Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXIII/18 - 24 Oktober 2004
   
Olahraga

Bangkitnya Tim-Tim Anak Bawang

SEBETULNYA Azerbaijan bukan tim pertama yang ketiban keajaiban. Sebelumnya sudah ada Slovenia dan Latvia, yang pernah lolos ke putaran final Piala Dunia dan Eropa. Kroasia, salah satu tim dari negara terbelah lainnya, bahkan mampu menerobos semifinal Piala Dunia 1998.

Daftar itu belakangan diperpanjang dengan kehadiran tim seperti Lituania, Makedonia, Liechtenstein, hingga Andorra. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, mereka adalah lumbung gol bagi berbagai tim raksasa Eropa. Makedonia, misalnya, Sabtu dua pekan lalu memaksa raksasa Belanda bermain imbang 2-2. Negara yang pernah melahirkan penyerang tajam Darko Pancev itu bangkit dari ketertinggalan dua kali. "Serangan balik mereka mematikan kami," kata pelatih Belanda, Marco van Basten.

Tapi, empat hari kemudian, giliran mereka bertekuk lutut di kandang Andorra 0-1. Harap dicatat, Andorra adalah negara yang memiliki peringkat 147 FIFA. Bagi Andorra, inilah hari yang paling bersejarah. Inilah kemenangan pertama mereka dalam 31 penampilan internasional. "Kami bekerja keras untuk mendapatkan kemenangan monumental ini," kata pelatih Andorra, David Rodrigo. Sayang, kemenangan itu hanya disaksikan 200 penonton yang datang ke stadion.

Sejarah pula yang dicatat Liechtenstein saat bertandang ke kandang Luksemburg, Kamis pekan lalu. Mereka memetik kemenangan telak 4-0. Kemenangan ini merupakan yang pertama bagi Liechtenstein dalam keikutsertaan mereka pada babak kualifikasi Piala Dunia. "Ini hari yang bersejarah bagi Liechtenstein. Hasil imbang lawan Portugal memberi kekuatan mental bagi tim saya," kata Martin Andermatt, pelatih Liechtenstein.

Empat hari sebelumnya, Liechtenstein memang telah mengejutkan panggung sepak bola Eropa. Portugal, runner-up Piala Eropa 2004, sebuah tim bertabur bintang yang ditangani pelatih sehebat Luiz Felipe Scolari, mereka paksa bermain imbang 2-2. Jangan heran jika Scolari kecewa berat. "Saya tak mengerti kenapa kami main seperti itu. Kami melakukan banyak kesalahan yang tak pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Jangan-jangan peta sepak bola telah bergeser. Tim-tim kecil seperti Liechtenstein dan Makedonia tak bisa dianggap anak bawang atau lumbung gol lagi.

Zulfirman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data