Badai Berlalu Mengejar Target Pasar telepon seluler masih didominasi tiga operator. Peningkatan jumlah BTS tak diimbangi pasokan telepon genggam. |
BAGI industri telepon nirkabel, badai tampaknya telah berlalu. Indikator ekonomi, seperti inflasi yang cenderung menurun dan produk domestik bruto yang semakin menanjak, diyakini akan memompa jumlah pelanggan telepon nirkabel.
Tak mengherankan bila akhir tahun ini telepon seluler GSM (global system for mobile communication) bakal meraih sampai 29 juta pelanggan. "Kami optimistis target itu tercapai," kata Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), Jhonny Swandisjam.
Pertumbuhan pelanggan telepon seluler dalam dua tahun terakhir memang signifikan nian. Dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah pelanggan tahun ini bertambah 10 juta lebih. Tahun depan, pelanggan diperkirakan meningkat 12 juta. "Bila pertumbuhan ekonomi tahun depan 5,3 persen, total pelanggan seluler bakal mencapai 42 juta lebih," ujar Jhonny.
Persaingan harga antar-operator seluler turut memicu pesatnya pertumbuhan pelanggan. Apalagi beberapa operator telah merestrukturisasi dan membereskan utang yang sempat menggunung akibat badai krisis, sehingga kemampuan investasi menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan dua-tiga tahun silam.
Namun, menurut Sekretaris Jenderal ATSI, Rudiantara, kenaikan jumlah pelanggan dua tahun terakhir dan tahun depan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap komposisi pangsa pasar seluler. Sebab, pasar seluler saat ini masih didominasi tiga operator.
Telkomsel menguasai 53 persen, Indosat 31 persen, Excelcomindo 15 persen, dan satu persen dibagi-bagi untuk sejumlah operator kecil. "Komposisi market share paling-paling hanya berubah 5-10 persen hingga 2007," kata Rudiantara.
Operator yang ingin meraih pangsa pasar lebih besar, katanya, harus menyiapkan investasi minimal US$ 1 miliar-US$ 1,5 miliar untuk memperluas jaringan dengan membangun infrastruktur seperti base transceiver station (BTS). Padahal, kebutuhan dana sebesar itu sulit dipenuhi dari dalam negeri. Ini mungkin yang menyebabkan Telkomsel hanya berinvestasi US$ 600 juta, sama besarnya dengan investasi tahun lalu.
Meskipun sama, kata Direktur Utama Telkomsel, Bajoe Narbito, nilainya semakin besar lantaran harga peralatan yang dibeli juga semakin murah seiring dengan telah tercapainya skala ekonomis. "Hingga akhir tahun ini kami targetkan membangun 6.200 BTS," ujar Bajoe.
Telkomsel tahun lalu telah mendirikan 5.200 BTS. Sedangkan tahun depan ditargetkan menjadi 8.700 BTS. Dengan pembangunan ini Telkomsel mengharapkan dapat menggaet 14,6 juta pelanggan pada akhir tahun ini. "Setidaknya kami bisa mempertahankan market share 53 persen. Itu sudah bagus karena kompetitor kami kan tidak tidur," katanya.
Para pesaing Telkomsel memang tak tidur. Indosat, misalnya, terus berusaha keras mendongkrak pangsa pasar menjadi 33-34 persen. Direktur Pemasaran Seluler Indosat, Hasnul Suhaimi, menyatakan investasi Indosat tahun ini naik menjadi US$ 650 juta-700 juta dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya US$ 500 juta. Tahun depan masih sama dengan tahun ini. "Sekitar 80 persen dana investasi itu kami sediakan untuk membangun BTS," ujar Hasnul.
Sampai sekarang Indosat telah membangun 3.300 BTS. Akhir tahun ini ditargetkan terbangun 4.000 BTS, sedangkan tahun depan akan bertambah 1.500-2.000 BTS. Indosat juga mengganti beberapa alat di beberapa daerah perbatasan di Jakarta untuk meningkatkan kualitas sinyal. Dengan upaya ini Indosat menargetkan jumlah pelanggan mencapai 9,5 juta pada akhir tahun ini, dan 13 juta tahun depan.
Sayangnya, penambahan jumlah pelanggan ternyata tak semata-mata bergantung pada jumlah BTS. Seperti dikatakan Bajoe, peningkatan pembangunan BTS oleh operator seluler tak diimbangi pasokan telepon genggam oleh vendor.
Tiga operator besar bisa membangun 12 juta BTS tahun ini, sementara vendor hanya memasok 5,5 juta unit handset baru. Sekalipun ditambah telepon bekas 3 juta unit, tetap belum mengimbangi pasokan BTS tahun ini. "Ini kendala bagi kami untuk menambah pelanggan yang lebih besar," kata Bajoe.
Kondisi ini juga disadari penuh oleh Country Manager PT Motorola Indonesia, Robert van Tilburg. Motorola, kata dia, terus berupaya merambah pasar baru, khususnya konsumen berdaya beli rendah. Motorola juga akan menambah pasokan handset untuk mengimbangi pembangunan BTS oleh operator. "Kami menargetkan menjadi pemasok handset kedua terbesar tahun depan," kata Robert.
Motorola juga memasok handset CDMA (code division multiple access) untuk mengantisipasi penetrasi pasar pengguna jaringan ini yang diyakini semakin besar. Jumlah pelanggan telepon seluler CDMA di Indonesia sudah mencapai 1,5 juta.
CDMA sudah dikenal sejak pertengahan 1990. Namun, teknologi ini baru digunakan secara luas untuk kepentingan komersial oleh PT Telekomunikasi Indonesia mulai akhir tahun lalu. Disusul kemudian oleh PT Bakrie Telecom dengan brand Esia, dan tak lama kemudian Mobile-8 dengan produknya, Fren.
Pertengahan tahun ini, Indosat juga masuk dengan produk StarOne. Ada pula PT Mandara Seluler Indonesia, yang menawarkan teknologi CDMA 450 tapi hanya untuk wilayah Lampung. "Pertumbuhan pasar CDMA tahun depan diprediksi 100-200 persen dibanding tahun ini," kata Senior Director and Country Manager Qualcomm Indonesia, Harry K. Nugraha. "TelkomFlexi saja menargetkan jumlah pelanggan naik hingga 2 juta pada 2005."
Alasannya, kata Harry, jumlah vendor pemasok telepon ini semakin banyak. Khalayak juga makin banyak yang mengetahui keunggulan produk ini, sehingga tak salah bila teknologi ini disebut-sebut cukup membikin grogi operator GSM. Produk tersebut bisa menjadi alternatif telepon GSM. "Seperti Mobile-8, yang memiliki lisensi serupa seluler, akan berkompetisi head-to-head dengan GSM," ujar Harry.
Namun, Bajoe yakin pasar CDMA tidak akan menggerus pasar GSM. Pasalnya, permintaan telepon kabel di Indonesia masih sangat besar. Dari 220 juta penduduk Indonesia, baru 11 persen yang memiliki telepon nirkabel maupun telepon kabel. Bandingkan dengan Malaysia, yang penduduknya 17 juta-20 juta jiwa tapi 30 persen di antaranya sudah bertelepon-ria.
Hasnul mengatakan hal senada. Baginya, produk yang ditawarkan operator GSM maupun CDMA memiliki pasar berbeda. Ada produk yang murah tapi jangkauan sinyalnya terbatas, sebaliknya ada produk yang lebih mahal tapi jangkauan sinyal lebih luas. "Jadi, persaingan berimbang, tergantung harga dan jangkauan sinyal," kata Hasnul.
Taufik Kamil
|