Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Buku

Sebuah Dunia di Mata Autis

Pembaca pun disuguhi berbagai pemandangan yang menakjubkan sekaligus menakutkan atas kehidupan sehari-hari yang dilihat dari mata seorang penderita autisme.

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran
Pengarang: Mark Haddon
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2004


Apa yang bisa kita bayangkan dari seorang anak autis, yang mengalami gangguan otak hingga tak mampu berkomunikasi atau melakukan interaksi sosial ataupun mengembangkan kreativitas atau imajinasi, tetapi bertekad menulis sebuah novel detektif tentang kematian misterius seekor anjing?

Jangan skeptis dulu. Anak autis ini mampu menyebutkan bilangan prima mulai dari 2 hingga 7.057, lulus ujian matematika A Level yang terkenal sulit itu, dan "menemukan bahwa rasi bintang Orion sesungguhnya lebih mirip seekor dinosaurus daripada seorang pemburu dengan busur dan panahnya".

Mark Haddon, melalui tokoh novelnya, seorang anak usia 15 tahun penderita autisme bernama Christopher John Francis Boone, secara unik berhasil menuturkan kisah petualangan sang detektif cilik membongkar misteri terbunuhnya seekor anjing pudel milik tetangga seberang rumah. Novel berjudul asli The Curious Incident of the Dog in the Night-Time (Vintage 2004) ini telah dialihbahasakan oleh Hendarto Setiadi menjadi Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

Ini memang bukan sebuah mahakarya, tetapi tak urung ia menjadi sebuah karya fiksi yang istimewa dan sama sekali jauh dari konvensional. Haddon seratus persen mempercayakan kendali cerita kepada Christopher. Dan pembaca pun disuguhi berbagai pemandangan yang menakjubkan sekaligus menakutkan atas kehidupan sehari-hari yang dilihat dari mata seorang penderita autisme. Lewat sudut pandang orang pertama, kita dibawa masuk ke dunia dalam yang rumit di benak Christopher. Dunia sehari-hari yang begitu kita kenal mendadak menjelma jadi sebuah mimpi buruk, sementara autisme yang begitu asing bagi kita secara bertahap berubah jadi sebuah dunia yang akrab.

Kalimat yang meluncur dari Christopher adalah kalimat tunggal yang sederhana tetapi yang mengalir dengan begitu luwesnya justru oleh pemakaian kata-kata hubung seperti dan, jadi, dan lalu yang repetitif dan formulaik. Logika berpikirnya adalah logika yang kaku dengan pola-pola yang nyaris tak bervariasi, tetapi pada saat yang sama juga mengejutkan kita yang terbiasa berpikir "normal", menyelamatkan tokoh cum narator yang mencoba bertahan hidup di dunia "normal", dan menjungkirbalikkan cara pandang kita tentang yang "normal".

Sangat menyentuh untuk menyelami bagaimana Christopher mencoba memahami apa arti perasaan ketika kemampuannya untuk berbagi rasa lumpuh akibat kelainan otak yang dideritanya. Kita tertawa oleh strategi yang dipakainya untuk memahami aneka perasaan manusia, seperti kesedihan, kebahagiaan, dan kegusaran, melalui gambar-gambar wajah manusia yang sederhana dengan ekspresi mulut yang berbeda-beda. Namun kita juga trenyuh oleh ketakmampuannya merespons terpaan rangsang yang dilontarkan oleh lingkungan sekitarnya, yang bagi kita kaum "normal" tak berarti apa-apa tetapi bagi Christopher sangat traumatis.

Dalam keadaan seperti itu, ia akan "mematikan" sistem dalam dirinya, seperti sebuah komputer yang kelebihan beban sehingga lumpuh total dan harus di-reset dari awal untuk mem-fungsikannya kembali. Ini adalah sebuah simile yang orisinal yang keluar dari tuturan Christopher sendiri dan turut menciptakan banyak kelucuan di tengah upaya Haddon untuk membangun jembatan empati dalam diri pembaca pada penderita autisme. Hadirnya dua suasana yang bertolak belakang secara bersama-sama ini menjadi sebuah kekuatan dalam novel ini.

Mark Haddon, yang sama sekali tak asing dengan autisme karena keterlibatan aktifnya dengan pemberdayaan anak-anak autis, menulis dengan cukup ringan hati hingga tidak sampai terjerumus dalam idealisasi dengan menyajikan gambaran palsu tentang kenyataan penderita autisme. Empati tidak dibangun di atas belas kasihan melainkan dari pemahaman yang lebih dalam atas penyakit yang tak tersembuhkan itu. Mungkin, ini yang menjadi sumber kenikmatan dalam membaca novel yang tidak berpretensi untuk menjadi apa-apa selain sebagai pembuka mata hati. Dan kita tersenyum sesampai pada halaman akhir buku ini.

Manneke Budiman
Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data