Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Laporan Khusus

Demam Sawit, Langka Kecambah

Produksi minyak sawit Indonesia terus bertambah. Masih banyak kekurangan dibandingkan dengan Malaysia.

HARI-hari Maruli Gultom seperti lari bergegas. Pagi ini Direktur Utama PT Astra Agro Lestari itu berada di Riau, esoknya ia sudah di Kalimantan Tengah. Lusa di pedalaman Sulawesi Selatan. Dalam sepekan, praktis Maruli hanya dua hari di kantornya di Jakarta. Selebihnya, insinyur mesin itu blasak-blusuk menginspeksi hamparan kebun sawit seluas 145 ribu hektare milik perusahaan, yang tersebar di berbagai pelosok Tanah Air.

Pemilik atau pengelola kebun sawit seperti Maruli memang mesti bersicepat dengan waktu. Terlebih saat ini, ketika industri sawit menggelegak penuh gairah. Pertumbuhan permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional rata-rata 2,2 juta ton per tahun, dengan harga US$ 450-500 per ton (Rp 4.050.000-4.500.000).

Kondisi itu membuat masyarakat terjangkit "demam sawit". "Orang berlomba-lomba menanam kelapa sawit," kata Subagyono. Direktur Jenderal Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian itu menunjuk Gudang Garam, produsen rokok terkenal, yang kini ikut-ikutan menanam sawit.

Tak kepalang tanggung, lewat perusahaan bernama Matahari Kahuripan Indonesia (Makin), Gudang Garam kini menguasai 300 ribu hektare lahan. Areal yang luasnya lima kali Jakarta itu tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Lampung. Sejauh ini, yang sudah mereka tanami kelapa sawit 60 ribu hektare.

Astra Agro Lestari tak mau ketinggalan. Maruli menyatakan perusahaannya akan segera melakukan ekspansi dengan dana Rp 2,2 triliun. Dalam lima tahun ke depan ia mencanangkan tekad membuka kebun 140 ribu hektare. Caranya, membeli kebun yang sudah ada atau mengembangkan perkebunan baru. "Ekspansi kami terutama ke wilayah timur, Kalimantan dan Sulawesi," ujarnya.

Tak hanya menambah luas lahan, para pekebun juga giat melakukan program replanting?mengganti tanaman kelapa sawit tua dengan tanaman baru. Saat ini diperkirakan ada 400 ribu hektare tanaman kelapa sawit generasi pertama berusia 20-30 tahun yang perlu diremajakan.

Subagyono memperkirakan, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah bertambah dari 3,8 juta hektare menjadi 4,2 juta hektare pada tahun ini. Adapun produksi CPO meningkat dari 9,8 juta ton menjadi 11 juta ton?membayangi produksi CPO negeri jiran Malaysia, yang 13,3 juta ton. Devisa yang diperoleh dari ekspor mencapai US$ 3 miliar?setara dengan Rp 27 triliun.

Tahun depan produksi CPO Indonesia diperkirakan bertambah lagi 500 ribu ton. Alhasil, bila penambahan lahan dan program replanting berjalan lancar, Subagyono optimistis dalam tempo 5-10 tahun mendatang Indonesia akan bisa menyalip Malaysia sebagai produsen CPO nomor wahid di dunia. Soalnya, negeri jiran itu terbatas lahannya.

Sayang, data pemerintah agaknya kurang klop dengan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). Tanpa tedeng aling-aling, Ketua Gapki, Derom Bangun, menilai pernyataan bahwa luas lahan sawit mencapai 4,2 juta hektare adalah "kurang akurat".

Dalam hitungan Derom, total luas lahan kebun sawit hanya 4 juta hektare. Perinciannya: lahan milik perkebunan inti rakyat (PIR) 700 ribu hektare, kebun kepunyaan PT Perkebunan Negara (PTPN) 800 ribu hektare, kebun swasta milik perusahaan nasional dan asing sekitar 2,5 juta hektare.

