Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Gaya Hidup

Berkumpul Mengusir Gugup

Kaum eksekutif Jakarta ramai-ramai bergabung dalam klub toastmaster. Saling asah berbahasa Inggris.

SAAT namanya dipanggil, Sari Yusrif tampak kaget. Dengan tersipu-sipu, wanita muda ini menghampiri podium. Rekan-rekannya, sekitar 20 orang, yang duduk di kursi yang berderet melingkar, memperhatikannya dengan seksama. Sari, yang diminta berpidato dalam bahasa Inggris selama lima menit, membukanya dengan memperkenalkan dirinya. Mula-mulai ia tampak gugup dan kerap tersendat karena mesti mengingat kosakata yang tepat. Tapi lama-lama ia lancar, dan kian bersemangat berbicara.

Malam itu, wanita asal Surabaya tersebut menceritakan perjuangan hidupnya di Jakarta. Dia juga mengisahkan bagaimana mengubah dirinya dari anak yang manja menjadi wanita mandiri.

Tak hanya Sari yang didaulat berpidato, teman-temanya yang lain juga mendapat giliran yang sama. Semua pidato dan komunikasi dilakukan dalam bahasa Inggris. Hangat, akrab, dan santai. Itulah pertemuan Britcham Toastmaster, yang diadakan di Mercantile Club di Jakarta, Rabu malam pekan lalu.

Mereka memang tidak sedang mengadakan rapat formal. Bersama puluhan anggota lainnya, Sari berlatih berkomunikasi dalam bahasa Inggris di muka umum. Klub ini amat berbeda dengan kursus Inggris. "Kami melatih kemampuan berpidato dalam bahasa Inggris sekaligus kepemimpinan," kata Benny Slamet, salah satu pengelola Britcham Toastmaster.

Kini toastmaster sedang naik daun di kalangan eksekutif Jakarta. Berinduk dari toastmaster internasional yang berpusat di California di Amerika Serikat, lembaga ini memiliki 34 cabang di Indonesia dan anggota sekitar 600 orang. Selain Britcham, ada belasan klub serupa di Ibu Kota, antara lain Allianz Life Club, ConocoPhillips Indonesia Club, Excelcom Alpha Club, Lions Toastmasters, Metropolitan Club, PIA DPR-RI Club, dan Jakarta Motivators Club.

Orang yang menjadi anggota biasanya sudah menguasai bahasa Inggris tapi masih gugup saat berkomunikasi di depan umum. Nah, di klub-klub itulah mereka mengasahnya sekaligus membangun rasa percaya diri.

Ambil contoh Harlina Indra, 38 tahun, yang malam itu juga datang di pertemuan Britcham Club. Eksekutif pemasaran di sebuah perusahaan properti ini pernah tinggal di Belgia selama 17 tahun dan cukup fasih berbahasa Inggris. Namun, ia merasa payah jika mesti bicara di depan orang banyak. Itu sebabnya ia bergabung dengan sebuah klub toastmaster.

Seperti yang dialami Sari, dia pun amat gugup saat diminta berpidato dalam bahasa Inggris. "Rasanya mau kabur karena grogi," ujarnya. Seusai pidato, ia sempat ditanya oleh peserta lain tentang ulang tahun yang paling berkesan. Tapi Harlina diam saja, tak mampu menjawab. "Satu jam kemudian, setelah tidak berdiri di podium, ia baru mendapat ide bagaimana mestinya menjawab pertanyaan itu. "Bodoh sekali saya," katanya sambil tertawa.

Begitu juga Fenti Nurcahyaeni, seorang staf public relation di sebuah perusahaan farmasi di Jakarta. Wanita 30 tahun ini mengaku tak punya masalah ketika harus berbicara dalam bahasa Inggris satu lawan satu. "Tapi, kalau di depan umum, wah dulu sih nyerah," kata Fenti, yang bergabung dengan Britcham Club sejak enam bulan silam.

Menurut Benny Slamet, kemampuan berpidato, apalagi memakai bahasa Inggris, memang perlu dilatih. Masalahnya, pendidikan bahasa Inggris di sekolah lebih banyak mengajarkan orang untuk menerjemahkan. "Di klub ini kita diajak langsung berpikir dan berbicara dalam bahasa Inggris," kata Benny.

