Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 34/XXXIII/18 - 24 Oktober 2004
   
Laporan Utama

Sisi Barat di Istana Negara

Presiden Yudhoyono akan membentuk tim penasihat. Meniru West Wing ala Gedung Putih.

Kamar-kamar berusia 40 tahun itu kini berganti rupa. Bau apak sudah menghilang digantikan aroma cat baru. Kamar yang dulu kosong melompong, dalam dua pekan terakhir dilalui para pekerja bangunan yang hilir-mudik.

Terakhir, ruangan itu dipakai tamu-tamu Presiden Sukarno yang menginap. Setelah Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi presiden dan menetapkan akan tinggal Istana, gedung berlantai enam di sisi barat Istana Merdeka itu sibuk diresikkan.

Setelah 20 Oktober nanti, Susilo akan tinggal di Wisma Negara. Presiden akan menempati lantai tertinggi dalam bangunan bertingkat enam itu.

Lantai lainnya akan dipakai untuk pengawal dan protokol presiden. Suasana Wisma Negara diperkirakan juga akan lebih meriah karena sejumlah staf yang berfungsi sebagai penasihat presiden akan berkantor di salah satu lantai. "Strukturnya sudah ada, tinggal menajamkan peran dan fungsinya sebagai staf kepresidenan," kata Yudhoyono, Kamis pekan lalu, di rumah pribadinya di Cikeas, Bogor.

Yudhoyono menyebutkan, anggota tim ini di antaranya adalah juru bicara, pembuat konsep pidato, pembuat catatan, dan penasihat hukum. Mereka akan membantu presiden sepanjang hari sehingga presiden bisa mengambil keputusan secara tepat tanpa perlu tergopoh-gopoh. Presiden juga tak akan memberi komentar secara langsung kepada pers, kecuali melalui tim yang berkantor di sisi barat istana ini.

Keberadaan tim serupa ini di Amerika Serikat dikenal dengan sebutan West Wing. Sebutan ini diberikan karena mereka berkantor di sisi barat Gedung Putih di Washington.

West Wing tidak memiliki kekuasaan eksekutif karenanya wewenangnya tidak tumpang tindih dengan tugas para menteri. Mereka hanya memberikan informasi yang menjadi bahan pertimbangan presiden dalam mengambil keputusan. Tim ini bisa juga melakukan lobi ke Kongres (Senat dan DPR) jika presiden berniat meloloskan suatu rencana undang-undang.

Bentuk yang nyaris sama juga terdapat di Australia dengan nama Australian Productivity Commision di bawah ko-mando kantor Perdana Menteri. Komisi ini di antaranya bertugas memberikan saran prioritas isu yang harus diputuskan pimpinan negara.

Bagaimana bentuknya untuk pemerintahan Yudhoyono? Yang sudah terdengar adalah cerita Denny J.A., Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia non-aktif, Selasa pekan lalu. Menurut dia, dengan adanya lembaga ini presiden tidak hanya memiliki menteri kabinet yang membantu menjalankan seluruh program kerjanya, tetapi juga mempunyai sebuah tim yang dapat bekerja 24 jam.

Tim itu, masih menurut Denny, merupakan dapur bagi presiden untuk terus menyuplai data, informasi, dan nasihat. Mereka juga berperan melakukan evaluasi kinerja kabinet. Sementara itu, tugas kantor menteri koordinator lebih pada koordinasi, implementasi, dan administrasi kebijakan. Presiden juga akan melakukan efisiensi kinerja lewat pengembangan staf kepresiden, termasuk di dalamnya strukturisasi lembaga kepresidenan, Sekretariat Negara.

Denny menyebut kelompok staf penasihat ini Tim 11. Mereka terdiri dari Muhammad Lutfhi, Munawar Fuad Noeh, Joyo Winoto, Mayjen (Purn.) Djali Jusuf, Andi Mallarangeng, Dino Pati Djalal, Mayjen (Purn.) Irvan Edyson, Chatib Basrie, Kurdi Mustofa, Heru Lelono, dan Denny sendiri. Nama-nama tersebut selama ini dikenal sebagai orang-orang dekat Yudhoyono selama di Cikeas. Sebagian sebelumnya telah menjadi tim sukses Yudhoyono saat ia berjuang merebut menuju kursi presiden.

Pernyataan Denny ini membuat marah Yudhoyono. Gara-gara komentarnya yang prematur itu, kabarnya Denny "menghilang" dari peredaran. Sehari kemudian, Andi Mallarangeng mengoreksi per-nyataan Denny. Andi, yang belakangan berperan menjadi juru bicara presiden terpilih, meyakinkan bahwa Yudhoyono akan membentuk lembaga kepresiden itu tanpa merombak tatanan yang sudah ada.

Andi menerangkan bahwa presiden bukanlah perorangan, melainkan merupakan lembaga, sehingga harus didukung oleh lembaga kepresidenan secara maksimal. Kinerja presiden juga harus mendapat dukungan maksimal dalam mengemban tugasnya untuk mencapai tujuan pemerintahan lima tahun mendatang.

Namun, siapa saja dan berapa orang yang akan berada dalam tim ini, menurut Andi, belum ada yang tahu. "Jadi, enggak ada itu Tim 11 segala macam," kata Andi saat ditemui Tempo di Cikeas, Jumat pekan lalu. Dia juga menolak jika tugas tim itu nanti mengevaluasi kerja menteri. Hingga saat ini, Yudhoyono masih merumuskan posisi dan pembagian tugas dari sekretariat presiden agar mampu menjadi pendukung yang efektif bagi presiden. "Pada saatnya akan dibuat keputusan presiden yang mengatur," kata Andi.

Pernyataan senada disampaikan pengamat ekonomi yang kini juga sering tampak di Cikeas, Chatib Basrie. Belum jelasnya bentuk tim ini, menurut Chatib, karena Yudhoyono masih mempertimbangkan target yang ingin dicapai, termasuk belum ada kepastian apakah anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Dewan Keamanan Nasional (DKN) akan masuk tim tersebut. "Semuanya masih sangat cair," kata Chatib, yang menurut sumber lain akan masuk sebagai anggota DEN.

Menurut Adhie Massardi, orang yang pernah menjadi salah satu juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, bentuk West Wing bukan hal baru di Indonesia. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Sekretariat Negara telah menjalankan fungsi tersebut. Tugas itu berubah pada masa Presiden Wahid. Saat itu Wahid menempatkan fungsi penasihat pada DEN dan DKN. Ia juga dibantu tiga orang juru bicara.

Fungsi juru bicara, menurut Adhie sangat penting untuk saat ini. Di masa Orde Baru, kata Adhie, orang takut bicara sehingga juru bicara memang lebih efektif dipegang oleh satu orang saja. Sekarang juru bicara mestinya berbentuk tim, meski yang berbicara selayaknya hanya satu orang saja. Anggota tim lainnya bertugas memberi nasihat di belakang layar. "Jangan menonjolkan diri," kata Adhie.

Di masa Gus Dur, peran juru bicara itu terasa sangat penting karena presiden sering diserang DPR. "Makanya muncul kami bertiga," kata Adhie. Saat itu, juru bicara dipegang tiga serangkai: Adhie, Wimar Witoelar, dan Yahya C. Staquf.

Bentuk dan struktur tim West Wing ala Wisma Negara memang masih menunggu keputusan presiden, 20 oktober nanti. Sementara ini, cikal bakalnya masih dibicarakan di Selatan?kawasan Cikeas, tempat kediaman pribadi presiden baru.

Agung Rulianto, Cahyo Junaedy, Sapto Pradityo, Yophiandi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data