Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 36/XXXIII/01 - 7 November 2004
   
Teknologi Informasi

Kencan tanpa Belaian Pacar

Kini ada game lokal yang bisa dimainkan ramai-ramai lewat telepon seluler. Bisa bikin kecanduan dan kantong jebol.

Setiap ujung jarinya adalah ensiklopedi game. Coba saja berikan sebuah permainan baru dari telepon seluler kepada Reza Ferdinansyah. "Satu-dua jam game itu pasti sudah selesai," kata maniak game ini bangga. Bahkan game Moon Base One bisa dia tamatkan hanya dalam dua menit.

Reza memang kutu game. Dia adalah "lulusan" dua game yang pernah ngetop di seantero jagat, Counter Strikes dan Champion Manager. Dulu, saat masih mahasiswa, hampir saban malam dia bisa duduk berjam-jam di depan komputer menaklukkan dua permainan online itu. Entah sudah berapa duit dia habiskan di warung Internet demi hobinya. Jangan-jangan demi hobi itu pula dia sekarang mengelola warnet sendiri.

Dengan militansi per-game-an seperti itu, bagi Reza permainan di telepon seluler adalah soal kecil. "Umumnya tidak terlalu menantang," ujar lelaki yang kini minimal 1-2 jam per hari selalu larut dengan permainan online itu. Tapi belakangan Reza harus mengubah pendapatnya. Akhir Agustus lalu ia mencoba Borobudur, permainan bikinan programer asal Yogyakarta. Dia sedikit terkejut. Katanya, "Ternyata permainan ini menantang juga."

Borobudur memang berbeda dengan kebanyakan permainan yang biasa ada di telepon seluler. Peranti lunak mini ini?berukuran 60 kilobyte?bisa dimainkan banyak orang dari tempat berlainan secara bersamaan. Ini jelas berbeda dengan permainan yang populer di ponsel seperti ular-ularan di Nokia atau tebak ranjau di Siemens. Dua jenis mainan ini cuma perlu ketangkasan pribadi dan tak ada bau kompetisi.

Sebaliknya dengan Borobudur. Dari ruang rapat, Reza bisa main bersama-sama tujuh temannya di mana pun. Di lapangan tenis, di kantor, di sela-sela rapat, hingga di ujung gunung. Dalam hitungan menit, kebosanan rapat bisa menjelma menjadi sebuah kompetisi merebut posisi jawara yang waskita, punya banyak uang, dan punya senjata lebih canggih. Kita juga bisa memilih karakter di permainan itu: mau jadi pendekar, penjaga, atau nareja yang ahli sihir.

Dengan mengobarkan semangat kompetisi seperti itu, Borobudur segera meramaikan jagat game Indonesia. Sejak diluncurkan oleh Boleh.com pada pertengahan Agustus lalu, hingga pekan lalu tercatat sudah 854 orang yang mengunduh (download) game ini. Padahal, untuk mengunduhnya, para pecandu mesti membayar Rp 10 ribu. Untuk main pun mereka harus terhubung dengan jaringan General Packet Radio Service (GPRS). Artinya, mereka juga harus siap-siap merogoh kocek lagi. Apalagi tarif GPRS di Indonesia lumayan selangit, Rp 10-25 per kilobyte. Kalau sekali gebuk butuh mengambil data 1-2 kilobyte, sebuah tonjokan di kartu Halo Telkomsel, misalnya, berharga Rp 25-50.

Tapi apalah artinya uang jika sudah kesengsem. Salah satu yang terbius permainan ini adalah Hazel. Dialah kini jawara di puncak tertinggi. Hanya dalam sekitar satu setengah bulan, dia sudah duduk di level 21 dan mengumpulkan uang 7.653, jauh meninggalkan para pesaingnya. Rival terdekatnya baru sampai level 4. "Saya sendiri baru level 2," ujar Reza.

Apa sih sebenarnya Borobudur, yang mulai membius para pemburu game online ini? Permainan ini terinspirasi dari candi terbesar di dunia, yakni Borobudur, yang menyimpan misteri-misteri yang belum terpecahkan. Alkisah, ada empat wilayah Borobudur, yaitu Men-dut, Tempuran, Pawon, dan Borobudur. Di setiap lokasi ada musuh sakti yang harus ditaklukkan. Setiap kali ada musuh tumbang, pemain akan mendapat ha-diah berupa poin dan uang. Dengan poin dan uang ini, pemain bisa membeli senjata pada Suliwa dan membeli jamu penambah tenaga pada Nyi Waluh.