Biayanya? Tidak terlalu mahal. Iuran tiap bulan hanya US$ 3 (sekitar Rp 27 ribu) dan joining fee US$ 16 (sekitar 144 ribu) yang berlaku seumur hidup. Jikapun ada tambahan, hanya sekitar Rp 40 ribu per anggota per bulan untuk fotokopi materi diskusi. "Kami memang lembaga nirlaba," kata Frida S. Winarko, pengelola Britcham dan juga Metropolitan Club.

Rekrutmen dilakukan dengan cara getok tular. Tiap anggota dianjurkan mengajak kawannya untuk jadi anggota. Tidak ada keuntungan materi—seperti dalam pemasaran multilevel—bagi yang mengajak. "Ini hanya sebuah sistem untuk membuat klub tetap bergairah dengan kehadiran anggota baru," kata Frida, yang sehari-hari bekerja di perusahaan konsultan Moores Rowland.

Tiap klub biasanya memiliki anggota sekitar 20 orang, yang bertemu setiap satu atau dua pekan sekali. Pernah ada klub yang memiliki anggota sampai 60 orang. Tapi buru-buru klub ini dipecah menjadi dua agar lebih efektif. Sebab, dalam setiap pertemuan waktunya terbatas, hanya sekitar dua jam. Jika jumlah anggotanya berlebihan, banyak anggota yang tidak mendapat kesempatan berbicara.

Karena terbatasnya waktu, giliran berbicara pun diatur dengan ketat. Seperti dalam pertemuan Britcham malam itu, ada seorang time keeper dengan menghadap tiga lampu untuk mengingatkan waktu bicara tiap anggota. Jika lampu menyala hijau, pembicara boleh terus bicara. Tapi, kalau lampu kuning menyala, ia mesti bersiap mengakhirinya. Lampu akan merah menyala ketika waktu bicara sudah benar-benar habis. "Ini juga untuk melatih anggota berpidato tepat waktu tanpa kehilangan inti pembicaraan," ujar Benny.

Yang menarik, ada juga orang yang bertugas mengevaluasi pidato setiap anggota. Selain evaluasi umum, ada pula evaluasi yang lebih detail, sampai pada pengucapan kata dan susunan kalimat yang digunakan anggota. Hanya, menurut Frida, setiap anggota akan didorong bicara dulu. "Tak perlu takut salah, karena mereka di sini tidak untuk saling menilai. Kami semua saling berbagi dan belajar," katanya.

Bukan cuma kalangan eksekutif muda, figur seperti Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro ternyata juga menjadi anggota sebuah klub toastmaster. "Saya ikut klub tersebut sejak empat tahun lalu karena diajak teman," ujarnya. Bekas Menteri Pendidikan ini juga tidak sungkan pidatonya dikoreksi oleh evaluator yang umumnya jauh lebih muda.

Di mata Wardiman, bergabung dalam klub semacam itu amat bermanfaat untuk mengembangkan diri. "Berbahasa itu kan bisa mahir kalau terus dilatih. Dan di sini saya dipaksa menggunakan bahasa Inggris," katanya. Kendati sudah pensiun dari pemerintahan, ia masih sering menerima tamu asing. Saat itulah, ia perlu berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Seto Mulyadi, yang bergabung dengan sebuah klub toastmaster sejak awal tahun lalu, juga memperoleh manfaat yang sama. Apalagi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini sering mesti berbicara di forum internasional. Dengan mengasah diri, ia menjadi lebih fasih saat berpidato dalam bahasa Inggris. "Saya lebih percaya diri untuk bicara dalam bahasa Inggris, dan seorang teman mengatakan bahasa saya kini lebih bagus," ujar Seto.

Begitupun Sari, Fenti, dan Harlina. Semua merasakan manfaatnya mengasah kemampuan berbahasa Inggris di klub mereka. Fenti malah semakin percaya diri dan tak gugup lagi. "Saya lebih yakin mengungkapkan pikiran saya ketika meeting di kantor tanpa takut orang tak bisa menerima saya."

Lalu kapan seseorang bisa merasa dirinya telah menjadi toastmaster alias terampil berpidato? "Seorang mentor saya mengatakan, ketika kaki kita sudah gatal ingin berdiri dan bicara di setiap forum," ujar Benny sambil tertawa.

Utami Widowati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data