Lampu Kuning Menjanjikan Industri semen ditantang mampu memenuhi konsumsi domestik. Mereka diminta menghentikan ekspor. |
BELUM genap 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu naik panggung, urusan datang bertubitubi?sampai ke semen. Diperkirakan, mulai 2007 Indonesia menghadapi krisis semen jika tiada penambahan kapasitas produksi. Pada tahun itu, konsumsi kebutuhan kelompok papan ini sudah melampaui kapasitas produksi.
Direktur Kimia Hilir Departemen Perindustrian, Tony Tanduk, menyatakan konsumsi semen nasional tahun ini diperkirakan 37 juta ton, sekitar 80 persen dari kapasitas produksi yang 47,4 juta ton. Jika pertumbuhannya rata-rata tujuh persen per tahun, pada 2007 konsumsi semen akan mencapai 47 juta ton.
Jika tak ada penambahan kapasitas, Indonesia bakal menghadapi masa kritis. Maklum, pembangunan satu pabrik baru butuh sedikitnya tiga tahun. Itu hitung-hitungan di atas kertas. Kenyataannya, pertumbuhan konsumsi semen sudah sekitar 11,5 persen per tahun. Tahun depan, permintaan semen bahkan diperkirakan tumbuh 20 persen.
Tingginya kebutuhan semen terutama karena bisnis properti sedang berbunga-bunga. Hingga 2008, akan ada tambahan 22 ribu unit apartemen, 1,15 juta meter persegi ruang pusat perbelanjaan, dan ratusan ribu rumah baru di Jabotabek. Karena itu, dua pekan lalu Dirjen Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan menerbitkan imbauan kepada produsen semen agar mengurangi ekspor mulai tahun depan.
Saat ini rata-rata ekspor semen mencapai 3 juta ton per tahun. Pabrikan juga didorong mengoptimalkan kapasitas?ini cara paling mudah. Dengan cara itu, diharapkan ada penambahan kapasitas 500 ribu ton dari satu pabrik, atau 2,5 juta ton per tahun. Langkah terakhir: perluasan atau pembangunan pabrik baru.
Ketua Asosiasi Semen Indonesia, Soepardjo, menilai perkiraan pemerintah ibarat lampu kuning bagi industri semen nasional. Asosiasi sendiri sudah menyarankan anggotanya melakukan ekspansi pabrik ke luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Ia mencontohkan PT Semen Tonasa di Sulawesi Selatan, yang diarahkan ekspansinya ke Papua dan Kalimantan Timur.
Persoalannya, siapa menjamin pasar di sana hangat? Apalagi, selama ini pasar semen terpusat di Pulau Jawa. ?Tugas pemerintahlah menggairahkan kawasan Indonesia Timur dengan proyek infrastruktur,? kata Soepardjo. ?Kalau tidak ada pasar, mana berani pabrik ekspansi.?
Problem lainnya, membangun pabrik baru tidaklah mudah. Investasi pabrik semen butuh dana besar. Satu pabrik dengan kapasitas satu juta ton butuh investasi US$ 150 juta (Rp 1,35 triliun). Di luar biaya, bicara pabrik baru berarti menyoal iklim investasi. Belum lagi masalah infrastruktur jalan, pelabuhan, dan energi.
Pungutan daerah, perizinan, dan keamanan juga masih mengganggu. Indonesia cuma diuntungkan oleh adanya bahan baku yang melimpah, terutama di Sumatera, Sulawesi, atau Kalimantan. Toh, ada juga yang berani melakukan ekspansi. Semen Gresik akan menambah kapasitas produksi 5,3 juta ton.
Juru bicara Semen Gresik, Soebagyo, mengatakan perusahaan akan melanjutkan lagi pabrik Semen Tuban I berkapasitas 400 ribu ton per lini. Produsen semen terbesar ketiga ini juga akan membangun pabrik baru berkapasitas 2,3 juta ton. Jejak Semen Gresik bakal diikuti Semen Bosowa. ?Industri ini masih menjanjikan,? kata Wakil Presiden Direktur Semen Bosowa, Erwin Aksa.
M. Syakur Usman
|