Dihantui Minyak dan Badai Setelah dua puluh tahun nyaris tertidur, harga minyak meloncat-loncat dan melesat seperti kuda rodeo lepas kendali. Sempat berkibar di atas US$ 50 per barel, November ini harganya sedikit reda, namun tetap jauh di atas harga ketika situasi Timur Tengah paling mendidih, yakni ketika gempuran Amerika ke Irak awal tahun ini.
Kekhawatiran pun muncul: seberapa jauh kenaikan harga minyak akan memicu resesi dunia? Negara kaya yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan, setiap kenaikan harga minyak US$ 8 per barel akan menggerogoti pertumbuhan ekonomi mereka hingga 0,4 persen. Dengan kenaikan lebih tinggi dari itu, pertumbuhan ekonomi banyak negeri ada dalam posisi jalan di tempat.
Sialnya, harga minyak bukan satu-satunya ancaman ekonomi tahun depan. Badai panas El Nino tak bisa diabaikan perannya, dan juga situasi tak menentu di Irak. Bagaimana ini semua akan berpengaruh pada ekonomi Indonesia?"ikan kecil" dalam kolam besar nan keruh? |
Pasar minyak menendang ekonomi dunia," kata Robert Alan Fedman, analis perusahaan sekuritas Morgan Stanley yang aktif di Bursa Efek Jakarta. Dalam jangka pendek, menurut Fedman, obat paling jitu untuk meredakan gerak naik harga minyak adalah menambah pasokan. "Sayangnya, itu tak bisa cepat dilakukan. Sejumlah negara penghasil minyak seperti Venezuela, Nigeria, dan Rusia tengah dirundung masalah politik di dalam negeri. Tingkat produksi mereka jauh di bawah kapasitas."
Pengamat energi Kurtubi menyebut hal yang sama, ada kesenjangan pasokan dan permintaan sekitar 4 juta barel per hari. "Namun janji peningkatan produksi hanya datang dari kawasan Timur Tengah," katanya. Arab Saudi menyatakan siap meningkatkan kapasitas produksi hingga sejuta barel per hari, mulai awal tahun depan.
Tetapi kesenjangan pasokan dan permintaan hanya satu faktor. Menggilanya harga minyak dibakar pula oleh permainan para spekulan. Akibat rendahnya suku bunga, menurut Fedman, para hedge funds kini mengalirkan hampir semua amunisi mereka ke bursa berjangka komoditas, memicu kenaikan harga secara tidak proporsional. Morgan Stanley sendiri meramalkan, kalau diukur semata berdasarkan tingkat permintaan dan pasokan saja, harga minyak di pasar dunia akan kembali ke tingkat US$ 33 per barel.
Ramalan itu menenangkan hati. Tapi ada faktor lain yang membuat banyak pemerintahan di dunia juga boleh sedikit bernapas lega, setidaknya sekarang ini, bahwa kenaikan harga minyak tidak menyeret dunia ke jurang resesi. Ada sejumlah faktor pengimbang yang mencegah harga minyak mengobrak-abrik ekonomi.
Bumper yang paling kuat menahan dampak laju minyak adalah rendahnya tingkat inflasi dunia, yakni hanya sekitar 1 persen. Otoritas moneter pun tak terburu menaikkan suku bunga meski harga minyak naik. Di Amerika Serikat, misalnya, bank sentral diperkirakan hanya akan menaikkan suku bunga sebanyak 25 basis poin menjadi 2 persen pada Desember esok.
Obat penawar harga minyak juga datang dari Republik Rakyat Cina. Bank sentral Cina awal bulan ini meningkatkan suku bunga 27 basis poin menjadi 5,58 persen. Kenaikan suku bunga itu, yang pertama dalam tujuh tahun terakhir, ditujukan untuk mengerem aktivitas ekonomi. Ini jelas akan mengurangi konsumsi energi secara signifikan, karena Cina adalah negeri paling dahaga akan minyak setelah Amerika.
Kebijakan moneter yang longgar menjadi penyeimbang dampak kenaikan harga minyak yang drastis terhadap ekonomi dunia. Tingkat konsumsi di negara-negara maju, meski sedikit melambat, diperkirakan tak akan memacetkan arus barang dari negara-negara pengekspor, seperti Indonesia.
Situasi makroekonomi di dalam negeri diperkirakan juga akan cerah pada tahun depan. Inflasi, yang merupakan kenop naik-turunnya suku bunga di dalam negeri, tahun depan diperkirakan akan terkontrol. Deputi Gubernur Bank Indonesia Aslim Tadjudin meyakini laju inflasi dapat tergiring di kisaran 6 persen.
Ancaman terbesar yang mengintai inflasi adalah kenaikan harga bahan bakar minyak. Jika harga minyak disesuaikan dengan pasar luar negeri, biaya transportasi tentu akan naik. Inflasi bisa melaju cepat, karena biaya transportasi menyumbang 5 hingga 10 persen biaya produksi.