Kendati berbagi optimisme dengan Subagyono soal masa depan bisnis sawit, Derom mengingatkan bisnis ini bukannya tak memiliki kendala. Ia, antara lain, menunjuk kesulitan pekebun memperoleh bibit pohon kelapa sawit untuk melakukan penanaman baru. Penyebabnya bisa ditarik ke belakang di masa krisis ekonomi melanda Indonesia.

Pada 1996, bibit hasil produksi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PKPS) mencapai 60 juta kecambah. Jumlah itu bisa digunakan untuk menanami lahan 300 ribu hektare per tahun. Tapi, lantaran krisis ekonomi pada 1999, pekebun tak memiliki uang untuk menanam bibit. Saat itu banyak kecambah terpaksa dibuang atau dimusnahkan. PKPS pun tak ayal mengurangi produksinya sehingga sekarang diperkirakan hanya memproduksi 40 juta kecambah per tahun.

Sebetulnya masih ada produsen kecambah lain seperti Socfin, London Sumatera Plantation, dan Sinar Mas. Namun, sebagian produsen itu lebih mengutamakan penjualan kecambah kepada perusahaan kelompoknya sendiri. Akibatnya, pekebun lain tetap kesulitan memperoleh bibit.

Praktis hanya kebun kelapa sawit milik pengusaha Malaysia yang tak sulit memperoleh kecambah. Mereka kabarnya mendapat pasokan bibit langsung dari negeri asalnya. Sebaliknya, bila pengusaha Indonesia ingin membeli, produsen Malaysia kerap mengatakan bibitnya habis. Pengusaha terpaksa pontang-panting mencari kecambah. Astra Agro Lestari, misalnya, menurut Maruli, terpaksa mendatangkan kecambah dari Kostarika dan Papua Nugini.

Menghadapi masalah kelangkaan kecambah, menurut Subagyono, pemerintah tak berpangku tangan. Saat ini pemerintah sedang menyiapkan tiga sumber pembibitan kelapa sawit baru. Masing-masing dua unit di Riau dan satu unit di Palembang. Ketiga sentra kecambah itu diharapkan sudah bisa berproduksi massal mulai tahun depan.

Kendala lain yang dihadapi industri sawit ada di bidang pemasaran. Dibandingkan dengan Malaysia, kemampuan pemasaran produk sawit Indonesia jauh tertinggal. Negeri jiran itu memiliki tim pemasaran yang disebut Malaysian Palm Oil Promotion Council (MPOPC), yang memiliki perwakilan di tujuh kota besar dunia.

MPOPC, yang memiliki dana besar dari pemerintah Malaysia, tidak cuma piawai mempengaruhi harga, tapi juga kebijakan pemerintah negara tujuan ekspor. Contohnya kebijakan bea masuk. Tak mengherankan bila di Cina, produk CPO Malaysia mendapat pengenaan bea masuk lebih rendah ketimbang produk CPO dari Indonesia.

Di bawah pengawasan Malaysian Palm Oil Board (MPOB), pemerintah Malaysia juga giat membantu program peremajaan sawit. Pada Maret 2001, pemerintah Malaysia memberikan hibah kepada pemilik kebun sebanyak 1.000 ringgit (setara Rp 2.400.000) untuk setiap hektare kebun sawit yang melakukan penanaman bibit unggul generasi baru.

Diperkirakan total 200 juta ringgit (Rp 480 miliar) telah dikeluarkan pemerintah Malaysia untuk program itu. Pada Mei 2003 ada tambahan hibah lagi sebesar 28 juta ringgit (Rp 67,2 miliar). Penanaman bibit unggul generasi baru itu diperkirakan akan mendongkrak produksi CPO Malaysia mulai tahun depan.

Kesungguhan pemerintah Malaysia mengembangkan bisnis sawit jelas patut ditiru. Bila pemerintah Indonesia mau belajar dari negeri jiran itu?dengan modal lahan begitu luas, iklim yang bersahabat, dan tenaga kerja berlimpah?bukan mustahil Indonesia akan segera melesat sebagai negara produsen dan eksportir CPO terbesar di jagat.

Nugroho Dewanto, M. Syakur Usman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data