Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 38/XXXIII/15 - 21 November 2004
   
Album

Album

PELANTIKAN
Letjen TNI Hadi Waluyo

Sebuah pelantikan panglima terlalu penting untuk dibatalkan hanya karena hujan. Itulah yang terjadi dalam upacara serah-terima jabatan Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) yang baru, Letnan Jenderal TNI Hadi Waluyo, Rabu (3/11) lalu. Geledek dan hujan tak sanggup merusak keseriusan upacara ini.

Ketika titik-titik hujan mulai turun, dan kian lama kian deras, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu yang melantik Hadi tak beringsut sedikit pun. Pakaian dinas warna hijau yang necis dan mlipis dibiarkan basah begitu saja. Dengan khidmat, Hadi mencium pataka, bendera kebanggaan Kostrad. Suasana upacara di Gugusan Gunung Sangga Buana, Karawang, Jawa Barat, yang diikuti dua peleton pasukan Kostrad pun terasa magis.

Hadi diangkat menjadi Pangkostrad menggantikan Letnan Jenderal TNI Bibit Waluyo, yang pada akhir September lalu lengser dengan sukarela karena alasan pensiun. Sebelum menempati pos baru ini, Hadi adalah Komandan Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI AD di Bandung. Dia juga pernah menjabat Pangdam Tanjung Pura, Kalimantan Barat. "Saya terkejut dengan penunjukan ini, karena saya belum pernah bertugas di kesatuan Kostrad," katanya kepada Sunariyah dari Tempo.

Semasa kuliah di Akademi Militer, Hadi adalah kawan seangkatan Bibit. Mereka sama-sama angkatan 1972. "Saya mungkin kurang sedikit dua tahun bertugas di Kostrad, tapi itu tidak jadi masalah; cukup waktu untuk berbuat."

Pengangkatan Hadi ini adalah bagian dari mutasi besar-besaran dalam Markas Besar TNI. Selain Hadi, ada 66 perwira tinggi dan menengah pada sejumlah jabatan penting yang dipindahkan. Keputusan mutasi ini, menurut Kepala Dinas Analisa Penerangan TNI Kolonel Infanteri D.J. Nachrowi, adalah tindak lanjut dari hasil sidang Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi pada 18 Oktober silam.



"Di mana muka anggota Dewan ini ditaruh jika ditanya apa yang Anda perjuangkan."
?Marwah Daud Ibrahim, anggota DPR dari Fraksi Golkar, salah satu anggota yang tergabung dalam Kaukus Perempuan Parlemen Indonesia, mengomentari konflik di DPR, di Jakarta kemarin.

"Delapan bulan bekerja di Johor, kini saya pulang ke Tegal cuma membawa uang sebesar Rp 100 ribu."
?Ilham, tenaga kerja Indonesia ilegal yang ikut gelombang pemulangan dari Malaysia, kepada Tempo di Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (4/11).



TEMPO DOELOE

15 November 1957
Pemimpin Uni Soviet menantang musuhnya, Amerika Serikat, dengan mengatakan bahwa negerinya memiliki nuklir yang dengan mudah bisa diluncurkan ke seluruh pelosok Amerika. Pernyataan Khrushchev dalam sebuah wawancara ini segera menyulut kekhawatiran pihak Amerika.

16 November 1945
Sebanyak 88 ilmuwan Jerman serentak pindah ke Amerika Serikat untuk bergabung dalam proyek pembuatan roket. Mereka akan merancang roket tandingan V-1 dan V-2, seri roket maut buatan Jerman.

17 November 1997
Satu kelompok garis keras membunuh 60 pelancong asing yang sedang menikmati keindahan piramid di Mesir tenggara.

18 November 1978
Ratusan pengikut Sekte Kuil yang dipimpin Jim Jones melakukan bunuh diri bersama di kawasan persawahan Guyana. Mereka bunuh diri menggunakan pil sianida yang dibagi-bagikan. Sebagian yang menolak bunuh diri segera dibantai pengikut lain. Total korban mencapai 913 orang, termasuk 276 anak-anak.

19 November 1969
Pele, bintang sepak bola legendaris Brasil, memasukkan golnya yang ke-1.000 saat memperkuat klub Santos melawan tim Vasco da Gama di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil. Gol ini menambah harum nama Pele, yang tiga kali memperkuat tim piala dunia Brasil.

20 November 1945
Sebanyak 24 perwira tinggi Nazi mulai diadili di pengadilan internasional untuk kejahatan perang yang berlangsung di Nuremberg, Jerman. Inilah pengadilan penjahat perang pertama yang pernah digelar. Pengadilan total memakan waktu 10 bulan dengan 216 sidang maraton.

21 November 1783
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia bisa melayang menggunakan balon udara panas. Penerbang itu adalah dua ahli fisika Prancis, Jean-François Pilatre de Rozier dan François Laurent. Balon mereka terbang berkeliling Paris sejauh 8,8 kilometer selama 25 menit.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data