Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Laporan Khusus

Mulai Bangkit, Menebar Hara

Pariwisata bisa kembali menjadi andalan. Keamanan masih jadi hambatan.

UNGKAPAN "tak putus dirundung malang" agaknya pas menggambarkan dunia pariwisata negeri ini. Sejak 2002, pariwisata Indonesia bak pesakitan yang tak pernah bisa menikmati indahnya kehidupan. Pada medio Oktober tahun itu, bom meledak di Kuta, Bali, jantung pariwisata Indonesia. Ketika efek bom Bali mulai surut, wabah SARS (sindrom pernapasan akut) melanda Asia pada 2003, disusul ledakan bom di Hotel JW Marriott. September tahun ini, meledak lagi bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Pada bulan-bulan biasa sebelum bom Bali, tak kurang dari 70 ribu turis asing datang ke Pulau Dewata. Pada musim libur, yang biasanya dimulai Agustus hingga akhir tahun, turis yang membanjiri Bali bisa naik sampai dua kali lipat dari hari-hari biasa. Setelah bom Bali, paling banter hanya 30 ribu turis yang berkunjung.

Sejumlah negara juga membatasi kepergian warganya ke Indonesia. Akibatnya, target wisatawan 5,8 juta orang cuma tercapai 5 juta. Jumlah devisa yang bisa dikail pun berkurang menjadi hanya US$ 4,3 miliar, 25 persen di bawah target US$ 5,8 miliar. Sungguh, Rp 13,5 triliun bukan jumlah yang sedikit bagi Indonesia yang sedang terpuruk. "Butuh dua tahun untuk pulih," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ketika itu, I Gde Ardika.

Secara keseluruhan, jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia pada 2003 turun lebih dari 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Target devisa pun tak tercapai, hanya masuk US$ 4 miliar, turun hampir 10 persen dibandingkan dengan 2002.

Ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, 9 September lalu, sempat membuat syok sesaat arus turis ke Jakarta. Kunjungan turis asing ke Jakarta merosot 21,9 persen. Tapi Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik yakin, target kunjungan 5,2 juta wisatawan asing ke Indonesia tahun ini bakal tercapai. Sampai September lalu, jumlah turis asing yang datang sudah 4 juta orang. "Ini pertanda pariwisata Indonesia sudah mulai bangkit," kata Jero.

Ia yakin, pada 2005 dunia pariwisata Indonesia bakal pulih. Target pun dipatok 12 persen lebih tinggi dari tahun ini: 5,8 juta orang. Devisa yang masuk pada tahun depan diperkirakan bakal naik menjadi US$ 5,4 miliar, perolehan devisa terbesar kedua setelah sektor minyak dan gas. "Kita akan kembali menjadikan sektor pariwisata andalan devisa Indonesia," kata Jero.

Pelaku dunia pariwisata pun mulai menebar harapan. Menurut Meiti Robot, Wakil Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia, orang cepat lupa soal bom. Buktinya, katanya, sesaat setelah ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, gelar Pasar Wisata di Yogyakarta ramai dikunjungi turis asing. Tapi Jero tidak menutup mata, faktor keamanan masih menghantui pariwisata 2005. "Kita minta polisi menjaga setiap jengkal sentra pariwisata di Indonesia," katanya.

Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran, Udin Saifuddin, menyatakan promosi juga memainkan peranan penting dalam menarik turis asing. "Kita harus bisa meyakinkan dunia bahwa Indonesia aman," katanya. Karena itulah Indonesia akan mengikuti 48 perhelatan akbar promosi pariwisata internasional di sepanjang 2005. Pemerintah, dibantu pelaku usaha, juga akan memperbanyak pergelaran pariwisata dan kebudayaan di daerah wisata.

Perkara promosi, Ben Sukma, Ketua Umum Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita), meminta sasarannya harus jelas. Tahun depan, misalnya, Indonesia harus masuk ke negara-negara potensial seperti Cina dan India. Ben meyakinkan, para pengusaha akan bersedia membantu pembiayaan promosi asal transparan.

Di luar faktor keamanan dan promosi, katanya, pemerintah mestinya punya peran penting di bidang lain, yakni perpajakan dan visa. "Kalau pengurusan visa dipermudah dan dipercepat, saya yakin turis yang datang akan lebih banyak," kata Ben. Meiti menambahkan, visa memegang peranan penting menarik wisatawan asing.

Dia meminta jumlah negara yang bisa mengurus visa saat kedatangan (visa on arrival/VoA) diperbanyak dari yang sekarang hanya 21 negara. Pemerintah juga harus berani memperpanjang waktu kunjungan. Jika sekarang untuk VoA US$ 10 seorang turis bisa mengunjungi Indonesia selama tiga hari, kata Meiti, seharusnya bisa diperpanjang hingga tujuh hari. Begitu pula yang US$ 25, dari 30 hari menjadi 60 hari. "Akan kita kaji dulu," kata Jero Wacik.

Garuda Indonesia pun berjanji membuka kembali rute-rute di Eropa, khususnya Belanda, sekaligus menambah frekuensi penerbangan ke Cina. "Kami akan membuka rute ke Amsterdam pada saat peak season," kata Direktur Utama Garuda, Indra Setiawan. Sebab, ternyata, menurut Udin Saifuddin, kelemahan lain pariwisata Indonesia adalah terbatasnya penerbangan, khususnya ke Eropa.

Stepanus S. Kurniawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data