Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXIII/11 - 17 Oktober 2004
   
Surat

Surat Pembaca

Bantahan Badan Intelijen Negara

DALAM majalah Tempo edisi 4-10 Oktober 2004 dimuat sebuah berita di rubrik Peristiwa berjudul Kostrad zonder Panglima (halaman 21). Kami ingin meluruskan tulisan itu agar tak terjadi kesalahpahaman yang dapat merusak hubungan antarpejabat.

Dalam tulisan dinyatakan, menurut sumber Badan Intelijen Negara, pencopotan Bibit Waluyo disebabkan oleh persaingan internal di tubuh TNI. Permintaan perpanjangan masa dinas Bibit kepada Presiden Megawati dipotong atasannya.

Dapat kami jelaskan bahwa Badan Intelijen Negara tidak pernah membuat pernyataan tersebut.

Didy Kusumayadi, S.H., M.M.
atas nama Kepala Badan Intelijen Negara

— Mohon maaf jika tulisan tersebut membuat kesalahpahaman. Sumber kami berbicara dalam kapasitas pribadi.



Konsumen Philips Mengeluh

SAYA ingin mengemukakan pengalaman buruk menggunakan produk Philips agar bisa menjadi perhatian. Pada 13 Juni 2004, saya membeli seperangkat peralatan home theater TV 43 inci dan DVD player merek Philips seharga Rp 14,35 juta. Semua itu saya beli dari salah satu toko elektronik di Kota Sumenep. Tidak sampai dua bulan kemudian, remote control-nya tidak berfungsi lagi.

Keluhan lalu saya sampaikan ke toko tersebut untuk diteruskan ke Agis Service, yang merupakan pusat servis Philips di Sumenep. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas Agis, ternyata terjadi kerusakan sensor di bagian dalam pesawat televisi kami.

Seharusnya kerusakan sensor tersebut menjadi tanggung jawab Philips karena masa garansinya masih berlaku. Sudah satu bulan saya menyampaikan keluhan itu. Namun, setiap kali saya menanyakan ke Agis Service, petugasnya selalu mengatakan bahwa peranti sensor pengganti dari Philips di Jakarta belum datang.

Berapa lama lagikah saya harus menunggu pesawat televisi kami diperbaiki? Saya sekeluarga betul-betul kecewa dengan servis pascajual Philips.

Sunaryani Solichin
Bukit Cemara Tujuh F-15 DAU
Sumenep, Jawa Timur



Sanggahan Pinna Silaen

Melalui surat ini saya menyampaikan sanggahan atas pernyataan saya yang telah dikutip secara salah oleh wartawan Tempo di New York dalam berita berjudul Ketika Faridah Mampir di New York (Tempo edisi 4-10 Oktober 2004).

Saya telah diwawancarai per telepon oleh wartawan Tempo di New York pada 30 September 2004. Ia menanyakan asal muasal Faridah sampai ke tangan Kris Karto. Saya menjelaskan bahwa Fiora Houghtelling langsung berbicara dengan Kris Karto, yang saat itu sedang berada di Konsulat Jenderal RI di New York. Dia langsung mengatur pertemuan atau penjemputan dengan Faridah.

Tidak tahu-menahu saya bagaimana atau di mana pertemuan itu terjadi. Yang pasti, Faridah langsung dibawa ke rumah Kris Karto. Dengan demikian, saya tidak mengantarkan atau membawa Faridah ke rumah Kris Karto seperti yang telah ditulis Tempo.

Saya memahami hak (wartawan) Tempo untuk mencari dan menurunkan suatu berita, tapi sangat disesalkan mengapa pernyataan kami dipelintir 180 derajat sedemikian rupa sehingga merugikan nama baik dan kredibilitas kami.

Pinna Silaen
C/O Indonesian Consulate General
5 East 68th Street, New York, NY 10021

— Kami minta maaf atas kesalahan itu.



Tanggapan KJRI di New York

Baru-baru ini muncul berita di berbagai surat kabar di Tanah Air mengenai pernyataan Faridah yang mengaku telah berhubungan seksual dengan 41 orang Indonesia di New York. Dengan surat ini, kami dari Konsulat Jenderal RI di New York ingin menyampaikan penjelasan.

Kami membantah dengan tegas isu-isu yang menyebutkan bahwa diplomat dan staf KJRI terlibat hubungan seks dengan Faridah binti Abdullah Rahman, warga negara Indonesia asal Lombok yang bekerja di New York. Pengakuan tersebut tidak berdasarkan bukti yang kuat dan bahkan ada indikasi kuat pengakuan itu dilakukan di bawah intimidasi dan sandera.

Pernyataan yang dibuat oleh Faridah dengan sumpah, memakai nama Allah SWT, merupakan sesuatu yang patut dipertanyakan. Soalnya, sehari setelah mengucapkan sumpah tersebut di hadapan Ustad Syamsi Ali dari Islamic Center New York, ia menyatakan pindah agama menjadi Nasrani dan menanggalkan jilbabnya di hadapan tokoh agama Kristen di New York.

