Dengan Limbah Merambah Usaha Sukses melewati krisis ekonomi, Roni Dwi Hartoyo gagal menghadapi dampak bom Bali. Sudah melahirkan sejumlah pengusaha kecil. |
ENAM pria sibuk memotong sebilah kayu hingga menjadi persegi panjang 1 x 3 sentimeter. Setelah terkumpul, potongan-potongan itu disambung membentuk pola mangkuk dengan menggunakan lem kayu. Pola yang sudah selesai didempul dan digosok, dengan memanfaatkan serbuk gergajian kayu dicampur lem.
Di ruang terpisah di bengkel CV Sono Indah Perkasa di Pasuruan, Jawa Timur, itu dua pria tekun melubangi potongan-potongan kayu berbentuk kerucut seukuran jempol remaja. Nyaris dari awal hingga akhir, seluruh pekerjaan dilakukan menggunakan tangan. "Mesin hanya dipakai untuk melubangi," kata Roni Dwi Hartoyo, sang empunya usaha.
Sono Indah, yang didirikan Roni dengan modal Rp 10 juta, memang dikenal sebagai produsen kerajinan dari serbuk kayu asal limbah gergajian. Sebelumnya, Roni memulai usaha mebel dan kerajinan dengan bahan baku kayu utuh. Namun, dalam pengiriman ke Malaysia dan Amerika Serikat, banyak ba- rangnya pecah.
Selain itu, bahan kayu juga lebih mahal. "Kalau serbuk kayu kan lebih murah dan lebih nyeni," katanya. Setelah usahanya mapan, Roni, kini 42 tahun, keluar dari perusahaan leveransir PT Trisula Abadi di Surabaya agar bisa berkonsentrasi pada usahanya.
Pada mulanya ia hanya mempekerjakan empat saudara kandung dan seorang kerabat. Awalnya, Roni pun cuma mampu membeli bahan baku batok kelapa satu pick-up seharga Rp 100 ribu, tapi kini Sono rata-rata membeli bahan itu sebanyak lima mobil bak terbuka ini setiap bulannya.
Tapi, rupanya, banyak epigon yang mencontoh produknya. Dia memilih mengganti bahan bakunya dengan serbuk kayu gergajian. Kebetulan di Pasuruan banyak usaha mebel. Hasil jadinya juga lebih unik karena merupakan campuran banyak jenis kayu, dari meranti, kamper, ramin, dan kruing, sampai kelapa, jati, sonokeling, mahoni, dan kayu durian.
Terbukti kemudian, usahanya berkembang luar biasa. Jenis kerajinan yang dibuatnya makin beragam, dari mangkuk, kap lampu, hingga furnitur. Sebagian besar pembelinya orang asing dan para pemilik galeri di Bali. Salah satu tonggak bisnis Roni adalah ketika ia menjadi pemasok suvenir untuk para pemimpin negara-negara peserta Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok di Jakarta, pada 1994.
Dengan pembeli yang kebanyakan orang asing, tak aneh jika krisis ekonomi yang meluluh-lantakkan Indonesia pada 1997 tak kuasa menggoyang usahanya. Jumlah pekerjanya membengkak sampai 100 orang. Omzetnya pun meningkat menjadi sekitar Rp 200 juta per bulan, dengan keuntungan sekitar 30-40 persen.
Tingginya tingkat keuntungan itulah yang membuat Roni enggan berhubungan dengan bank. Selama 14 tahun, belum sekalipun Roni meminjam uang ke bank, meski tawaran datang bertubi-tubi. Bahkan dia berhasil menjadikan keempat adik dan seorang kerabatnya pengusaha. Satu di antaranya kini sudah membuka usaha di Bali.
Tapi, ledakan bom di Bali, Oktober 2002, menghancurkan usahanya. Pelanggannya di Bali tak lagi memberi order karena kunjungan turis menipis. Akibatnya, dari 150-an orang, pekerjanya tinggal tujuh orang. Setahun kemudian, Bali mulai pulih, begitu pula Roni. Dia kembali membangun usahanya dari reruntuhan.
Dengan 95 persen pekerjaan dilakukan tangan, tak mudah bagi Roni mencari perajin baru karena pekerjanya yang lama terpencar-pencar mencari penghidupan sendiri. "Butuh waktu lama melatih mereka," tuturnya. Kini, Roni juga mempekerjakan petani di Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Siang mereka bertani di sawah, malamnya mengerjakan produk Sono Indah. Untuk setiap produk, mereka dibayar Rp 2.000.
Omzet usahanya kini memang belum pulih sepenuhnya. "Kini penjualan kami paling Rp 100 juta per bulan," ujarnya. Setiap tahun Roni bisa membuat 19 ribu potong dengan harga berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 11 juta. Kata Roni, tiap orang punya pesanan khas. Orang Amerika biasanya membeli termos es dan baki sampanye, orang Malaysia suka memesan cermin, dan orang Jepang doyan memesan tempat penganan sushi dan sashimi.
Salah satu pelanggannya, Pandit Wismanto, mengakui bahwa produk buatan Roni unik dan orisinal. "Belum pernah saya melihat barang seperti itu," katanya. Itu sebabnya, dengan senang hati Pandit menjadi perpanjangan tangan Roni. Sementara pada awalnya dia hanya menjual Rp 2 juta-3 juta per bulan ke Belanda, kini omzetnya sendiri sudah sekitar Rp 15 jutaan.
M. Taufiqurohman, Abdi Purmono (Pasuruan)
|