(Nasib) Tamara, Sang Primadona Jurnalisme televisi Indonesia terlihat begitu semrawut dan penuh tekanan. Skenario buruk yang menjerembabkan potensi akting Tamara Bleszynski. |
ISSUE
Sutradara: Gunawan Paggaru
Skenario: Gunawan Paggaru, Be Raisuli
Pemain: Tamara Bleszynski, Adrian Maulana, August Melasz
Produksi: Media Nusantara Citra Film & Kalibrasi Gambar Hidup
SEBUTLAH ini sebuah klaim bombastik: tak ada artis Indonesia sesempurna Tamara Bleszynski. Titik. Mau bukti? Selama 12 tahun terakhir ia menjadi bintang iklan produk sebuah sabun populer. Tak tergantikan dan rasanya akan berlanjut entah sampai kapan. Padahal, pemeran lain yang tak kalah cantik, segar, bahkan lebih muda, sudah silih berganti datang dan pergi.
Kalau itu belum cukup, majalah periklanan Cakram memahkotai perempuan berdarah Polandia ini sebagai aktris sinetron termahal pada edisi khusus Agustus 2004. Tarifnya per episode (yang tak sampai satu jam tayang itu) Rp 80-100 juta. Sangat jauh di atas gaji resmi para menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang "cuma" Rp 19 juta per bulan. Dan untuk soal honor termahal, bukan tahun ini saja Tamara menjadi maharani.
Soal keluarga apalagi. Jangan harap bisa melihat tampang Tamara tersedu-sedu di tayangan infotainment saluran TV mana pun yang lazimnya berisi kisah suami-istri yang dalam proses cerai, suami berselingkuh, atau kisah sensasional lain. Kehidupan pribadi Tamara sebersih wajahnya yang tanpa noda. Betul-betul role model ideal.
Tapi kalau "kesempurnaan" citra kinetis itu yang menyebabkan sutradara Gunawan Paggaru mempercayakannya berperan sebagai Linda, seorang reporter televisi pemula, boleh jadi inilah "cacat profesional" pertama seorang sebetulnya penuh bakat seperti Tamara Bleszynski. Di film layar lebar pertamanya pula.
Issue dibuka dengan kesibukan rapat perencanaan editorial stasiun televisi News Network. Inilah kantor media massa yang tampaknya punya daya tekan paling tinggi di republik ini. Pemimpin redaksi yang setiap saat berkhotbah tentang arti penting jurnalisme dengan nada seperti menghafal buku teks jurnalistik; editor senior bidang politik yang selalu marah-marah tak kenal cuaca; dan newscaster (pembaca berita) arogan yang selalu melempar apa pun yang dipakainya pada seorang asisten lelaki kemayu.
Saat itu, Linda bahkan belum menjadi reporter. Ia sedang berada dalam bus kota yang meluncur menuju News Network untuk menjalani wawancara. Gugupkah Linda menjelang wawancara pertamanya? O, enggak dong! Ia masih sempat membaca novel John Grisham. Lalu naik seorang ibu dengan bayi di pelukan. Matanya mencari-cari tempat kosong. Tak seorang pun penumpang memberinya kursi. Tak seorang pun? O, tidak!
Di tengah perjalanan, Linda yang kini berdiri, melihat kerumunan di sebuah gedung. Ada korban bunuh diri. Ia turun, dan bersenggolan dengan seorang perempuan yang dengan lihai menyelipkan sekeping mini disk ke dalam tasnya. Ternyata berita kematian itu juga menjadi headline news yang dibawakan oleh Lukman (Adrian Maulana), sang newscaster arogan.
Malang, News Network tak punya rekaman gambar yang dibutuhkan sehingga harus mengambil dari stasiun lain. Sebuah aib? Tentu tidak! Mini disk itulah yang menjadi kunci dari tewasnya sang korban, dan membawa pada rahasia seram lainnya: sebuah komplotan pengebom yang akan memorak-porandakan berbagai kota di Tanah Air. Ringkas cerita, Linda yang akhirnya ditawan oleh bos komplotan itu (August Melasz), seorang manic depressive, bisa dibebaskan polisi. Tapi Lukman yang kemudian menjadi kekasihnya.
Ah sudahlah. Tentu tidak fair menyalahkan semua jungkir balik logika di film ini hanya pada nama besar Tamara. Apalagi ia cukup terlatih di panggung teater. Misalnya sebagai Syarifah dalam drama klasik Melayu Deli, Musang Berjanggut, yang dipentaskan di GKJ, Desember 2002.
Sayang, skenario Issue bukan cuma lemah di alur penceritaan, perwatakan tokoh, dan isi dialog. Bahkan sampai hal yang lebih elementer: pencitraan dunia jurnalisme televisi yang begitu absurd. (Bayangkan, newscaster bisa "mogok" membacakan berita karena menolak keputusan pemimpin redaksi, sehingga Linda yang baru sehari bekerja langsung didapuk sebagai pembaca berita! Yang bener ah!)
Alhasil, dengan adanya Issue, film seperti Up Close and Personal (John Avnet, 1996) yang juga memotret kiprah seorang reporter televisi pemula (Michelle Pfeiffer) dan jalinan asmaranya dengan sang bos (Robert Redford), tiba-tiba seperti "naik kelas" dari film pop biasa menjadi cult movie yang agung dan monumental.
Padahalsungguh mati ini bukan klaim bombastisdengan naskah yang bagus dan masuk akal, Tamara paling tidak bisa berkaca pada dua hal: pertama, meriset (lebih dalam) cara kerja rekan-rekan di stasiun televisi. Kedua, mempelajari bagaimana aktris seperti Michelle Pfeiffer atau Holly Hunter bekerja sebagai wartawan televisi.
Akmal Nasery Basral
|