Adapun pernyataan Faridah yang dibuat di hadapan notaris di New York juga sesuatu yang sulit dapat diterima. Apalagi, dalam melegalisasi dokumen, pemohon hanya memberikan penjelasan ”ala kadarnya” tanpa diperiksa kebenaran isinya. Ini berbeda dengan yang dilakukan notaris di Indonesia. Selain itu, pemohon tidak diharuskan menyertakan terjemahan dokumen dalam bahasa Inggris. Padahal si notaris tidak mengerti bahasa Indonesia.

Dalam kasus ini, Faridah merupakan pihak yang dibebani mengajukan pembuktian (real evidence). Dengan demikian, asas pembuktian terbalik tidak dapat diterapkan. Jadi, apabila Faridah tidak dapat mengajukan bukti-bukti kuat, ia dapat diduga telah sengaja melakukan pencemaran nama baik. Belum lagi uang yang terkumpul sebesar US$ 200 ribu dari hasil ”melayani” 41 orang juga sulit diterima akal sehat.

Kami sudah melakukan pengecekan ulang kepada Detektif R. Terry (Precinct 108 NYPD) dan Detektif K. Demerest (Precinct 112 NYPD). Ternyata mereka tidak pernah menerima pengaduan dari Faridah mengenai kasus hubungan seksual antara dirinya dan 41 orang Indonesia di New York. Sementara itu, sampai saat ini, tidak ada anggota masyarakat Indonesia di New York yang dipanggil oleh pengadilan distrik New York. Dengan demikian, berita bahwa kasus ini sedang ditangani pengadilan distrik New York tidak benar.

Untuk memperoleh klarifikasi dari Faridah, KJRI telah mengirimkan tiga kali surat undangan kepadanya. Kami membuka kemungkinan bagi Faridah untuk datang kapan saja dengan didampingi pihak ketiga. Namun, sampai saat ini, ia selalu menolak dengan alasan yang tidak masuk akal, yaitu pengacaranya belum punya waktu.

Kami juga telah menawarkan reward kepada pihak yang dapat menghadirkan Faridah untuk dipertemukan dengan orang-orang yang dituduh telah berhubungan seksual dengannya. Tapi tawaran ini pun tak membuahkan hasil.

Iwansyah Wibisono
Kepala Penerangan
Konsulat Jenderal RI di New York



Kembalinya Politisi Lama

Kita kembali diberi tontonan dagelan politik dalam proses pemilihan pemimpin DPR dan DPD beberapa waktu lalu. Para wakil rakyat menampilkan sikap dan perilaku yang sangat memalukan. Ada yang hanya memakai kaus, ada yang tidur, ada yang berponsel-ria, dan ada pula yang teriak-teriak (dengan menjual slogan agama).

Mungkin ada baiknya, pada masa mendatang, semua calon anggota legislatif disaring lewat uji kelayakan dan kepatutan lebih dulu. Minimal semua diberi kursus kepribadian (etika) sehingga mereka benar-benar dapat menjadi panutan bagi rakyat yang diwakilinya.

Kini para politisi lama juga tampil lagi pada pucuk pimpinan DPR dan DPD. Kita memang tidak boleh apriori apalagi antipati kepada tokoh-tokoh dari Partai Golkar. Realitas politik memang masih menunjukkan adanya dukungan yang besar terhadap partai ini. Hanya, yang perlu dipertanyakan adalah tanggung jawab moral mereka. Soalnya, mereka telah ikut berperan serta dalam Orde Baru yang memerintah selama lebih dari 30 tahun.

Mungkin perlu ada survei atas persepsi rakyat terhadap penyelenggaraan pemilu selama pemerintahan Orde Baru. Jika mayoritas rakyat beranggapan bahwa pemilu saat itu tidak langsung, umum, bebas, rahasia, dan jujur-adil, ini pantas menjadi bahan introspeksi diri dari para politisi lama.

Mungkin akan lebih baik jika posisi para politisi lama di partai ataupun di lembaga perwakilan diserahkan kepada generasi yang lebih muda. Hanya ini yang bisa membuat mereka lepas dari beban kesalahan masa lalu.

Chairul Ihsan
Jalan Manunggal II/6
Bogor, Jawa Barat



Penutupan Tempat Maksiat

Pertengahan Oktober ini, kita akan memasuki bulan suci Ramadan 1425 H. Umat Islam akan melakukan ibadah puasa selama sebulan penuh. Orang-orang akan menghidupkan masjid, musala, kantor, rumah, dan tempat lain dengan aktivitas ibadah seperti salat tarawih, doa, zikir, dan tadarus Al-Quran.

Buat menghormati umat Islam yang sedang khusyuk menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan, saya menyodorkan saran. Semestinya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menutup tempat maksiat seperti panti pijat, kafe, klub malam, dan diskotek yang beroperasi di Jakarta. Tutup juga lokalisasi pelacuran dan perjudian ilegal yang beroperasi di Jakarta.