Pemerintah masih menimbang-nimbang untuk mencabut subsidi, yang bisa mensterilkan harga minyak domestik dari gejolak harga di luar negeri. Tahun ini kebijakan mempertahankan subsidi itu telah melipatgandakan pengeluaran anggaran dari Rp 14 triliun menjadi Rp 62 triliun.
Namun, dihantui oleh faktor politik, pemerintah tampaknya cenderung melupakan penghapusan subsidi, setidaknya untuk sementara. "Kenaikan harga BBM akan menambah beban rakyat," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Menurut saya, tidaklah pas menaikkan harga minyak di dalam 100 hari pemerintahan," kata Jusuf Kalla.
Harga minyak yang stabil di dalam negeri, setidaknya di awal tahun, membuat Bank Indonesia sedikit lega. Harga bahan baku impor juga diperkirakan tak banyak mendorong inflasi, karena nilai tukar rupiah pada tahun depan diperkirakan masih cenderung bertahan di kisaran yang sama seperti tahun ini. Fauzi Ichsan dari Standard Chartered memprediksi rata-rata kurs dolar tahun depan sebesar Rp 8.800, sedikit lebih tinggi dibanding target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara: Rp 8.600 per US$.
Bank Indonesia sendiri mentoleransi kurs dolar hingga sekitar Rp 9.000. Kisaran itu bisa diterima baik oleh eksportir maupun importir. Satu-satunya yang mungkin menggoyang nilai tukar rupiah adalah pasar valuta yang tipis di dalam negeri. Dengan transaksi perdagangan tak lebih dari US$ 300 juta per hari, harga dolar akan mudah terangkat. "Di luar itu, tak ada faktor fundamental yang bisa menggoyang dolar," ujar Anton Gunawan, ekonom Citibank.
Faktor rupiah, yang cenderung menguat, dan tiadanya sinyal kenaikan harga minyak, membuat Bank Indonesia percaya bahwa laju inflasi akan terkawal menurut target anggaran, yaitu 5,5 persen dengan rentang plus minus sebesar 1 persen. "Satu-satunya tekanan inflasi hanyalah kenaikan belanja musiman, seperti Lebaran, Natal, dan tahun baru," kata Aslim Tadjudin.
Sejatinya, masih ada faktor lain yang mengancam kenaikan laju inflasi: cuaca alam. Pusat ramalan cuaca di Amerika Serikat memperkirakan El-Nino akan kembali menghampiri negara-negara di kawasan Lautan Pasifik. Gelagat kemunculan si "Bocah Nakal" itu sudah tercium sejak Juli silam. Pemanasan yang terus berlangsung di bagian tengah Samudra Pasifik diperkirakan akan memunculkan amuk pada awal 2005.
Di masa lalu, badai ini sudah terbukti membawa dampak yang sungguh menyesakkan. El Nino mendatangkan musim kering yang berkepanjangan. Di Indonesia, El Nino juga kerap diikuti oleh kebakaran perkebunan atau hutan. Tanaman kopi, tebu, kakao, karet, teh, dan kelapa sawit adalah yang paling rentan terpanggang. El Nino, mudah diperkirakan, akan berbuntut pada kenaikan harga komoditas pertanian.
Namun, tahun depan, dampak El Nino terhadap kenaikan harga bahan pangan dan produk makanan diharap tak akan terlalu besar. Pusat ramalan cuaca Amerika menyebut El Nino, yang akan datang pada akhir 2004 hingga awal 2005, tak akan seganas yang terjadi pada 1998-1999.
Jika inflasi tahun depan tak rewel, bank sentral punya ruang untuk menurunkan tingkat suku bunga seperti yang diinginkan oleh Presiden. Saat menemui Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, Presiden meminta agar bank sentral membantu pencapaian target pertumbuhan sebesar 6 persen. Bantuan yang diharapkan apa lagi kalau bukan suku bunga yang tak mencekik leher. Imbas yang diharap dari kebijakan moneter yang longgar adalah mengalirnya uang ke sektor riil. Pebisnis tentu juga melirik investasi baru di saat bunga rendah. Agenda ekonomi pemerintah: penciptaan lapangan kerja serta pengikisan kemiskinan jadi lebih mudah dirampungkan.
Hanya ada satu yang perlu diingat oleh Presiden dan tim kabinetnya. Faktor makro bukan satu-satunya penyebab lancar-mampetnya uang dari bank ke sektor riil. Industri perbankan Indonesia masih terbelit masalah struktural. "Itu yang menyebabkan ada dana perbankan yang menganggur sekitar Rp 140 triliun," ucap Anton Gunawan dari Citibank. Dana mengendap itu biasa diserap BI melalui berbagai instrumen pasar uang.
Di atas kertas, situasi makro akan berpihak di belakang pemerintah. Giliran Presiden dan tim ekonomi membuktikan janji mereka untuk bekerja keras. Jangan lupa, indikator itu dapat memburuk secepat membalik tangan. "Upaya memelihara suku bunga tergantung juga situasi politik negara," kata Aslim Tadjudin dari Bank Indonesia.
Thomas Hadiwinata dan S.S. Kurniawan
|