Karena pembuatnya adalah wong Yogya, karakter dan semua pernak-pernik permainan ini sangat beraroma Jawa kuno. Lihat saja nama-nama yang dipakai seperti Pawon, Mendut. Atau jenis-jenis senjata seperti pedang, keris, atau trisula. "Kita memang ingin menghadirkan game dengan sentuhan lokal," kata Ricky Tanudibrata, Mobile Division Director PT Boleh Net Indonesia, pengelola Boleh.com. "Selama ini kan game di Indonesia semua dari Asia Timur, seperti dari Korea Selatan atau Jepang."

Boleh.com kini punya 1.000 koleksi permainan untuk telepon seluler. Menurut Ricky, dari jumlah itu, baru 80 permainan yang sudah diluncurkan ke pasar dan mayoritas permainan impor. Dan dari semuanya tadi, game multipemain dan buatan lokal, ya, cuma Borobudur itu.

Menurut Ricky, sebenarnya Indonesia bisa menjadi produsen permainan online. Katanya, "Cukup dengan industri rumahan yang terdiri dari beberapa desainer dan programer. Tak perlu komputer mahal."

Memang itulah yang terjadi dengan kelahiran Borobudur. Permainan ini dibuat dengan melibatkan empat orang, terdiri dari desainer dan programer. Bahasa pemrograman yang dipakai adalah Java, yang memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan pemain di tempat terpisah melalui jalur GPRS. Permainan ini bisa dimainkan di hampir semua telepon Nokia seperti 3110, 3105, 3200, 3300, 3650, 3660, 5100, 6100, 6220, 6225, 6585, 6610, 6650, 6600, 6800, 7210, 7250, 8910i, N-Gage. Selain Nokia, Sony Ericsson T610 dan Siemens U15 pun bisa.

Menurut Mita Soeprijo dari Mobile Game Development PT Boleh Net, awalnya, permainan ini dibuat dengan sangat komplet. Ada sekitar seratus karakter yang bisa nongol. Permainan yang dirancang sampai ke level 999 itu juga bisa dimainkan bersama-sama oleh 20 orang. Tokoh masing-masing pemain akan muncul dengan nama serta karakter yang khas. Yang lebih penting, awalnya tiap pemain bisa bertempur sambil mengobrol (chatting) atau meledek.

Sayang, ketika dijalankan di telepon seluler, ternyata permainan superkomplet itu ngadat karena jaringan GPRS belum bisa mengalirkan data-data dengan mulus. "Akhirnya, jumlah karakter pun dikurangi, fasilitas ngobrol dihilangkan dan jumlah pemain yang bisa main bareng pun dipangkas menjadi delapan orang," kata Mita, yang sejak kuliah sudah maniak game Final Fantasy.

Dengan fasilitas yang sudah mengkeret itu pun, kadang masih ada beberapa gambar yang tertunda. "Ini semua tergantung kualitas ja-ringan," kata Ricky memberikan alasan.

Menurut Mita, Boleh.com pernah menguji permainan ini di telepon Siemens U15?yang akan masuk pasar Indonesia pada 2005?dengan menggunakan ja-ringan EDGE (Enhanced Data rate GSM Evolution) milik Telkomsel. "Hasilnya, semua gerakan mulus. Nyaris tak ada penundaan munculnya gambar," ujarnya.

Karena alasan inilah, Ricky tetap yakin game seperti ini bakal meledak di masa mendatang. Bah-kan dia yakin, bisnis permainan seperti ini bakal mengalahkan permainan online seperti Ragnarok, Xian, atau Gun Bound, yang saat ini penggunanya mencapai 2 juta orang. Dia membeberkan sejumlah bukti: tahun ini ditargetkan jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia mencapai 28 juta. Saat ini, kata Ricky, sekitar 6 persen dari pendapatan operator telepon seluler berasal dari permainan.

Angka itu diperkirakan membengkak dengan makin membaiknya kualitas jaringan. Telkomsel, misalnya, saat ini sudah membangun EDGE di 45 lokasi di Jakarta. Teknologi ini menjamin kecepatan data tiga kali lebih cepat ketimbang lewat GPRS. Jaringan EDGE kini juga sudah masuk Surabaya dan akan disusul dengan Batam dan Medan. "Targetnya, tahun depan semua kota yang sudah bisa menikmati GPRS akan bisa EDGE," kata General Manager Technology & Strategic Network Telkomsel, Yoseph Garo.

Bila jaringan telepon seluler sudah semulus jalan tol, permainan multipemain bakal semakin marak. Mungkin tak cuma Borobudur yang ada di telepon seluler, tapi juga permainan lain, misalnya main gaple dengan teman sejawat tanpa harus ketemu. Bisa saling meledek, meski tak bisa berbagi kopi dari cangkir yang sama. Bahkan, kelak bisa main biliar bersama seorang gadis manis bermata biru dari Barcelona. Bisa berkencan meski tak bisa membelainya.

Burhan Sholihin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data