Dadan A.G.
Jalan Mampang Prapatan Raya 28
Jakarta Selatan 12790



Mandarin dan Cina

Majalah Tempo edisi khusus yang terbit pada pertengahan Agustus lalu membuat laporan panjang-lebar tentang kaum keturunan Tionghoa dari dulu sampai sekarang. Saya tidak mempersoalkan isinya, apalagi mengajukan kritik. Yang hendak saya sampaikan adalah penggunaan kata ”Mandarin”. Apa benar Mandarin identik dengan Cina?

Pada akhir 1975, saya ditugasi perusahaan untuk mengikuti pelatihan di Hotel Mandarin, Hong Kong. Di meja kamar tidur hotel, di antara tumpukan kertas, saya menemukan sebuah brosur terbitan hotel itu. Yang mengherankan, sepanjang yang masih saya ingat, saya baca, ”…. Mandarin is not necessarily Chinese. It means and/or implies that it actually is something like ’sophisticated’ or the like. So, it refers to a special group of people, and such groups may be found anywhere all over the world. The people under the group are said to be extraordinarily clever, smart/brainy, polite....”

Itulah yang saya ingat. Jadi, Mandarin mungkin tidak identik dengan Cina, tapi menunjuk kelompok masyarakat di mana saja yang luar biasa pintar, sopan, dan sebagainya. Brosur tersebut saya bawa pulang ke Jakarta, tapi dipinjam oleh seorang teman, terus, biasa, hilang.

Soeprijanto
Jalan Raya Ceger 7
Pondok Aren, Tangerang, Banten



Kesalahan Resep

Saya memiliki pengalaman yang mungkin berguna bagi pembaca. Pada 10 September lalu, saya menyerahkan resep dari Yayasan Pusri Medika kepada Apotek Kimia Farma di Radio Dalam, Jakarta Selatan. Dalam resep tersebut, disengaja atau tidak, untuk salah satu obat tertulis jumlahnya 60 butir. Namun yang saya terima 30 butir. Untuk dua obat lainnya, sama sekali tidak dicantumkan cara pemakaian secara terperinci seperti yang ditulis dokter, misalnya ”p.c.”, istilah untuk pemakaian ”sesudah” makan, dan ”a.c.”, untuk pemakaian ”sebelum” makan.

Bagi orang awam, tidak mudah membaca tulisan dokter pada resep. Apalagi jumlah obat selalu ditulis dalam angka Romawi. Ada baiknya pasien memberanikan diri menanyakan kepada dokter jumlah obat yang seharusnya diterima serta cara pemakaiannya. Sebab, kesalahan dalam membaca jumlah obat dan cara pemakaiannya, lebih-lebih jenis obat yang diberikan, dapat berakibat fatal bagi pasien.

Riana Aidil Juzar
Jalan Kencana Indah I/3
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan



Jalan Mulus Bermasalah

BULAN Oktober 2004 ini warga yang menggunakan Jalan Kerja Bakti di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, boleh bernapas lega baik yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jalan yang proses perbaikannya terkatung-katung hampir dua tahun itu, kini telah diaspal dan dilebarkan. Mudah-mudahan kualitasnya baik dan bertahan satu periode anggaran Pemerintah Daerah Jakarta Timur.

Namun, ada juga rasa kecewa kami terhadap pelebaran jalan itu karena tidak tuntas. Masalah ini menyangkut penggusuran pekarangan warga. pemda hanya mau menggusur 2 meter. Padahal, beberapa warga hanya memiliki lahan selebar 4 meter. Ada baiknya pemda membeli seluruh tanah tersebut. Sebab, tanah sisa 2 meter itu pun tidak mungkin dimanfaatkan sebagai rumah tinggal.

Sama juga halnya dengan jalan di sepanjang hutan kota. Meski sudah dilebarkan, jalan itu belum juga diaspal. Walhasil kemacetan tetap terjadi. Informasi yang saya peroleh, anggarannya belum cair. Di bulan September ini Jalan Kerja Bakti di ujung Lanud Halim Perdanakusumah hanya separuh yang diaspal. Mestinya jalan yang termasuk pelebaran itu juga diaspal. Ketika saya tanyakan kepada si pemborong, jalan itu tidak termasuk dalam proyeknya. Lalu, mengapa dilebarkan jika pada akhirnya dibengkalaikan begitu saja?

Kami berharap Bapak Wali Kota Jakarta Timur sudi melihat kondisi Jalan Kerja Bakti. Sebab jalan tersebut tergolong vital sebagai jalan alternatif warga Pondok Gede, Cilangkap, Cipayung, dan sekitarnya menuju pusat kota.

Sadar M.
Kelurahan Makasar
Jakarta Timur



Ralat

Dalam Tempo edisi 4-10 Oktober 2004, rubrik Peristiwa, ada kesalahan penulisan nama. Pada halaman 20, tertulis nama ”Heri Gulon” sebagai orang yang diduga kuat menjadi pelaku bom bunuh diri di Kedutaan Besar Australia. Seharusnya ”Heri Golun”.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data