|
Bangsa Palestina, bahkan seluruh umat manusia yang mencintai kemerdekaan, la-yak berutang budi pada Arafat. Hampir sepanjang hidupnya, tokoh ini berjuang memimpin bangsa Palestina untuk melepaskan diri dari pendudukan Israel.
Arafat mulai menjadi momok bagi Israel sejak gerilyawan Al-Fatah menang dalam pertempuran yang dikenal dengan sebutan perang Karameh pada 1968. Setahun kemudian, dia memimpin PLO. Sejak itu, Palestina adalah Arafat. Dialah orang yang paling dicari Israel. Nyawanya senantiasa terancam, sehingga untuk tidur pun dia berpindah ke dua tempat dalam satu malam.
Tapi Arafat tak pernah takut pada kematian. Kepada Tempo yang mewawancarinya di Tunisia pada Desember 1985, Arafat mengakui bahwa yang dia kawini adalah Palestina. Berbagai cara dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak Palestina, mulai dari peperangan hingga upaya damai.
Peluru dan pasukan komando Israel memang tak pernah bisa menaklukkan laki-laki ini. Tapi tubuhnya yang makin tua dan lelah sulit bertahan melawan penyakit. Kini, di usianya yang sudah 75 tahun, dia terbaring dalam kondisi koma di rumah sakit militer Percy, Prancis. Hidupnya bergantung pada alat-alat kedokteran.
Sementara itu, di Ramallah, Tepi Barat, parlemen Palestina dan Dewan Keamanan Nasional menggelar rapat. Kepada dunia, mereka menunjukkan bahwa pemerintahan Palestina tak ikut koma. Selama Arafat sakit, posisi Ketua PLO dipegang mantan perdana menteri Mahmud Abbas dan urusan pemerintahan sehari-hari ditangani Perdana Menteri Ahmed Qorei.
Kini, sejarah akan menyaksikan apa yang akan terjadi pada bangsa Palestina jika Arafat benar-benar wafat. Apakah nasib bangsa Palestina akan makin terpuruk? Atau perdamaian sejati bisa benar-benar terwujud?
|