Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 36/XXXIII/01 - 7 November 2004
   
Film

Popcorn Rasa Ikan dan Aroma Mafia

Setting-nya, sebuah metropolitan di dasar samudra. Film animasi yang memakai aktor-aktris beken seperti Shark Tale memang membuat penonton betah.

SHARK TALE
Sutradara: Vicky Jenson, Bibo Bergeron, Rob Letterman
Skenario: Rob Letterman & Michael J. Wilson
Pengisi Suara: Will Smith, Robert de Niro, Jack Black, Renée Zellweger, Martin Scorsese.
Produksi: DreamWorks


SEBUAH dongeng tetaplah dongeng—dengan atau tanpa teknologi yang membuat penonton melongo. Karena itu, lupakan sejenak kesibukan Anda, rileks, dan perhatikanlah Oscar, seekor ikan pembual yang berada di posisi terbawah piramida makanan, namun kerap bertingkah bak penyanyi hip-hop tenar. Ia hidup di samudra antah berantah yang begitu mirip dengan Kota New York bila ditenggelam-kan ke dasar palung Atlantik.

Bahkan "masyarakat" ikan di kota itu digambarkan tak kalah trengginas dibandingkan dengan karakter New Yorker yang selalu bersigegas. Dan para ABG-ikan yang lucu-lucu itu—oh my God!—sudah terbiasa membuat grafiti dengan teknik air brush di tembok-tembok kota, atau mengisengi homeless citizen yang tak berdaya. Benar-benar sangat 'New Yor-quarian', bukan?

Kalau fabel karikatural seperti ini bisa membuat otot perut Anda mulai kram akibat terpingkal-pingkal, adegan selanjutnya justru membuat komunitas (keturunan) Italia di Amerika meriang menahan geram—sebelum akhirnya melancarkan protes resmi ke produser Shark Tale.

Bayangkanlah, Oscar yang selalu terlihat ceria itu ternyata berutang pada Sykes, ikan balon yang pernah menjadi penasihat Don Lino, seekor hiu yang menjadi godfather di bawah laut. Sampai waktu yang ditentukan, Oscar gagal membayar utangnya, sehingga ia dihukum dua ubur-ubur rastafaria penggemar reggae yang menjadi bodyguard Sykes. Pada saat itulah dua ekor hiu kakak beradik, Frankie dan Lenny, melihat Oscar dan berusaha memangsanya. Untung bagi Oscar, Lenny yang sangat perasa ternyata vegetarian. Dan Frankie sang karnivor sejati, mati beberapa detik sebelum rahangnya yang sudah terbuka lebar siap memangsa Oscar. Sebuah jangkar meluncur deras, menghantam kepala Frankie dengan telak.

Oscar yang cerdik berlagak seolah-olah dialah pembunuh Frankie ketika dua ubur-ubur pengawal Sykes kembali untuk melihatnya. Sejak itu, Oscar menjadi pahlawan dan mendapat gelar sebagai pembantai hiu. Ia menjadi selebriti baru yang selalu diliput televisi dan memasuki pergaulan jet set, sebelum menyadari bahwa Frankie dan Lenny adalah anak-anak Don Lino.

Dengan plot ala mob flick (film-film mafia—Red.) namun dikemas dengan teknologi CGI terbaru yang dikembangkan oleh Hewlett-Packard khusus untuk film ini, tak pelak Shark Tale adalah popcorn-tainment terdahsyat dalam sejarah film animasi panjang sejak Walt Disney memproduksi Snow White and Seven Dwarfs (1937) yang sukses membius penonton zaman itu.

Di Shark Tale, sekumpulan aktor-sineas berkualitas Oscar akhirnya "berenang di satu kolam" sekaligus. Ada Robert de Niro (penerima Oscar untuk Raging Bull, dan The Godfather, Part II), Renée Zellweger (Cold Mountain), Angelina Jolie (Girl, Interrupted), dan nomine penerima Oscar Will Smith (Ali) serta sutradara Martin Scorsese (Goodfellas, Gangs of New York). Belum lagi aktor veteran Peter Falk (sang detektif eksentrik di serial televisi Columbo) yang mengisi suara seekor hiu senior bernama Don Ira Feinberg.

Kedahsyatan animasi seperti ini sayangnya berwajah dua: menyenangkan dan mengerikan sekaligus. Menye-nangkan karena trio sutradara Jenson, Bergeron, dan Letterman tak terpaku pada gaya realis-perfeksionis seperti ditunjukkan Finding Nemo. Bergeron yang ahli animasi membuat tokoh-tokoh Shark Tale lebih karikatural, sehingga bila Anda jeli, akan bisa langsung menebak siapa-mengisi suara-karakter apa hanya dengan memperhatikan lebih detail "wajah-wajah" ikan itu. Adapun Jenson (sutradara Shrek) sangat piawai mengarahkan para aktor untuk menghidupkan "akting" komunitas ikan itu.

Sebaliknya, "invasi" Robert de Niro dkk ke ranah animasi ini menjadi mengerikan karena menutup peluang para dubber profesional yang sejatinya melatih kemampuan artikulasi dan intonasi suara mereka untuk menghidupkan beratus-ratus karakter animasi sejak zaman Walt Disney sampai Hanna-Barbera, dan membuat tokoh-tokoh re-kaan itu menghunjam di benak pemirsa ketimbang nama asli mereka sendiri.

Kalau sudah begini, apakah kita masih bisa yakin bahwa sebuah do-ngeng tetaplah sebuah dongeng? Selain isyarat matinya sebuah profesi?

Akmal Nasery Basral


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data