Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Media

Kusut Nasib Si Suar Sair

Harian Sinar Indonesia Baru kehilangan rohnya. Polisi bertindak berlebihan.

SEJUMLAH polisi sigap masuk ke kantor harian Sinar Indonesia Baru (SIB) di Jalan Brigjen Katamso, Medan, Sumatera Utara, Senin pekan lalu. Dipimpin Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Kota Medan, Ajun Komisaris Polisi Maruli Siahaan, mereka menggeledah setiap sudut gedung berlantai tiga itu, mulai dari ruang redaksi hingga ke dapur.

Sebelumnya, beberapa wartawan surat kabar yang berdiri sejak 1970 itu ditangkap. Mulai dari penanggung jawab SIB, Azrin Marydha, yang diambil dari rumahnya di Medan, Kamis 28 Oktober. Sehari kemudian giliran karikaturis SIB, Selwin Sitanggang, "dijemput" dari rumahnya di Pematangsiantar, 148 kilometer dari Medan.

Pada hari penggeledahan polisi mengangkut karyawan SIB Nesry Tobing, Heriyati Bangun, Risdarna Purba, Maria Keliat, dan Ernawaty Pardede. Mereka dibawa ke Poltabes Medan. Masih pada hari yang sama, polisi membekuk Kepala Koordinator SIB di Pematang Siantar, Bantors Sihombing dan Hotmauli. Lalu menyusul wartawan SIB Evarina Pelawi dan Proklamasi Naibaho, yang diciduk pada Selasa 2 November. Aksi polisi ini diakhiri dengan penangkapan dua awak SIB, Betty Hutabarat dan Kartika, 3 November.

Tak pelak lagi, peristiwa ini menjadi penangkapan jurnalis terbesar sepanjang sejarah penerbitan di Sumatera Utara. Ceritanya diawali munculnya karikatur Nasib si Suar Sair goresan Selwin di halaman dua SIB edisi Minggu, 24 Oktober. Kartun dibuka dengan seorang kiai sedang berdoa, di bawahnya tertulis "Alkitab: sembahlah Tuhan dalam roh dan kebenaran".

Panel berikutnya memperlihatkan si Suar Sair berbuka puasa bersama orang berkopiah. "Tak guna berpuasa jika sesudahnya berbuat dosa," begitu ucapan orang berkopiah. Kemudian kutipan dari si Suar Sair: "Backing togel, makelar perkara, korupsi APBN, ruilslag, dlsb, janganlah purak2 puasa, ya."

Sindiran kartunis ini sebenarnya dialamatkan bagi pelanggar hukum. Tetapi yang terjadi adalah munculnya aksi demo dari komponen massa Islam, pada hari itu juga. Mereka beraksi di Bundaran Petisah dekat Tugu Jam lambang harian SIB. Esoknya kartun Nasib si Suar Sair menghilang dari SIB.

Jumat berikutnya muncul aksi puluhan pemuda yang mengaku dari Solidaritas Mahasiswa Islam Sumatera Utara. Mereka mendatangi kantor SIB dan menuntut koran bertiras 20 ribu eksemplar itu meminta maaf. Padahal, pada hari yang sama, G.M. Panggabean, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi SIB, menyampaikan permohonan maafnya di koran itu. Diumumkan pula, SIB tidak akan memuat lagi karya karikaturis Selwin Sitanggang.

Gubernur Sumatera Utara, T. Rizal Nurdin, turun tangan mengimbau agar permohonan maaf itu diterima. Sedangkan sikap menerima maaf disampaikan Ketua Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Sumatera Utara, Sigit Pramono Asri. "Saya mengimbau semua warga menunjukkan akhlakul qarimah dan memaafkan orang yang mengakui kesalahannya," kata Sigit.

Justru di saat suasana mulai reda, muncul aksi polisi menangkap sejumlah wartawan itu. Sampai Sabtu pekan lalu, polisi masih menahan Azrin Marydha, Proklamasi Naibaho, dan Selwin Sitanggang. "Kami tidak tahu kenapa, tapi biarlah masyarakat yang menilai," kata Azrin. Polisi beralasan, penangkapan itu dilakukan berdasarkan pengaduan Solidaritas Mahasiswa Islam Sumatera Utara.

Kendati demikian, praduga miring untuk polisi tetap saja muncul. Ada yang bilang polisi marah pada SIB lantaran koran ini suka mengusik perjudian di Kota Medan. Apalagi, sebulan sebelumnya, setelah memberitakan judi, kantor SIB digeruduk orang tak dikenal, berlanjut dengan aksi perusakan. Namun polisi tak bertindak.

Pengurus Aliansi Jurnalis Independen Kota Medan, PWI Sumatera Utara, dan PWI Reformasi Sumatera Utara telah melayangkan protesnya. "Tindakan polisi terlalu berlebihan," kata Ketua AJI Medan, Darma Lubis. Menurut Darma, pengelola harian SIB telah menempuh prosedur Undang-Undang Pokok Pers dan Kode Etik Wartawan Indonesia.

Kendati dilanda persoalan, koran Medan yang cukup tua ini tetap terbit seperti biasa. "Kami sudah sering diancam dan mendapat cobaan, tapi itulah risiko pekerjaan," kata Nelly Hutabarat, wartawan SIB. Hanya, koran itu telah kehilangan rohnya: si Suar Sair tak lagi menemani pembacanya.

Nurlis E. Meuko, Bambang Soedjiartono (Medan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data