lamno itu kian menekan Elit. Meski membantah sambil menangis, dia tetap digiring ke pos polisi militer. Di sana ia diinterogasi siang dan malam. Gawatnya, Elit dituduh telah membunuh Prajurit Satu TNI Idris, anggota Linud 700. Lalu perempuan itu dituding sebagai pencabut nyawa seorang guru SLTP Negeri 1 Samadua, Aceh Selatan. Sekolah itu hangus jadi abu, dan hal itu dituding karena perbuatannya juga.
Di pos polisi militer, Elit mengatakan ia dicengkam interogasi siang-malam. Bahkan sempat pula ada interogator yang memukulnya dan menyuruhnya bugil. "Mereka bilang mencari tato di badan saya," ujarnya. Karena tak tahan dan juga takut ancaman akan diperkosa, Elit pun membenarkan semua tuduhan itu. Kata dia, aparat memaksanya menandatangani berita acara pemeriksaan yang tak pernah dibaca isinya. Sejak itulah dia lantas mendapat nama baru: Salbiah, Panglima Inong Balee Wilayah Teunom.
Setelah kasusnya diberkas oleh Polres Aceh Barat, Elit alias Salbiah lalu diseret ke Pengadilan Negeri Calang, Aceh Jaya, akhir Maret lalu. Tanpa pengacara, ia menghadapi persidangan yang berlangsung kilat. Memang hakim sempat menanyakan ulang ihwal kebenaran Elit sebagai anggota Inong Balee. Meski membantah, toh hakim tetap mengganjarnya hukuman berat. Elit Baleno divonis 18 tahun penjara, persis umurnya saat itu. Hukuman itu lebih ringan dua tahun dari tuntutan jaksa. Elit hanya bisa meraung.
Dia tak habis pikir mengapa tetap diadili atas nama Salbiah. Kawan-kawan satu selnya juga memanggilnya begitu. Saat persidangan, kata dia, tak seorang pun saksi dihadirkan ke meja hijau. Dia sendiri cuma dua kali dibawa ke ruang pengadilan. "Sekali saat pembacaan tuntutan, dan sekali lagi waktu vonis," ujar Elit.
Tapi, Kepala Kejaksaan Negeri Calang, Superi, menyodorkan versi lain. Menurut Superi, Elit Baleno adalah nama samaran untuk mengelabui aparat. Nama aslinya, kata Superi, ya, Salbiah alias Cut Nyak Sah binti Bahari. Menurut Superi, Salbiah perempuan berbahaya. Dia bersama kelompoknya memperdaya seorang anggota Linud 700 sampai prajurit itu tewas. Saat itu Salbiah mengaku anggota Korps Wanita Angkatan Darat dari Bandung dengan nama Kapten Elit Baleno. Fakta lain? "Orang tuanya langsung bilang kepada saya anaknya bernama Salbiah, bukan Elit Baleno," kata Superi.
Soal saksi, menurut Superi, cukup kuat. Para saksi hadir di persidangan. Dari keterangan mereka, jaksa kian yakin Elit Baleno adalah Salbiah. Dia bukan perempuan biasa. Jabatan resminya adalah Wakil Panglima Inong Balee, divisi Gajah Keng, wilayah Krueng Sabee. Saksi penting misalnya adalah Nulussa'adah, yang disebut-sebut sebagai pelatih Salbiah di kamp militer Inong Balee. Semua saksi, kata dia, sudah cukup menguatkan. "Saya tak mungkin menuntut tanpa bukti," kata Superi. Dikatakan, semua pemeriksaan berlangsung menurut prosedur. Jadi, dia menepis ada aksi penyiksaan atas Elit.
Superi juga membantah sidang itu hanya berlangsung dua kali. Kata dia, proses peradilan Salbiah dilakukan empat kali. Di pengadilan, Elit pun mengakui segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Superi hakulyakin Elit Baleno adalah Salbiah. "Saya siap membuktikan kepada pihak mana pun," ujarnya.
Anggota Komnas HAM, Amidhan, mengatakan lembaganya memang menerima laporan tentang pemeriksaan dan persidangan Elit Baleno yang kurang fair. "Elit mengaku tak didampingi pengacara dan tak pernah bertemu saksi," ujar Amidhan, yang mengunjungi Elit di penjara dua pekan lalu. Dari mulut Elit, Amidhan mendengar cerita bahwa perempuan itu terpaksa meneken pengakuan di pengadilan itu karena takut ditelanjangi dan diperkosa. "Kita masih menyelidiki lebih jauh proses peradilannya," ujar Amidhan.
Bertolak dari kasus Elit, komisi itu juga prihatin soal kondisi tahanan di Aceh. Mereka diduga tak mendapat pengadilan yang adil. Meski peradilan digelar, kata Ketua I Komnas HAM, Zoemrotin, penegakan keadilan jauh lebih penting. "Ada pengadilan, tapi tidak menyentuh keadilan," ujar Zoemrotin.
Bermula dari razia di Lamno, kini Elit terlempar ke kehidupan yang tak terbayangkan olehnya: menjadi narapidana di Penjara Lhok Nga. Di sana, meringkuk 51 perempuan yang dituding sebagai anggota Inong Balee. Cut Nurasyikin, perempuan pengusaha yang disebut-sebut sebagai koordinator Inong Balee seluruh Aceh, hanya geleng-geleng kepala. "Kasihan Elit, dia menjalani hukuman untuk sesuatu yang tak pernah dilakukannya," ujarnya. Perang, kata orang, memang drama yang absurd.
Nezar Patria, Yuswardi A. Suud (Banda Aceh)
|