Berlomba di Pertumbuhan Rekor penjualan mobil tahun ini tidak berlanjut. Sepeda motor justru melejit hingga 5 juta unit. |
HENDRAYADI tak ragu mengumbar sukacitanya. Betapa tidak? Sejak diluncurkan, September lalu, Toyota Kijang Innova terus menarik antrean konsumen. Per Oktober saja, inden Innova mencapai 38 ribu unit, melebihi target yang hanya 22 ribu unit. Bahkan diperkirakan penjualan Innova pada semester pertama tahun depan sudah dipenuhi inden pada akhir tahun ini. "Jadi, kami tidak perlu beriklan lagi tahun depan," kata Manager Marketing Public Relations PT Toyota Astra Motor itu kepada Tempo.
Menurut Hendrayadi, kondisi ini sebenarnya mengikuti peluncuran Toyota Avanza, akhir tahun lalu. Hingga Maret tahun depan, jumlah Avanza yang dipesan mencapai 15 ribu unit. Padahal, kemampuan produksinya hanya 7.500 unit per bulan, bersama Daihatsu Xenia. Permintaan konsumen atas dua produk anyar Toyota tadi memang di atas kemampuan pasokan. Tak salah jika Toyota kesulitan memenuhi permintaan konsumen dan dealer.
Pasar kendaraan roda empat memang kembali bergairah tahun ini. Dalam sebulan, penjualan rata-rata bisa mencapai 35 ribu unit. Per September saja, penjualan mobil di Tanah Air sudah mencapai 350 ribu unit. Dengan tiga bulan tersisa tahun ini, diperkirakan penjualan menembus 400 ribu unit. Bahkan di kalangan produsen mobil ada dua kubu: satu kubu pesimistis dengan prediksi 420 ribu unit, kubu lainnya optimistis dengan prediksi 460 ribu unit.
Menurut Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Bambang Trisulo, pasar mobil tahun ini bakal menembus angka 420 ribu unit. Indikasinya bisa dilihat dari tingginya permintaan mobil pada semester pertama tahun ini. Iklim usaha yang lebih baik pada tahun ini mendongkrak kebutuhan alat transportasi. Tahun ini pula produsen ramai-ramai meluncurkan varian atau jenis mobil baru seperti Avanza dan Kijang Innova dari Toyota, serta Suzuki dengan Everyplus dan APV. Bahkan Indonesia dijadikan basis produksi tipe tersebut dengan tujuan pasar global.
Toyota Astra Motor, selaku pemimpin pasar dengan pangsa 28 persen, memiliki prediksi lebih berani ketimbang Gaikindo. Menurut Hendrayadi, perusahaannya memperkirakan pasar tahun ini mencapai 460 ribu unit atawa tumbuh 30 persen. Sebab, pasar per September saja sudah mencapai 350 ribu unit. Pasar tahun ini booming seperti tahun 2000, yang mengembalikan pasar otomotif ke rel sebenarnya sejak terpuruk di masa krisis. "Pasar tahun ini rekor karena sebelum krisis penjualan mobil selalu di bawah 400 ribu. Kini meningkat hingga 460 ribu," ujarnya.
Sayang, booming tahun ini tidak berlanjut pada tahun depan. Menurut prediksi Gaikindo, pasar tahun depan hanya tumbuh 16,7 persen, menjadi 490 ribu unit. Melemahnya pasar bukan lantaran kemungkinan kenaikan harga BBM tahun depan. Pabrikan yakin pengaruh kenaikan harga BBM tidak langsung dan secepat bila terjadi kerusuhan atau gangguan keamanan.
Tapi, Toyota lagi-lagi punya logika sendiri atas pasar tahun depan. Menurut analisisnya, pasar tahun depan mencapai 510 ribu unit. Alasannya, pertumbuhan ekonomi. Misalnya, GDP naik mencapai 5,1 persen. Tingkat kurs rupiah atas dolar Amerika lebih baik pada kisaran 8.900. Diperkirakan investasi baru bakal masuk di semester dua. "Tahun depan, pangsa pasar Kijang kembali naik dari 25,9 persen menjadi 27,8 persen, karena Kijang Innova berproduksi penuh setahun," ujar Hendrayadi.
Kegairahan pasar mobil sebenarnya sedikit tertinggal oleh pasar sepeda motor. Memang, pasar kendaraan roda dua ini anjlok: hanya satu juta unit pada 2000. Tapi tiga tahun kemudian, pasar sudah pulih dengan penjualan 2,5 juta unit. Momentum ini terus berlanjut pada tahun ini, yang diperkirakan 4 juta unit. Tahun depan diperkirakan mencapai angka 5 juta unit.
Menurut Wakil Presiden Direktur PT Astra Honda Motor, Tossin Hermawan, sepeda motor memang merupakan kendaraan populer di Indonesia. Selain multifungsi, konsumsi bahan bakarnya juga irit. "Penjualan motor merata di seluruh Indonesia. Tidak seperti mobil yang terpusat di Jakarta," ujarnya.
Astra Honda sendiri meyakini pasar sepeda motor tahun depan bisa mencapai 5 juta unit. Apalagi, tingkat kepemilikan sepeda motor di Indonesia, dibandingkan populasi, masih sangat renggang. Di sini, setiap satu sepeda motor digunakan 14 orang. Bandingkan dengan Thailand yang hanya 1 banding 5, Taiwan 1:1,5, Malaysia 1:8. "Jadi, market size sepeda motor di sini masih besar," kata Tossin.
Dengan mengusung merek Honda, kelompok Astra Internasional Tbk diperkirakan masih mendominasi pasar dengan pangsa 50 persen atawa 2,5 juta unit. Sisanya diperebutkan merek Suzuki, Yamaha, Kawasaki, Kymco, dan Piaggio. Tengok saja catatan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) pada penjualan motor per September lalu. Ketimbang bulan sebelumnya, penjualan motor September naik 5,15 persen menjadi 374.694 unit. Untuk periode Januari-September ini, penjualan juga naik 38,86 persen menjadi 2,89 juta unit.
Menurut Ketua Umum AISI, Ridwan Gunawan, kegiatan pemilu yang berlangsung tertib dan lancar turut mempengaruhi kenaikan daya beli masyarakat. Para anggota asosiasi sendiri memperkirakan, penjualan tahun ini sekitar 3,7 juta unit. "Tapi kalau digabung dengan penjualan motor non-AISI, bisa mencapai 4 juta unit," ujarnya.
Kendati lancar-lancar saja, toh sarana infrastruktur jalan bisa menjadi hambatan pertumbuhan pasar kendaraan roda dua. Tanpa pertambahan jalan yang paralel dengan kenaikan pasar, booming sepeda motor akan kontraproduktif bagi pabrikan. "Jalan jadi problem karena pertambahan jalan tidak signifikan. Di Cina, dalam dua tahun jalan tol baru 20 ribu kilometer. Jalan tidak ada, kelancaran arus barang bisa terhambat," ujarnya.
M. Syakur Usman
|